Ulasan Film: Parasyte Part 1

84

parasyte

Satu lagi film layar lebar asal Jepang mewarnai bioskop dalam negeri Indonesia. Kali ini, pihak Encore Films bekerjasama dengan Moxienotion mempersembahkan film live-action Parasyte (Kiseijuu dalam bahasa Jepangnya) yang diadaptasi dari seri manga berjudul sama karya Hitoshi Iwaaki. Film live-action yang baru ditayangkan ini merupakan bagian pertama dari kisah Parasyte yang akan diadaptasi menjadi dua film live-action.

Advertisement Inline

Sinopsis

“Jika separuh dari populasi umat manusia musnah, akankah itu dapat mengurangi separuh rusaknya alam? Jika 99% populasi umat manusia musnah, akankah 99% polusi di muka bumi berkurang?”

Parasyte mengisahkan mengenai kedatangan sekelompok makhluk asing berukuran kecil ke Bumi. Dalam perjalanannya, makhluk ini menginfeksi bagian sistem otak manusia untuk mengendalikan manusia tersebut. Manusia yang sudah terinfeksi oleh makhluk parasit ini akan berubah bentuk menjadi makhluk mengerikan pemakan manusia.

Salah satu makhluk asing tersebut sampai ke rumah seorang murid SMA biasa, Shinichi Izumi (diperankan oleh Shouta Sometani). Karena tengah mengenakan earphone, makhluk ini pun tidak bisa masuk langsung ke otak Shinichi, namun ia masuk melalui hidung. Merasa ada yang aneh Shinichi pun melakukan perlawanan terhadap makhluk yang mencoba untuk menguasai otaknya tersebut. Perlawanan Shinichi tersebut mengakibatkan sang parasit hanya hinggap di tangan kanan Shinichi.

Keesokan harinya, Shinichi mulai merasakan ada yang aneh dengan tanan kanannya. Tidak lama kemudian tangan kanannya berubah wujud menjadi sebuah makhluk aneh yang menamakan dirinya sebagai Migi (diperankan oleh Sadao Abe). Migi yang berasal dari luar Bumi pun meminta Shinichi untuk membantunya mengumpulkan informasi terkait kehidupan di Bumi.

Di sisi lain, beredar sebuah rumor mengenai pembunuhan misterius dimana sang mayat ditemukan dalam kondisi tanpa kepala. Migi pun menyadari bahwa pembunuhan misterius ini dilakukan oleh para manusia yang sudah berada dibawah pengaruh parasit, dimana parasit membunuh seorang manusia untuk dimakan. Maraknya pembunuhan tersebut dan semakin bertambahnya jumlah manusia yang terinfeksi parasit merupakan upaya dari makhluk sejenis Migi yang hendak menguasai Bumi. Sebuah organisasi rahasia yang terdiri dari para manusia yang sudah terinfeksi parasit pun mulai menebar ancaman untuk menguasai Bumi. Namun Migi yang harus berbagi tubuh dengan Shinichi harus berhadapan dengan parasit lain yang hendak menguasai seluruh umat manusia.

Cerita yang Mudah Dicerna

Film live-action yang diadaptasi dari seri manga dan anime yang berjudul sama tersebut menyajikan kisah seperti yang ada pada manga dan anime nya. Untuk film kali ini, kisah yang diadaptasi adalah kisah yang ada pada cour pertama seri animenya yang sudah ditayangkan sejak bulan Oktober hingga Desember lalu.

Meski mengambil kisah sepanjang 13 episode seri anime yang dikemas dalam satu film, namun alur cerita dalam film ini tidak disajikan dengan pemadatan yang terlalu signifikan. Alur cerita yang berjalan dalam film live-action ini cukup nyaman untuk dicerna karena tidak terlalu dipadatkan.

Selain alur yang tidak terlalu dipadatkan, pengenalan karakter yang ada dalam film ini disampaikan dengan cukup jelas. Sehingga bagi anda yang tidak mengikuti seri manga maupun animenya masih tetap dapat menikmati film live-action ini.

Penuh Aksi Berdarah

Adegan aksi dalam film ini disajikan dengan cara yang biasa, tidak terlalu banyak efek spesial maupun teknik pengambilan gambar khusus yang digunakan. Salah satu daya tarik dari adegan aksi yang ada dalam film ini adalah efek khusus perubahan bentuk para manusia yang terinfeksi menjadi parasit. Sosok Migi yang berada di tangan kanan Shinichi juga ditampilkan dengan efek khusus yang cukup halus, terlebih saat Migi berubah bentuk untuk bertarung bersama Shinichi melawan parasit yang lain.

Meski demikian, secara garis besar dapat dikatakan adegan aksi yang ada dalam film ini terkesan cukup sadis. Banyak adegan kekerasan yang mengandung banyaknya cipratan darah dan juga adegan yang cukup sadis lainnya. Tentu adegan semacam ini sangat tidak disarankan bagi anda yang tidak suka melihat hal-hal serupa.

