Menciptakan dan Menyebarkan Teks Fansub Resmi Dinyatakan Ilegal

0
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Anda adalah anggota aktif dengan hobi menciptakan teks fansub? Bersiaplah menerima fakta pahit ini.

Dilansir Ars Technica, pengadilan negeri Amsterdam, Kerajaan Belanda memutuskan bahwa mendistribusikan teks fansub, walau hanya sekadar teksnya belaka tanpa berkas film tersebut, harus dilakukan dengan izin pemilik hak cipta. Melakukannya tanpa izin adalah pelanggaran hak cipta dengan sanksi pidana atau perdata tergantung lokasi seseorang.

Ranah fansub memang menjadi domain abu-abu. Walau pendistribusian berkas berhak cipta jelas merupakan peelanggaran hukum, kasus pendistribusian teks terjemahan tanpa berkas audiovisual-nya belum memiliki kejelasan hukum.

Kasus ini bermula saat sejumlah fansub di Belanda menghadapi tekanan dari asosiasi pemilik hak cipta (BREIN). Pada Februari 2016, sejumlah fansubber bergabung dalam perwakilan bernama Yayasan Fansub Bebas (SLOV) dan menggugat BREIN dengan dua tujuan. SLOV meminta kejelasan hukum apakah pemilik hak cipta berhak mengontrol tindakan membuat dan mendistribusikan teks terjemahan, dan apakah yang dilakukan BREIN masih berada dalam koridor hukum.

BREIN dalam keterangannya untuk Torrentfreak menjelaskan bahwa hal ini merupakan kemenangan bagi dunia industri. Mereka menganggap bagaimanapun niatnya, tindakan mereka adalah hal melanggar hukum.

“Ada sejumlah tim yang membuat rilisan, lalu menambahkan teks terjemahan secara ilegal untuk didistribusikan di pasar Belanda,” menurut direktur BREIN.

“Dengan keputusan ini, BREIN akan lebih mudah menjaga karya-karyanya dari para pembuat terjemah ilegal dan dari situs-situs yang mengumpulkan terjemahan ilegal dan menyimpan film dan acara TV dari sumber ilegal,” tutupnya.

Sebelumnya, kalangan akademisi telah mengkaji mengenai dampak fansub bagi perkembangan dunia anime. Edria Sandika mengkaji bahwa dalam komunitas tokusatsu, membuat teks terjemahan adalah bagian dari proses konsumsi dan dinamika fandom culture di kalangan penggemar tokusatsu. Sementara Antonia Levi menjelaskan bahwa fansub berperan besar dalam memasyarakatkan anime di Amerika Utara. Sean Leonard dan Teemu Mäntylä juga telah menganalisis fenomena fansub dari sudut pandang hukum.

Pada tahun 2008 sampai 2014, KAORI Nusantara memproduksi terjemahan anime dengan bahasa Indonesia. Tahun 2008, sangat sulit menemukan grup yang menerjemahkan anime ke dalam bahasa Indonesia, berbeda dengan saat ini di mana sangat mudah menemukan teks anime dengan terjemahan bahasa Indonesia. Terjemahan Indonesia dan grup fansub baru mulai marak pada tahun 2013 dan kini menjadi “the unsung hero” yang mampu menembus sekat internet dan menghadirkan anime (termasuk hentai) terkini dengan bahasa yang jauh lebih mudah dijangkau. Divisi fansub KAORI ditutup pada 14 September 2014.

Survei KAORI menemukan bahwa penggemar anime di Indonesia terbagi menjadi penikmat teks berbahasa Inggris dan teks berbahasa Indonesia, di mana masing-masing segmen memiliki prioritas yang berbeda dalam menentukan terjemahannya, mulai dari pemahaman bahasa Inggris sampai keakuratan teks terjemahan yang dipergunakan.

Belum jelas seperti apa kelanjutan kasus ini dan mungkin saja kasus ini berlanjut ke level Mahkamah Agung tingkat Eropa. Tetapi putusan pengadilan negeri Amsterdam menambah perspektif hukum lain dan dapat menjadi preseden bagi kasus-kasus hukum serupa di negara lainnya.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.