BAGIKAN

Beberapa waktu yang lalu, salah satu kontributor KAORI Nusantara berkesempatan melakukan wawancara dengan para staf Japan Culture Daisuki. Japan Culture Daisuki sendiri merupakan salah satu Event Organizer (EO) acara jejepangan yang berbasis di kota Malang. Sebagai EO, Japan Culture Daisuki dikenal telah sukses menggelar berbagai acara jejepangan besar di Jawa Timur, termasuk diantaranya adalah Dasuki Japan! Wonderpop Matsuri 2016 yang mendatangkan penyanyi anisong Mika Kobayashi sebagai bintang tamu. Simak cerita mereka tentang sulitnya menyelenggarakan acara jejepangan di daerah, tanggapan mereka tentang drama yang rutin muncul di acara jejepangan, hingga diskusi tentang proyek mereka selanjutnya.

Gela, salah satu staf Japan Culture Daisuki

Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk KAORI Nusantara. Pertama-tama, mungkin bisa dijelaskan ke pembaca KAORI Japan Culture Daisuki (JCD) itu apa dan bagaimana lingkup kerjanya?

Japan Culture Daisuki itu EO. Sesuai namanya, kerjaan kami bikin event jejepangan. Kadang bantuin relasi juga, bikin event jejepangan juga. Sudah terlanjur jatuh cinta di dunia perwibuan ini, yah meski toxic dan dramanya juga banyak. Hehe.

Sebagai sebuah EO, apa kesulitan menyelenggarakan event jejepangan di Malang saat ini?

Jujur aja, Malang bukan kota seperti Jakarta atau Surabaya. Kesulitan utama itu menarik sponsor untuk memberikan support di event yang nggak diadakan di kota besar. Susah banget sumpah. Blakblakan nih ya. Sepanjang sejarah, support sponsor yang pernah kami dapat hanya meng-cover 5% dari keseluruhan pengeluaran. Sisanya? Coba tebak deh.

Ada kabar bahwa semakin tahun animo event Jejepangan terus menurun, namun biaya dan ekspektasi penonton terus bertambah. benarkah demikian?

Bukan kabar kalau itu mah, fakta. Hehe, sudah pasti lah pengunjung minta yang lebih bagus dari yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Seiring dengan naiknya ekspektasi, kesadaran pengunjung untuk “memberikan lebih untuk mendapat lebih” jauh lebih meningkat. Pengunjung sekarang ini jauh lebih teredukasi dan pandai daripada waktu dulu kami merintis event dengan harga tiket yang lumayan mahal. Ini nih, dulu pas kita undang Mika Kobayashi, harga tiketnya yang 75 ribu itu dibilang “mending buat beli mi ayam di kantin” atau “bisa buat beli pecel satu pick up”. Kalau sekarang kita rilis harga, sudah banyak komentar seperti “Dapet voucher banyak dan guest star-nya yahud, tiket masih murah lah segitu”. Pas ada komentar begitu, terharu sumpah. Eh maaf jadi curcol kan.

Penampilan Mika Kobayashi pada Daisuki Japan! Wonderpop Matsuri 2016

Ada banyak event jejepangan yang pernah diselenggarakan namun beberapa diantaranya tidak berlanjut. Bahkan penyelenggaraan AFAID tahun ini dapat dikatakan menjadi yang terakhir. Bagaimana JCD bisa tetap konsisten menyelenggarakan event jejepangan selama 6 tahun?

Wah itu. Pas AFAID rilis hal seperti itu, sempat ingin salto saya. Event segede AFAID aja bisa begitu, apa kabar event saya yang nggak ada seujung kuku AFAID, sedangkan kiblat kami selama ini itu AFA. Mungkin teman-teman muak dengar jawaban cliché ini. Tapi sampai sekarang kami tetap konsisten karena passion. Tapi, nggak ada yang tahu juga kan kapan event kami mencapai event terakhir juga. Bisa tahun depan, bisa tahun selanjutnya. Mohon support-nya terus ya biar kami bisa terus mengukir senyum kalian. Hehe.

Kemeriahan panggung acara Daisuki Japan 2018
Event gathering komunitas Utsuru 2018 yang dipadati pengunjung

Banyak yang mengatakan acara jejepangan tidak dapat dipisahkan dari drama. Bagaimana cara teman-teman JCD agar hal tersebut dapat dihindari?

Drama nggak bisa dihindari kayaknya. Karena semua orang punya sudut pandang yang berbeda dengan kita. Misal nih ya, secara manajemen dan pelaksanaan event, perencanaan kami sudah tereksekusi dengan baik sampai 98%. Sudah mendekati sempurna kan? Tapi dari sudut pandang orang lain pasti ada kekurangan. Makanya, setiap after event, kami selalu bikin angket kepuasan pengunjung, biar unek-uneknya sampai ke tangan yang tepat untuk diperbaiki di event selanjutnya. Daripada jadi drama media sosial iya kan? Ya kalau kita pas liat, kalau enggak kan rugi dongkol sendiri. Tentunya kami selalu berusaha memberikan yang terbaik buat pengunjung.

Wawancara Japan Culture Daisuki berlanjut di halaman kedua

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.