BAGIKAN

Siapapun yang bertengkar, Cak Dikin sudah melangkah lebih dahulu dalam dunia per-fansub-an. Hidup dugem (dunia gemblong)!

Oleh Shin Muhammad

Sebagai seseorang yang mengamati lika-liku pergerakan fansub di Indonesia beberapa bulan belakangan ini, saya mengamati kecenderungan muncul banyak sekali grup fansub baru, bagai cendawan di musim hujan. Banyak yang konsisten merilis proyek mereka, ada yang tersendat-sendat, ada yang tidak jelas bagaimana kabarnya. Tetapi hal yang menarik (dan sangat disayangkan) muncul di sini: saling troll dan kualitas penerjemahan yang asal-asalan.

Sesungguhnya fenomena troll tidak asing lagi di dunia perfansuban. Kita masih ingat dengan kesuksesan grup CoalGuys yang merilis K-ON! (dan sekuelnya) dengan gaya bahasa yang (menurut sebagian penonton) kasar dan tidak sopan. Di sisi lain, ada sebuah grup fansub yang bahkan rela membayar sejumlah uang untuk menghambat rilis transport stream (mudah: berkas mentah) dari penyedia anime. Terlepas dari seberapa banyak yang menonton, saya kira dua hal ini salah kaprah (salah yang dianggap benar karena biasa dilakukan), dan harus dihapuskan.

Masalah baru muncul di belantika grup fansub di Republik Indonesia ini. Sebagian menerjemahkan dengan asal-asalan. Kentara adalah masalah teks yang tidak sesuai dengan EYD (ya, rilis KAORI Fansub sangat ketat untuk masalah EYD dalam teks). Kemudian, muncul sebagian pihak lain yang mengeluarkan rilis fansub tandingan dengan konten yang sama, tapi mengklaim kelebihan X, Y, dan Z dari grup yang ditandingi tersebut, bahkan mencuplik pula artikel dari weblog Rubrik Bahasa. Lalu, grup lain ikut campur dan mengutuk grup yang mengklaim dirinya lebih baik tersebut. Bila meminjam gaya penulisan judul di harian Lampu Hijau, hal ini diterjemahkan seperti ini, "Grup A ngerilis anime X, grup laen sewot, ngeluarin rilis tandingan | Grup X ngakunya lebih baik, eh balik dihajar sama grup C).

Tidak mudah menerjemahkan suatu karya. Masalah semantik, leksikal, gramatikal harus menjadi pertimbangan sehingga sebuah hasil terjemahan tetap taat mutlak kepada EYD, tapi tetap komunikatif dan membuat penonton senang menontonnya. Ragam bahasa lisan memang berbeda dengan ragam bahasa tulisan. Bukan perkara mudah untuk membuat ragam bahasa tulisan menjadi komunikatif seperti bentuk awalnya. Bila ada grup fansub yang mampu mencapai dua fungsi ini dengan baik, maka secara tidak langsung ia sudah menyumbang bagi kemajuan anime di Indonesia dan kemajuan masyarakat di Indonesia.

Pengkhianatan terhadap salah satu dari dua elemen ini saja (taat asas dan komunikatif) merupakan penyimpangan dan perendahan martabat. Ketika sebuah karya terjemahan menyimpang dari asas berbahasa Indonesia yang baik, ia tidak ada bedanya dengan orang alay yang sering dikutuk di luar sana karena menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baik dan benar. Singkat kata: menghina bahasa Indonesia. Penyimpangan terhadap fungsi komunikatif, berarti anda menghina penonton. Hei, ini bukan kelas bahasa Indonesia, yang mempelajarinya lebih sulit ketimbang bahasa asing negeri lain (kalau tidak, niscaya orang Indonesia tidak banyak yang cuap-cuap dan berkomentar di jejaring sosial dalam bahasa Inggris, karena ternyata lebih mudah menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, toh?)

