Sayaka Akimoto

Melalui akun twitternya, aktris asal Jepang yang juga merupakan mantan anggota grup idola AKB48, Sayaka Akimoto baru-baru ini bereaksi soal kasus pemaksaan mengecat rambut menjadi hitam oleh siswi Osaka, yang menjadi polemik di media beberapa waktu yang lalu.

Sayaka sendiri juga pernah mengalami hal serupa waktu dulu dia bersekolah. Sayaka Akimoto yang juga berdarah campuran Filipino-Jepang ini mengatakan bahwa dia dulu juga dipaksa mewarnai rambutnya menjadi hitam. Rambut aslinya berwarna merah, tapi dia tetap mewarnai rambutnya menjadi hitam, karena mengetahui peraturan sekolah mengharuskan para siswa dan siswi berambut hitam. Tapi hal itu ditentang ayah Sayaka yang pergi ke sekolahnya dan menolak peraturan pewarnaan rambut tersebut. “Anakku selalu berambut merah!” katanya pada staf sekolah. Saat itulah  dirinya menyadari walaupun peraturan itu penting, tapi ada hal-hal lain yang lebih penting dari peraturan semata.

Advertisement Inline

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, seorang siswi SMA di Jepang. Siswi Osaka berambut coklat berusia 18 tahun di kota Habikino, Osaka, telah mengajukan tuntutan untuk meminta kompensasi setelah SMA tempatnya bersekolah memaksanya untuk mewarnai rambut cokelat alaminya menjadi hitam, mengikuti peraturan dalam sekolah tersebut.

Seperti dilansir Mainichi Shimbun, siswi SMA kelas 3 Kaifukan tersebut menggugat pemerintah daerah Prefektur Osaka dengan nilai materi 2.2 juta yen. Sebagaimana tercatat dalam dokumen di pengadilan distrik Osaka, gugatan materi tersebut sebagai ganti rugi kesedihan yang dialaminya karena dipaksa pihak sekolah untuk mewarnai rambutnya menjadi hitam. Pengacaranya menambahkan bahwa nilai gugatan itu setara dengan perilaku perundungan (bullying) yang sistematis dan terinstitusionalisasi.

“Pewarnaan rambut itu merusak kesehatan kulit kepala dan rambut,” klaim sang penggugat. “Penampilan fisik alami ditiadakan dan terjadilah penderitaan mental.” Penggugat juga mengeluhkan bahwa sekolah memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa siswa diijinkan untuk dididik di lingkungan yang sehat. Penggugat pun berpendapat bahwa perlakuan oleh sekolah itu ilegal.

Rambut hitam merupakan peraturan sekolah untuk para siswa dan siswi yang memasuki sekolah pada musim semi tahun 2015. Sebelum dia masuk, ibunya mengatakan kepada sekolah bahwa gadis itu memiliki rambut coklat alami. Namun, sekolah tersebut memberitahukan ibunya kalau siswi berambut coklat tidak dapat datang ke sekolah. Gadis itu kemudian menjalani perawatan pewarnaan rambut untuk mengubah rambutnya menjadi hitam, namun kulit kepalanya mulai mengalami ruam sekitar musim semi tahun lalu.

Ibu gadis tersebut mengajukan keluhan ke sekolah tersebut, namun permintaan tersebut ditolak, dengan alasan bahwa sudah peraturan siswa harus memiliki rambut hitam. Setelah itu, seorang guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa perawatan pewarnaan rambut yang dilakukan gadis tersebut tidak mencukupi. Setiap empat hari, dia diperintahkan untuk mewarnai rambutnya. Dia berhenti menghadiri kelas pada bulan September itu. Bulan berikutnya, gadis itu tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam festival karena warna rambutnya. Selama wawancara dengan ibu gadis itu, sekolah tersebut memberitahunya, “Bahkan seorang siswa pertukaran rambut berambut pirang mewarnai rambutnya yang hitam.” Pada bulan April tahun ini, sekolah tersebut menghapus nama gadis itu dari daftar nama siswa. Sekolah pun memberitahu orang tua siswi tersebut bahwa dia telah putus sekolah. Sejak saat itu, gadis itu belum kembali menghadiri kelas. Seorang perwakilan Dewan Pendidikan Osaka mengatakan kepada Asahi Shimbun(27 Oktober), “Dengan masalah yang masih tertunda, kami tidak memiliki komentar.”

Sekolah dan dewan pendidikan telah menolak untuk mengomentari kasus ini karena kasus ini sedang berlangsung, namun pengacara pembela meminta agar kasus tersebut dikeluarkan dari pengadilan. SMP dan SMA di Jepang terkenal dengan tingkat kedisiplinan tinggi terhadap dresscode mereka. Namun, perlu juga ditarik garis di suatu tempat. Untuk menyeimbangkan keinginan akan “harmoni” tubuh siswa dan hak siswa untuk melindungi tubuh mereka sendiri, Registrasi Warna Rambut Alami (Natural Hair Color Registry) merupakan solusi yang populer, namun tidak diwajibkan oleh dewan pendidikan dan disesuaikan dengan kebijaksanaan masing-masing sekolah. Kepala sekolah salah satu sekolah, yang memiliki Registrasi Warna Rambut Alami dari hanya sepuluh siswa, mengatakan kepada Mainichi Shimbun, “Kami akan melanjutkan sistem ini untuk melindungi hak asasi manusia siswa kami.”

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.