Ulasan Yuuki Yuuna wa Yuusha de Aru: Gelar Pahlawan, Tanggung Jawab, dan Makna Hidup.

0

Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Tapi apakah benar setiap pahlawan itu dapat diartikan demikian?. Apakah sebuah gelar pahlawan hanya dapat diartikan sebagai sebuah anugrah?. Dan apa yang sebenarnya didapat pahlawan sampai mereka rela mati untuk orang lain?. Apakah mereka hanya terpaksa melaksanakan tanggung jawab? atau punya sesuatu untuk dilindungi?. Bagi mereka, sebenarnya apa itu makna kehidupan? apa itu kebahagiaan? apa itu esensi keberadaan?

Yuuki Yuuna wa Yuusha de Aru sendiri telah menjadi hembusan angin segar yang tergolong cukup membawa perubahan untuk genre “gadis penyihir”. Ditambah dengan disinggungnya sedikit konsep Teologi yang membuat kesan cukup kelam untuk disajikan kepada penonton. Meskipun begitu, kita tidak langsung dihadapkan kepada situasi-situasi serius yang monoton. Melainkan kita juga diperlihatkan distraksi-distraksi yang merupakan komedi kehidupan sehari-hari, yang punya peran tersendiri dalam cerita. Belum lagi interaksi antar karakter yang digambarkan cukup apik, menjadi daya tarik yang tidak bisa dilewatkan. Pesan-pesan tersirat tentang “pahlawan” pun cukup kerap diperlihatkan.

Penonton juga diperlihatkan pandangan tentang kenyataan yang dialami para penyandang gelar pahlawan. Bukan sekedar dipandang lewat kisah berani dan perjuangannya, melainkan dipandang lewat sebuah kenyataan kalau keberadaan pahlawan itu sendiri juga berarti menjadi sebuah tumbal. Unsur-unsur humanisme pun ditampilkan lewat tindakan pemberontakan karakter terhadap sebuah takdir yang tak pernah mereka harapkan. Egoisme, kebencian, paranoid menjadi hal lumrah yang terjadi. Kita pun digiring untuk kembali berfikir seberapa besarnya arti dari pahlawan itu, seberapa sulitnya menyandang gelar itu, dan seberapa tersiksanya ketika menyandang gelar pahlawan.

©2014 Project 2H

Sementara itu, menurut Frankl (2004) makna hidup adalah sesuatu hal yang bersifat personal dan bisa berubah seiring perjalanan waktu maupun perubahan situasi dalam kehidupan. Individu seolah-olah ditanya apa makna dari hidupnya pada setiap waktu dan setiap situasi dan kemudian harus mampu mempertanggungjawabkannya. Teori ini merupakan sebuah refleksi tentang apa yang sebenarnya menjadi dasar tindakan setiap karakter. Entah itu bertindak mengorbankan diri, tidak sanggup bertarung, sampai keinginan untuk membunuh dewa yang telah memberi anugerah kepada mereka. Karena mereka merasa bertanggung jawab, maka bertindaklah mereka. Karena mereka pahlawan, maka berkorbanlah mereka.

Yūna Yūki adalah seorang gadis SMP yang tergabung dalam klub pahlawan disekolahnya. Bersama ke-4 temannya yaitu Mimori Tōgō, Fū Inubōzaki, Itsuki Inubōzaki. Mereka melakukan kegiatan sosial. Seperti melakukan kegiatan bersama anak TK, mencarikan kucing liar seorang majikan, dan menjadi tempat curhat untuk teman yang memiliki masalah. Namun nyatanya mereka adalah kandidat untuk mengemban anugrah dari dewa Shinju, untuk melawan entitas misterius yang disebut vertex.

Memasuki pertengahan episode, karakter baru bernama Karin Miyoshi tampil dengan lihai mengalahkan vertex seorang diri. Kedatangan Karin dimaksudkan untuk membantu dan mengawasi kinerja dari pahlawan lain. Kemunculan Karin sebagai pahlawan didikan Taisha (tokoh agama yang bisa berkomunikasi dengan dewa Shinju) merupakan hal menarik. Dikarenakan Karin adalah karakter yang kaku dan hanya hidup untuk menyelesaikan tugas. Karin merupakan sosok pahlawan yang bertarung karena merasa seluruh hidup manusia bergantung pada dirinya seorang. “Mereka tidak bisa, hanya aku yang bisa, hanya aku yang hebat, hanya aku satu-satunya harapan”. Karin sendiri merupakan contoh masyarakat golongan muda yang hanya mempercayai diri sendiri dan sulit untuk percaya terhadap orang lain.

Dalam berkembangan per episode, tiap-tiap karakter mendapat jatah yang cukup. Hal ini dapat dilihat pada Yūna yang selalu positif pun bisa mengalami perasaan gagal, Tōgō yang tegas bisa menjadi karakter yang paranoid, Fū yang biasanya tampil santai bisa menjadi pendendam, Itsuki yang malu-malu bisa menjadi pemberani, dan Karin yang kaku bisa lebih terbuka kepada orang lain. Perubahan karakter ini menunjukkan betapa besarnya efek dari menanggung tanggung jawab dan menghargai makna hidup.

©2014 Project 2H

Memasuki pertengahan menuju akhir, mereka dihadapkan pada kenyataan lain. Ketika mereka berfikir telah menghabisi seluruh musuhnya, namun nyatanya mereka harus terus bertarung. Tidak ada istirahat untuk pahlawan, seakan dewa berpesan seperti itu pada mereka. Meskipun harus kehilangan penglihatan, meskipun harus kehilangan alat gerak, mereka tetap harus bertarung. Atau lebih tepatnya, mereka dipaksa bertarung.

©2014 Project 2H

Namun esensi menjadi pahlawan bukan sekedar mengutuk nasib dan melampiaskan kebencian pada musuh. Karena menjadi pahlawan berarti harus sepenuh tenaga mendukung orang lain. Meskipun dianggap remeh orang lain, pahlawan akan membalas dengan senyum. Meskipun orang lain berkata tindakan pahlawan tidak ada gunanya, pahlawan akan terus berusaha. Meskipun harus disakiti terus menerus, pahlawan tidak akan menyerah. Meskipun pahlawan harus sendiri dan tidak ada yang tau kalau dia bertarung, pahlawan masih terus berjuang. Karena selama pahlawan masih belum menyerah dan terus bertarung maka masih ada harapan, tidak peduli seberapa banyak dia kehilangan hal penting. Pahlawan masih akan berjuang demi kita.

©2014 Project 2H

Dan pada akhirnya Yuuki Yuuna wa Yuusha de Aru adalah seri yang bisa kita jadikan refleksi dan motivasi untuk hidup jadi lebih berguna. Meskipun kita tidak mengemban gelar pahlawan, setidaknya kita masih terus meneruskan semangat yang dimiliki pahlawan. Entah itu untuk mengembangkan lingkar hobi atau untuk meneliti pembangkit energi baru. Mari maknai hidup kita dan laksanakan tanggung jawab kita dengan lebih baik lagi.

KAORI Newsline | Oleh Riezal Guntara

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.