BAGIKAN

Terus terang, saat saya mulai memberitakan anime di Indonesia, jawabannya adalah sulit! Sulit mengakomodasi segelintir masyarakat yang belum paham akan anime, dan segelintir otaku yang tertutup dari masyarakat.

Kepusingan ini menjadi-jadi, karena memasuki bulan Ramadhan, saya harus mencoba menyajikan konten yang menarik, menjaga netralitas, dan membawa konsep Islam agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat.

Dalam memberitakan anime di Indonesia, saya harus bergelut dengan banyak rintangan. Mulai dari KPI, kalangan konservatif, sampai bahkan dari kalangan otaku itu sendiri.

Kesulitan muncul ketika kasus teguran KPI pada Naruto dan Conan muncul. Dengan kegegabahan KPI, hal ini mulai membuka kesalahkaprahan masyarakat tentang anime yang sulit diluruskan. Anime yang sebelumnya sekedar diasosiasikan sebagai tayangan anak-anak, kini mendapat cap baru: penuh kekerasan dan tidak bermoral.

Celakanya, ia mendapat penguatan dari kalangan konservatif yang berusaha mengait-kaitkan hal ini dengan ayat Al Quran, yang dapat dengan mudah saya tangkis (silakan baca artikel Anime Melanggar Agama? di rubrik Editoliar), karena dalil yang tidak kuat, dan maudlu.

Walau demikian, mereka tak juga paham, sebaliknya malah membalas dengan jawaban kasar seperti “kalau sudah kecanduan, tahi ulat juga rasa cokelat”. (DetikIslam.com)
Hal ini semakin menambah kesulitan memberitakan anime di Indonesia.

Rintangan berikutnya adalah dari kalangan otaku. Segelintir orang menganggap minor para penggemar anime level awal, dan memaksa “junior” untuk mengikuti pola pikir “senior”. Sehingga, perpecahan ini pun menghambat anime di Indonesia untuk berkembang.

Saya pun seorang Islam, yang paham penafsiran asli suatu ayat yang sering digunakan untuk menyerang anime. Walau demikian, untuk mengurangi hal ini, saya pun mencoba menambahkan unsur islam pada beberapa artikel yang dimasukkan.

Maka, diharapkan hambatan yang tercipta dapat dihilangkan, dan anime dapat lebih diterima di Indonesia.

Namun, sampai kapan hal ini akan berlanjut? Wallahu alam, saya hanya dapat berikhtiar dan berniat.

Namun saya yakin, suatu saat masyarakat Indonesia dapat menerima anime sebagai asimilasi budaya Jepang dengan budaya lokal di Indonesia.

Shin Muhammad
Editor in Chief

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.