Bukan Sekedar Aksi, Namun Juga Drama serta Dilema

Cerita yang ada pada film live-action ini cukup menarik untuk diikuti. Mengambil tema mengenai kedatangan makhluk luar angkasa yang hendak mengendalikan bumi menjadikan film ini memiliki genre aksi. Namun menariknya, film ini tidak hanya berfokus kepada aksi melawan para parasit saja. Unsur drama juga mendapat porsi dalam film ini. Seperti pada saat kisah Shinichi dengan sang ibu, dan juga kisah romansa antar Shinichi dengan Satomi Murano (diperankan oleh Ai Hashimoto).

Pengembangan kisah serta karakter dalam film ini juga menjadi salah satu poin tambah dari film ini. Seperti pada premis saat awal film ini dimulai, “apakah berkurangnya populasi umat manusia dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia?” menjadi konflik utama dari cerita Parasyte ini.

Meski menampilkan kisah para parasit yang hendak menguasai kehidupan di muka bumi, namun konflik yang ada bukanlah hanya mengenai penguasaan muka bumi, namun juga mengenai keberadaan para parasit yang hendak menghabisi umat manusia demi mengurangi kerusakan alam yang disebabkan manusia. Dilema ini menjadi salah satu poin penting dalam konflik yang ada pada film ini.

Dilema memang seakan menjadi sajian utama dari film ini. Selain mengenai hubungan antara populasi manusia dengan kerusakan alam, karakter Ryouko Tamiya (diperankan oleh Eri Fukatsu) memiliki karakter yang cukup menarik. Meski ia adalah seorang manusia yang sudah terinfeksi parasit, namun ia mencoba untuk dapat hidup berdampingan dengan manusia. Pertemuan Ryouko dengan Shinichi serta Migi menjadikan dirinya semakin percaya bahwa parasit bisa hidup berdampingan dengan manusia. Di sisi lain, pemikiran “hidup berdampingan” tersebut menjadi dilema tersendiri bagi para parasit yang kesehariannya harus memakan manusia sebagai konsumsi utama.

Shinichi Izumi, sang karakter utama juga memiliki perkembangan karakter yang cukup menarik. Mencoba hidup bersama makhluk yang terpaksa hinggap di tangan kanannya sudah cukup membuat Shinichi kerepotan menjalani hari-harinya. Terlebih lagi, ia kerap terlibat dalam pertempuran dengan parasit yang lebih kuat dikala ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk bertarung. Meski demikian, Migi tetap membantunya untuk bertarung melawan rekannya sesama parasit. Namun, tindakan Migi yang bertarung melawan para parasit lain yang menyerang Shinichi semata-mata bukanlah karena ia ingin melawan parasit, melainkan hanya demi mempertahankan hidup Shinichi yang dapat berpengaruh terhadap keberadaan Migi.

Selain itu, dalam film ini diceritakan pula perlahan-lahan Shinichi yang semula sangat manusiawi suatu saat kehilangan sebagian sisi manusiawinya. Sebaliknya Migi, yang semula memang bukan manusia, karena suatu kejadian tiba-tiba bertingkah laku seperti manusia seperti suka lelah dan bahkan tertidur lelap.

Perkembangan cerita yang ada juga bisa dikatakan sebagai sesuatu yang menarik dari film ini. Premis awal dari film ini memang menceritakan mengenai serbuan para parasit yang hendak menguasai bumi dan Shinichi yang berusaha mencegah hal tersebut. Namun secara perhalan, para parasit mulai masuk ke sendi-sendi kehidupan umat manusia dengan menyamar sebagai guru, kepolisian, bahkan seorang politisi demi melancarkan usaha untuk menguasai bumi.

Kesimpulan

Film live-action Parasyte dapat dikatakan sebagai salah satu adaptasi live-action yang cukup sukses membawa kisah dari seri manga maupun anime kedalam satu film layar lebar. Cerita yang cukup menarik untuk diikuti, serta ditopang dengan pengenalan karakter yang cukup jelas, dan juga alur cerita yang tidak terlalu cepat menjadikan orang yang bahkan tidak mengikuti seri manga dan anime Parasyte dapat mengerti dengan jelas kisah pada film ini.

Meski demikian, bisa dikatakan musik yang ada dalam film ini cukup membosankan karena terkesan biasa saja. Selain itu banyaknya adegan kekerasan yang memunculkan darah dan terkesan sadis juga sangat tidak cocok diperuntukkan bagi anda yang tidak suka melihat adegan semacam ini.

Meski demikian tetap saja, bagi anda yang memang mengikuti kisah Parasyte dari manga dan animenya, maupun anda yang mencari film dengan kisah yang cukup epik, Parasyte dapat menjadi salah satu film yang cocok anda tonton.

“Jika separuh dari populasi umat manusia musnah, akankah itu dapat mengurangi separuh rusaknya alam? Jika 99% populasi umat manusia musnah, akankah 99% polusi di muka bumi berkurang? Di suatu tempat di muka bumi ini, ada seorang manusia yang memikirkan hal itu.”

Parasyte dapat ditonton melalui jaringan bioskop Blitzmegaplex yang tersebar di seluruh Indonesia maupun Platinum Cineplex yang beroperasi di Cibinong, Solo, Sidoarjo, dan Magelang.

KAORI Newsline | Diulas oleh Rafly Nugroho

84 KOMENTAR

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.