Kembali ke masalah saling troll tadi. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu petinggi sebuah grup fansub di Indonesia, ketika ada anggotanya yang bersikukuh menerjemahkan anime Air dengan caranya sendiri. Ia mengatakan, buat apa mengerjakan hal yang sama dua kali, bukankah sumber daya itu lebih baik diefisienkan untuk mengerjakan anime yang lain. Hal ini masuk akal, karena sampai hari ini belum ada yang menerjemahkan anime Boku no Pico ke dalam bahasa Indonesia. Kita tidak memerlukan rilis karya yang bersaing-saingan antara satu grup dengan grup yang lain, sebagaimana euforia menerjemahkan K-ON!! yang dilakukan oleh tiga grup berbeda (Coalguys, Frostii, dan Chihiro). Lebih baik bekerja sama, bukan?

Kesimpulan teks ini (if you're too retard so you dare to comment "tl;dr" in this text) adalah bahwa sebaiknya grup fansub di Indonesia harus tetap bersatu, mengutamakan kualitas penerjemahan yang taat asas dan komunikatif, sembari menghindari konflik yang tidak perlu di antara mereka sendiri. Tidak perlu mengerjakan sebuah karya dua kali, kecuali (dengan batas yang dibolehkan) karya yang diterjemahkan sebelumnya telah melanggar dengan nyata salah satu dari dua prinsip penerjemahan tadi. Yang ditegur sebaiknya berlapang dada, dan yang menegur, lakukan hal itu dengan cara yang baik, tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak yang ditegur.

Mungkinkah karena banyak pengguna Internet di Indonesia yang sering berinteraksi di situs mancanegara, sehingga membawa salah kaprah kebiasaan mereka ke komunitas Internet di Indonesia? Hell, idc. (meskipun istilah idc ini pernah dipergunakan oleh presiden SBY saat dia dikritik oleh pihak lain, I don't care with my popularity).

17 KOMENTAR

  1. Setidaknya dengan terjadinya hal ini, ada sedikit perubahan di fansub indonesia. perubahan yang baik dan bisa memajukan fansub indonesia.

    • meskipun kalau saya bertanya mengenai motivasi mereka, hal ini menjadi kurang bermanfaat dan lebih condong mencari sensasi. Bila memang memiliki kepedulian yang baik, saya kira konsep mereka bisa diubah menjadi semacam “pemerhati dan pengkritik perkembangan fansub di Indonesia”, jadi tidak hanya terlihat menjegal saja di luar.

  2. -suasana ini memang sudah terjadi pada pertangahan tahun 2010, jujur saja pada awalnya saya tidak memperdulikan hal ini, saya hanya fokus memberikan yang terbaik pada grub saya dan penonton

    -tapi setelah membaca ini saya jadi ingin mengemukakan sedikit pendapat, karena menurt saya penulis artikel ini cukup berintelektual

    -paragraf 2 dan 3 sangat baik jika dibaca seksama, komentar saya fokus pada 2 paragraf tersebut

    -walau saya berkata demikian bukan berarti saya sependapat 100% dengan penulis

    -masalah baru memang muncul setelah fansub tanah air banyak bermunculan

    -ada-nya saling serang dan memang ada grup yang mengganggap grup fansub dialah yang terbaik, dengan kata lain memuji diri sendiri tanpa adanya cukup fakta atau lebih tepatnya tanpa ada pengakuan dari orang lain (hanya pengukuhan dari diri sendiri) sikap yang kekanak-kanakan dan tidak mau kalah

    -saran pertama saya kepada fansub atau yang akan membuat fansub indo, lakukan yang terbaik pada karya kalian, bersikaplah dewasa, saling membangun tidak perlu merasa tersaingi

    -saran kedua, ubalah pola berpikir “saya yang terbaik” menjadi “lakukan yang terbaik”

    -saran ketiga, konsistenlah pada hasil subbing kalian, jangan putus tengah jalan, jangan mengganggap subbing sebagai beban, rilis berlarut-larut, jika ada masalah real life tidak perlu dipaksakan, atur kehidupan dunia nyata dan maya dengan baik

    -terkahir, saya tetap mendukung kalian semua sebagai sesama fansuber Indonesia, keep fight

    • mungkin salah satu yang dapat saya sarankan bagi para pekerja di dunia fansub, mohon hargailah bahasa Indonesia dengan menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan sampai grup itu sendiri malah ikut andil dalam menjatuhkan kualitas bahasa Indonesia yang biasa kita pakai. Jadi walau menerjemahkan, aspek linguistik tetap harus diperhatikan 🙂

