Kali ini, saya tidak akan membahas epik "fansub Gundam 00" ataupun pro-kontra fansub di mata anda. Kali ini, benarkah dengan menonton anime tanpa sub, kemampuan bahasa anda akan meningkat?

Advertisement Inline

Saya ingat, beberapa hari lalu, Dimas bercerita mengenai pengalamannya menonton anime berfansub, yang menurutnya, meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemampuan menulisnya.

Termasuk, ekspresi "dame! shimata!", alih-alih "shit! OMG!", yang membikin Dimas (diper)malu(kan) di kelas Bahasa Inggrisnya.

Mungkin, memang benar, bahkan bagi saya sendiri, fansub mampu untuk meningkatkan kemampuan linguistik, terutama dalam membaca teks berbahasa Inggris. Dan, anime fansub membantu anda dalam listening (tapi tidak untuk memahami) audio berbahasa Jepang.

Sehingga, sebuah pendapat mengenai "bersama dengan fansub" pun dibahas oleh blog ini.

Pendapat yang, mungkin cukup rasis adalah "Anda bisa bermain sepakbola dengan menonton pertandingannya, begitu pula dengan menonton anime tanpa sub".

Memang betul, selalu ada kemungkinan dengan menonton, anda bisa melakukannya. Namun, ketika sudah berbicara kaidah linguistik, ini menjadi tidak berlaku.

Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia mengalami penyusutan ketika diterjemahkan ke Bahasa Jepang. Ini lebih dikarenakan, pembicara bahasa Jepang tidak biasa mengungkapkan seluruh artinya, sehingga ketika ucapan berbahasa Jepang tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dalam beberapa kesempatan, akan ada kata terjemahan yang tidak ada pasangan ekuivalennya dalam bahasa Jepang.

Hal ini menjadi terbalik, ketika berbicara hubungan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab. Bahasa Arab yang kaya akan berbagai macam makna, selalu akan mengalami ketidakakuratan ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Karena itu, dalam banyak kesempatan, untuk mengkaji tafsir Al-Quran, anda harus terlebih dahulu lancar menguasai bahasa Arab. Tidak bermain di ranah terjemahan lagi.

Jadi, benarkah menonton anime tanpa subtitle membuat anda lancar berbahasa Jepang?

Dalam hal ini, saya bisa menyamakannya dengan "Mungkinkah seseorang akan lancar dalam kalkulus dengan hanya melihat orang lain mengerjakannya?".

Nonsense? Mungkin, selalu ada pengecualian untuk setiap hal.

Oleh Shin Muhammad

4 KOMENTAR

  1. Mm… Hanya menonton pasif tentu tidak akan banyak membantu dalam peningkatan kemampuan berbahasa. Tetapi, tampaknya ada peningkatan (walaupun mungkin lambat) jika kita secara aktif berusaha mengingat suatu frase dalam bahasa Inggris (atau apapun bahasa subtitle dari tayangan anime yang kita tonton) dengan padanan Jepangnya. Ini sangat membantu untuk beberapa frase yang sulit ditemukan artinya di kamus Jepang standar (seperti frase “Cukup, aku tak bisa menerima alasanmu!”, atau kata “pewaris” – “onzoushi” (?) yang tidak pernah saya temukan kanjinya di Edict).

    Dan sudah seringkali terjadi, orang-orang menjadi cukup mahir berbahasa Jepang baik lisan maupun tulisan, hanya dengan modal jam terbang main VN.

  2. Saya termasuk orang yang senang belajar bahasa Jepang lewat media TV (baik anime maupun drama). Menurut pengalaman, sedikit memaksa indra pendengaran untuk memperhatikan kata-kata yang diucapkan, tanpa bantuan fansub, memang bisa membuat kita lebih mahir — dalam pengertian, punya “sense” kapan suatu kata layak diucapkan, atau sebaliknya.
    Anak saya yang belum bisa membaca pun, dari kecil sudah senang nonton anime karya Gibli seperti Tonari no Totoro, Kiki Delivery Service, Ponyo, Ariety, dll. Meskipun tidak tahu terjemahannya, dia bisa menebak dan malah sering mengucapkan komentar dalam bahasa Jepang.
    Tidak ada salahnya menantang diri sendiri menonton anime / dorama tanpa fansub. Anggap saja Anda ada di Jepang, yang tidak punya pilihan lain selain menonton tanpa terjemahan.

    Emiliana – Japanese interpreter / penulis buku : Konnichiwa! Mudahnya Bahasa Jepang.

    • Terima kasih sudah memberikan komentar.

      Memang kalau anak yang berumur sampai tujuh-delapan tahun, dia masih memiliki kemampuan alami untuk mempelajari sebuah bahasa sedekat dengan penutur aslinya. Kasusnya agak berbeda bila dengan orang dewasa, yang pasti akan melakukan penerjemahan terlebih dahulu ke bahasa ibu yang ia biasa tuturkan seberapapun mahirnya ia dalam sebuah bahasa asing, sadar maupun tidak sadar.

  3. AH NGACO!!! APA LU BISA BICARA BAHASA INDONESIA DULUAR NEGERI?!?

    BINZAR LEBIH BAIK KAMU MATI DISANA DARIPADA KAMU DISINI!!!

    JANGAN DI INDONESIA TENTUNYA!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.