BAGIKAN

Pernahkah melihat spanduk poster film dari selembar kain yang terpampang di depan bioskop? Andreanus Gunawan, 61, adalah salah seorang penggambarnya. Ayah dua anak itu sempat mengalami masa kejayaan pada 1970-an ketika Surabaya hanya punya dia sebagai satu-satunya pembuat poster film.

Andre tertarik menggambar mulai SMP. Awalnya, dia meniru gambar bioskop di koran berukuran 6 x 6 cm. Andre membuat ulang di kertas gambar dengan bantuan kuas serta tinta hitam. ’’Zaman sekarang sangat enak. Ragam pensilnya banyak. Untuk pointilis (teknik lukisan yang terbentuk dari titik-titik kecil), tinggal pilih ukuran. Kalau dulu, kudu telaten dengan kuas dan tinta,’’ ungkapnya.

Kehidupan Andre memang tidak bisa dipisahkan dari film. Zaman dulu, dia dan keluarga tinggal di daerah Pandegiling. Jarak dua rumah dari rumahnya, ada Bioskop Darmo yang hingga kini gedungnya masih ada, namun mangkrak. Dia bercerita, dulu ketika SMA, dirinya sering main ke sana dan nonton gratis. Sebab, temannya berjaga di bagian tiket. ’’Lama-kelamaan, saya sungkan sama teman. Jadi, saya balas budi. Saya berinisiatif membantu bikin iklan dan pengumuman sebelum film diputar,’’ ungkapnya, sebagaimana dilansir dari Jawa Pos.

Advertisement Inline

Sepulang sekolah, Andre langsung datang ke Bioskop Darmo dan membantu membuat slide. Bahannya adalah kaca. Andre memindahkan gambar yang biasanya di kertas ke sebuah kaca. Saat promosi, slide itu diletakkan di mesin proyektor. Materinya bermacam-macam. Ada pengumuman film baru, film yang sedang tayang, atau imbauan tata krama ketika film diputar. ’’Itu merupakan awal saya sebelum beranjak ke poster film di media massa,’’ kenang ayah 2 anak ini.

Waktu berjalan, Andre mulai membuat gambar poster film dalam slide pada 1970 hingga 1972. Pada tahun selanjutnya, dia tertarik pada poster film dalam bentuk spanduk. Dibantu teman dari Jakarta yang memang andal bikin spanduk, dia pun memulai usahanya. Gambar versi spanduk itu juga menjadi gambar iklan jadwal bioskop di koran. ’’Bioskop di Surabaya sangat banyak. Untungnya, usaha ini bisa berjalan lancar,’’ ujarnya.

Kolektor mug itu ingat betul gambar film pertama yang dibuatnya dalam versi spanduk. Yaitu, Hongkong Impetuous Fire yang dibintangi Jenny Hu, Teng Kuang Yung, dan Chen Kuan Thai. Gambar itu dimuat di koran dalam ukuran 5 x 2,4 cm. Andre membuatnya di kain blacu yang dilapisi cat sebelum disketsa, kemudian baru digambar dengan warna hitam dan putih. ’’Itu karya pertama saya dan menurut saya masih banyak kesalahan,’’ ungkap alumnus SMA Katolik St Louis itu.

Andre bercerita, gambar spanduk karyanya kerap menghiasi bioskop-bioskop di Surabaya. Misalnya, Bioskop Arjuna serta President di Jalan Embong Malang yang kini menjadi UFO dan gedung di sebelahnya yang tidak lagi difungsikan. Tidak jarang pula gambar itu dipampang di Bioskop Mitra, Bioskop Indra, dan Bioskop Wijaya yang kini menjadi BG Junction.

Andre mampu bercerita secara runtut karena terbantu dokumentasi yang selalu dilakukannya setelah karyanya dimuat di koran atau spanduknya terpampang. Dia pernah membuat spanduk film The Good, The Bad, and The Ugly yang dibintangi Clint Eastwood serta film Indonesia seperti Gatutkatja dari India dan Seriti Emas.

’’Era 70-an itu, kebanyakan bioskop menayangkan film Hongkong dan Italia. Saya sampai hafal sutradara, aktor, dan aktrisnya. Dihitung-hitung, saya bikin spanduk poster sekitar 32 tahun,’’ ungkapnya.

Untuk menambah penghasilan, Andre tidak hanya melirik spanduk film, tetapi juga spanduk pemkot pada Hari Pahlawan dan 17 Agustus. Dia pun mengabadikan spanduk ucapan tersebut. ’’Dokumentasi itu membantu kita mengenang masa lalu,’’ ujarnya, lantas tersenyum.

Kejayaan spanduk film telah berakhir. Andre bercerita, zaman itu dimulai ketika compact disc beredar di pasaran sekitar 2000. Hal tersebut membuat film lebih mudah dinikmati. Jumlah penonton ke bioskop merosot drastis. ’’Iya, apalagi pas persewaan CD film ramai dan mereka memilih nonton film di rumah bersama keluarga atau teman,’’ ujar Andre.

Kondisi tersebut tentu memengaruhi pesanan spanduk film. Akhirnya, workshop Andre di daerah Petemon tutup. Dia sempat pindah ke daerah CitraLand, tetapi juga tutup setelah beberapa saat. Andre kini bekerja sebagai desainer interior acara-acara pameran.

Namun, hobinya menggambar masih tersalur. Pada 2010, dia mulai melenturkan jari dengan membuat sketsa. Andre yang familier dengan cat dan lukisan merasa kurang di dunia sketsa. Namun, dia tertantang untuk terus menekuninya. Banyak teman yang mendukung karena menyayangkan kemampuan menggambar Andre yang tidak lagi digunakan.

Pelan tetapi pasti, dia mulai menggeluti dunia gambar lagi. Dia biasa menggambar saat pagi dan siang. Bekerja di taman belakang rumahnya dengan sinar matahari, dia melukiskan imajinasinya. Andre tidak pernah menggambar di dalam kamar. Menurut dia, cahaya lampu masih kalah oleh sinar matahari. Dia pun belum mempunyai meja gambar yang pas. ’’Begitu sore, saya selesaikan sesi menggambar hari itu,’’ ujarnya.

Dalam waktu enam tahun terakhir ini, total lebih dari seribu sketsa dihasilkan Andre. Dia pun menyimpannya di album dengan sisipan plastik. Model gambar yang dibuat bermacam-macam. Kebanyakan adalah fantasi.

Untuk mempertahankan eksistensi, Andre tertarik membuat komik. Semua ide cerita sekaligus gambar murni berasal dari dirinya seorang. Selama sebulan, Andre berkutat dengan gambar sketsa, scan, dan cetak. Akhirnya, tahun 2015 lalu, komik indie pertamanya yang bertajuk Duel dirilis. Andre ingin gambar-gambarnya tetap bisa dinikmati khalayak.

Mari intip beberapa karyanya pada akun Devianart miliknya.

KAORI Newsline | Courtesy of Jawa Pos

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.