      • -ini bisa masuk ke saran ke 4
        -tapi saya tidak sepenuhnya setuju

        Pendapat saya yang tidak setuju dengan pernyataan di atas
        -pertama, translator melakukanya dengan sukarela jadi sebenarnya terserah mereka mau menggunakan bahasa apa (tapi ingat ada resiko-nya)

        -kedua, pandangan orang berbeda-beda

        sedangkan untuk sisi benar dari pendapat di atas
        -dalam bersosialisasi pandangan orang terhadap kamu bisa berkurang karena pemakaian tata bahasa kamu yang tidak formal (saya pernah merasakan ini, jadi saya bukan mau menyindir, hanya mau berbagi pengalaman jangan sampai ini terjadi pada kalian)

        dan tentunya saya bukan orang yang akan menilai orang lain dari tata bahsa atau gaya bicaranya

          • -karena itu saya bilang ada resikonya
            dan lagipula fansub saya memakai bahasa eyd
            dan saya rasa pembicaraan cukup sampai disini, jika dibaca oleh pihak yang merasa akan terjadi ketersinggunagan

            -saya tunggu artikel menarik kamu lainnya

  3. dan jika bisa, tolong shin kemukakan pendapat ini di forum yang bersangkutan, saya ingin melihat kalian berdebat, karena percuma jika ini tidak dibaca oleh yang bersangkutan

  4. Feels like there’s a reference about me in this writings.

    Personally, I don’t care much Oi! Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar!!!

    secara saya juga gak terlalu lincah ngomong cara londo

    Saya tidak terlalu mempermasalahkan rilis redudan dari beberapa grup yang mengerjakan satu seri bersamaan, toh, bukankah itu hal biasa dalam dunia fansub internasional?

    Saya berharap, dunia fansub Indonesia berkembang menjadi lebih semarak, lebih berkualitas, dan lebih maju. Misalnya, dengan bergabungnya para translator yang menguasai Bahasa Jepang (banyak translator Indonesia yang mampu berbahasa Jepang, namun mereka lebih suka mengerjakan rilis dalam Bahasa Inggris), atau migrasi dari cara unggah/unduh berbasis situs filesharing komersil (megaupload, mediafire) ke jaringan sukarela BitTorrent.

    Nb:
    Bicara soal EYD, tolong cek lagi kilas layar dari Invasi! Gadis Cumi-Cumi yang ada di artikel ini.

  5. Penerjemahan memiliki dua aliran, pertama adalah yang setia pada bahasa sumber dan kedua adalah yang setia pada bahasa tujuan. masalah yang terjadi dalam penerjemahan adalah ketika penerjemah menemui bahasa yang khas dalam bahasa sumber (misal dialek dalam bahasa jepang, atau tentang suatu benda yang tidak dikenal ditempat lain).

    dalam bahasa Jepang terdapat bahasa non-formal, formal merendah, formal meninggikan, bahasa lama, dialek, dll, yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia (mungkin ada dalam bahasa Jawa) dan bahasa Inggris. untuk menerjemahkan ini penerjemah mau tidak mau harus mencoba mengintepretasikan bahasa sumber kedalam bahasanya sehingga bisa dipahami orang yang membaca terjemahannya

    EYD kadang-kadang tidak menjadi penting dalam penerjemahan karena penerjemah harus mencoba setia pada bahasa sumber.

  6. well, memang banyak fansub yang pakai bahasanya sendiri, ya seenggaknya walau pake bahasanya sendiri gak musti pake bahasa kasar ya kan?
    fine, kalau itu hanya untuk konsumsi sendiri, tpi kalau untuk dipublish?
    haduh, terlalu banyak orang yang sikapnya kaya bocah SD…. *geleng-geleng*

  7. Aduh Sakit BInzar…
    Kamu INI KERJAAN GAK BERES_BERES

    MENDINGAN KAMU KESANA DAN MATI-in TUH NUCLEAR.

    JANGAN BAWA RADIASINYA KE INDO YAH!!!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.