BAGIKAN

hellofest-kaori-stand-membangkitkanharapan-48-mh48-eeed34ca

Saya masih ingat betul saat tiga tahun lalu, banner pertama dalam sejarah KAORI dibuka di Hellofest. Itulah awal saya mengenal Hellofest: cosplay menjadi murid SMA, mendatangi Balai Kartini, dan masih malu-malu sehingga separuh sembunyi saat membentangkan banner KAORI.

Lompat ke hari ini, kereta ekspres yang begitu indah dan mendebarkan itu pun akhirnya tiba: pada saat terakhir, KAORI mendapatkan kesempatan pertama untuk bermitra dengan Hellofest.

Advertisement Inline

Acara dengan subjudul “acara pop tergokil se-Indonesia raya” ini memang penuh kekurangan dan kelemahan di sana-sini, akan tetapi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Memang antri minyak tanahnya sudah benar-benar kelas nasional, tidak kalah epik dari acara dengan tarif empat kali lebih mahal dari Hellofest ini. Memang banyak sampah yang bertebaran di mana-mana. Tapi Wahyu Aditya sang PO jujur mengakui hal itu. Tidak malu atau menutup-nutupi, tidak malu pula mengatakan kalau memang panitia tidak berpengalaman dalam menyelenggarakan acara outdoor.

Kemampuan untuk mengakui secara apa adanya ini-lah yang saya kira tidak semua orang memiliki. Kalau soal buah bibir dan berisik-berisik di luar, biarlah, yang penting panitia harus mencegah hal serupa terulang lagi pada perhelatan tahun berikutnya! Kejelekan dan cocokologi takkan habis diumbar dan akan sangat menarik untuk digoreng, itu sudah hukum alam!

Bukankah dahulu Windows Vista itu juga dicela-cela oleh orang pada awal peluncurannya, dan setelah Windows 7 yang intinya pemolesan besar-besaran dengan esensi mirip dengan Windows Vista meluncur, justru orang sekarang mencintai Windows 7?

Pada umur 33 tahun, sang Wahyu Aditya yang saya temui di hari Sabtu malam masih sempat melayani KAORI yang “siapalah kami ini” untuk berdiskusi dengan ramah. Saat melayani pertanyaan dari KAORI dalam sesi wawancara Minggu sore (yang akan rilis di Kabar Anime Indonesia), ia pun bersemangat menyebutkan ambisinya: mengalahkan Comic Market di Jepang dan Comic Con di San Diego, Amerika itu (bukan di Karawang).

Perjuangannya tidak mudah. Akan banyak bising-bising yang sangat menarik untuk digoreng oleh lawannya. Maka saya hanya berharap dia melakukan hal yang sama: kerja kerja kerja yang nyata.

Saya pun menyempatkan diri untuk blusukan ke beberapa stan industri kreatif lokal Indonesia. Antusiasmenya bagus (sekali lagi nantikan Kabar Anime Indonesia) yang mungkin para pengguna KAORI pun belum terlalu tahu siapa mereka.

Rata-rata komentar mereka sama: industri kreatif Indonesia yang mulai bertumbuh, tidak akan bisa berkembang jika masyarakat tidak mau pula untuk move on, bergerak mendukung produk lokal mereka.

Dr. Vee sendiri mengakui bahwa dalam lima tahun, kualitas industri lokal kita berkembang lebih cepat dari Jepang yang mengejar Amerika selama 20-30 tahun. Saya berpikir, kalau kecepatan seperti ini dipertahankan, dalam lima tahun ke depan move on itu akan semakin nyata dan hasilnya akan mulai bisa dipetik.

Seperti Battle of Surabaya yang sudah gencar pula berpromosi dan bersiap rilis 2014 mendatang. Atau komik re:ON dengan antusiasme tinggi meskipun baru terbit tiga volume.

Kalau orang-orang Jepang begitu gila dan antusias menunggu indahnya Madoka diputar di bioskop-bioskop lokal di sana, saya berharap Battle of Surabaya bisa menjadi film pertama yang merasakan histeria ini. Tidak hanya sekadar putar di bioskop lalu hilang tak melekat di kepala (berarti ada sunnatullah yang dilanggar di sini).

Lalu bagaimana dengan KAORI? Saya kira KAORI akan terus berkembang dengan baik. Keberadaannya di Hellofest setelah tiga tahun lalu saya mengarak banner tentu saja, pasti, pasti dikomentari miring oleh segelintir orang. Termasuk oleh teman dan mantan teman sendiri.

H-4 sebelum Hellofest, thread “Stand di Hellofest” begitu kacau, begitu galau. Twitter dan Facebook KAORI begitu kelimpungan karena kesibukan masing-masing, sampai ditegur pula oleh panitia Hellofest karena KAORI jarang promosi di Facebook. Sakit melilit!

Saya cepat mengadakan rapat dengan R10 dan Vizzie dan tercetuslah ide jualan poster yang brilian itu. Tanpa ragu, esoknya kami langsung blusukan tanpa ekspetasi poster yang ternyata laris bagaikan kacang goreng itu.

Untungnya teman-teman KAORI lain pun bergerak cepat dengan meliput siaran pers hari Jumat siang yang tidak mungkin saya datangi. Jumat malam, tanpa diminta “geng Tangerang” seperti Saritem, Kyun, dan Alvin KW sudah menyiapkan barang di stan. Sangat terbantu!

Begitu pula di hari Sabtu dan Minggu. Stan yang sumpek dan panas itu sebenarnya kekurangan orang, namun inisiatif teman-teman yang tanpa dikomando mau menggantikan tugas masing-masing membuat semua tetap terkendali. Dibantu pula rekan dari Royal Genso yang sudah membantu banyak sekali (tanpamu, KAORI keteteran!). Rurei pun ikut membantu meski datang jauh dari Bandung, padahal saya saja ingin duduk manis di depan panggung melihat berbagai penampilan menarik.

Kesuksesan KAORI di Hellofest ini begitu spesial dan saya ingin semua pengguna KAORI merasakannya: donasi bulan November tidak akan dipungut dan akan dibiayai sepenuhnya dari kas internal KAORI. Sisa uangnya akan dipakai dengan bijak untuk membiayai Forum Anime Indonesia dan proyek lain yang menghasilkan uang, sehingga KAORI ke depan akan benar-benar mampu membiayai dirinya sendiri.

Bila KAORI sudah semakin besar, saya pun ingin teman-teman calon wirausahawan di KAORI yang sekarang masih kekurangan modal, agar nanti bisa dibantu oleh KAORI. Minimal dibantu untuk berjualan (numpang di stan KAORI misalnya), syukur-syukur dibantu permodalan pula. Syukur pula kalau hasilnya bisa dipakai untuk membeli Nikon D7000.

Kereta ekspres yang begitu indah ini masih belum akan berakhir. Masih banyak acara-acara besar lain yang akan menanti KAORI. Itu berarti peluang besar. Itu berarti harus disikapi dengan kerja nyata.

Shin Muhammad
Administrator KAORI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.