Ajang pacuan kuda Kikuka Sho 2026 telah diselenggarakan di Kyoto Racecourse, Fushimi-ku, Kyoto, Jepang pada hari Minggu, 25 Oktober 2026 yang lalu. Balapan yang menjadi bagian terakhir dari Triple Crown Jepang dimenangkan oleh kuda pacu milik Field Racing, Going To Sky. Kuda pacu tersebut menjadi penutup pemenang balapan Classic Triple Crown sekaligus mengubur mimpi Triple Crown milik Lovcen.
Panggung Kelayakan Lovcen Untuk Gelar Triple Crown
Kikuka Sho kali ini dimeriahkan 18 kuda pacu. Ujian pamungkas para kuda pacu di trek sepanjang 3.000 meter tersebut, merupakan panggung kelayakan bagi Lovcen dan Kohei Matsuyama untuk menulis buku sejarah pacuan kuda Jepang. 2 mahkota classic sudah ditangan, Satsuki Sho dan Japanese Derby. Tak ketinggalan hasil positif ia dapatkan setelah mengikuti trial race Kikuka Sho di balapan graded G2, di mana Kobe Shimbun Hai unggul tipis atas kuda pacu Altramuz

Namun langkah untuk menjadi pemenang Triple Crown tak akan mudah. Selain balapan G1 terpanjang kedua setelah Tenno Sho Spring, penantang Lovcen kali ini tak bisa dianggap remeh. Danon History (Christophe Lemaire) dan Going To Sky (Yutaka Take) jadi ancaman besar bagi Lovcen dan Kohei Matsuyama. Kedua joki memiliki rekor kemenangan yang sama di balapan ini, yaitu 5 kemenangan. Di antara 5 kemenangan tersebut, kemenangan bersama Deep Impact membuat nama Yutaka Take paling diingat saat memenangkan Triple Crown nya di tahun 2005, sedangkan Christophe Lemaire memenangkan 3 edisi terkahir balapan ini beruntun.

Tak ketinggalan Justin Chicago (Yusuke Hara) yang tak bisa dianggap remeh setelah mengejutkan lawannya di trial race untuk Kikuka Sho di balapan graded G2 St. Lite Kinen, bisa saja mencuri kemenangan dari 3 kuda unggulan.

Going To Sky Terbang Tinggi Mencuri Mimpi Triple Crown Lovcen
GOING TO SKY HAS WON THE KIKUKA SHO, THE FIRST CONTRAIL PROGENY TO WIN A G1! https://t.co/D2qKV9PBpL
— HighTierContrail (Fatetato) Pui and Groove enjoyer (@Tatotatoing) October 25, 2026
Balapan dimulai dengan Lovcen mendapatkan start yang tak bagus yang membuatnya tertinggal di belakang. Sementara itu di luar dugaan King Glory (Yuji Tannai) unggul dulu dengan strategi front runner -nya meninggalkan lawan-lawan nya cukup jauh, disusul Sea To Summit (Manabu Sakai) dan Narita Esperanza (Yuichi Kitamura) di posisi kedua dan ketiga.

Balapan berjalan stabil dan para kuda menjaga stamina di pertengahan balapan, Lovcen sendiri masih tertahan di barisan belakang sepanjang balapan. Memasuki sektor terakhir, jarak pimpinan King Glory perlahan berkurang dan memasuki lurusan menjelang finish, King Glory kehilangan posisi pimpinan. Pertarungan Going To Sky, Basse Terre (Yuga Kawada), dan Danon History berebut karangan bunga krisantium di 200 meter terkahir. Last spurt dilancarkan oleh masing-masing kuda dan Going To Sky berhasil menang tipis atas Basse Terre dengan jarak nose, sedangkan Danon History mengamankan posisi ketiga. Nasib kurang beruntung harus dialami oleh Lovcen dan Kohei Matsuyama yang finish di posisi ke-14, membuat mereka harus memendam ambisi Triple Crown dan joki pertama yang memenangkan Triple Crown dan Triple Tiara sepanjang karirnya.

Yutaka Take Sang Pemecah Ambisi Triple Crown
Semakin Tua, semakin menjadi-jadi memang performa Yutaka Take di umur nya yang mencapai 57 tahun. Dirinya menjadi joki tertua yang memenangkan balapan G1 JRA, setelah melakukannya tak lama di Takarazuka Kinen di bulan Juni lalu bersama Meisho Tabaru.

Fakta uniknya Yutaka Take sudah dua kali mengubur ambisi Triple Crown 2 kuda pacu tahun ini, yaitu Croix Du Nord dengan Autumn Triple Crown -nya serta Lovcen dengan Classic Triple Crown -nya. Sasuga John Keiba.

Sekali lagi selamat untuk Going To Sky dan Tim!
KAORI Newsline
















