BAGIKAN
© Akira Toriyama・ Toei Animation/ Dragonball Super Broly

Para penggemar Dragon Ball di indonesia baru saja dimanjakan dengan kemunculan film Dragon Ball Super: Broly yang baru saja tayang di bioskop Indonesia beberapa waktu lalu. Mengapa film ini begitu dinantikan oleh para fans sejati Dragon Ball khususnya di Indonesia?  Mari simak ulasannya berikut ini.

Toei Animation, studio yang dikenal mengerjakan anime seperti One Piece, Slam Dunk, dan World Trigger, baru saja merilis sebuah film dari seri anime Dragon Ball Super yang berjudul “Dragon Ball Super: Broly” pada bulan Desember tahun 2018 lalu. Namun, siapa sangka film Dragon Ball kali ini begitu banyak diminati oleh banyak kalangan khususnya fans serial animenya sendiri itu sendiri. Tak hanya di Jepang dan negara-negara lain di luar negeri seperti Amerika saja, film ini ternyata juga dinantikan oleh para fans Dragon Ball di Indonesia. Penantian pun terjawab, film ini akhirnya diputar juga di layar bioskop tanah air pada Februari 2019 lalu. Lantas, seperti apa film animenya?

Kisah pada film Dragon Ball Super: Broly berlatar 41 tahun sebelum dimulainya kisah Son Goku (disuarakan oleh Masako Nozawa). King Cold (Ryuuzaburou Ootomo) selaku pemimpin organisasi penjahat antariksa mengungumkan bahwa dirinya telah pensiun dan menyerahkan kepemimpinannya kepada putranya yaitu Freeza (Ryusei Nakao) di hadapan bangsa Saiya yang saat itu dijajah olehnya. Freeza yang saat itu memperkenalkan diri langsung memberikan teror mengerikan kepada bangsa Saiya, terutama Raja Bezita (Banjou Ginga) yang saat itu ada di hadapannya dengan menghabisi beberapa tentara Saiya yang saat itu sedang mengawasinya tanpa ampun.

Film anime dragon ball super: broly
© Akira Toriyama・ Toei Animation/ Dragonball Super Broly
© Akira Toriyama・ Toei Animation/ Dragon Ball Super Broly
Advertisement Inline

Melihat betapa mengerikannya teror yang diberikan oleh Freeza, Raja Bezita pun tak tinggal diam. Ia menyiapkan seseorang yang akan mengalahkan Freeza yang tidak lain adalah anaknya sendiri, yaitu pangeran Bezita IV (Ryo Horikawa) “Bezita yang saat ini menjadi rival Son Goku” memiliki kekuatan yang diprediksi akan melampaui Freeza suatu hari nanti. Walaupun saat itu usia Bezita IV masih bayi, tetapi Raja Bezita terkesan akan perkembangan daya tempur yang dimilikinya. Namun, di samping pangeran Bezita IV ada lagi seorang bayi yang memiliki daya tempur luar biasa bahkan di atas daya tempur pangeran Bezita IV. Raja Bezita yang melihat hal itu langsung bertanya-tanya anak siapakah itu? Dan ternyata anak tersebut adalah anak dari Paragus (Katsuhisa Houki), salah satu pasukan tempur Saiya yang bernama Broly (Bin Shimada).

Mengetahui Broly memiliki potensi yang luar biasa, Raja Bezita justru malah mengasingkan Broly ke sebuah planet antah berantah dengan beralasan Broly akan sulit untuk dikendalikan. Mendengar hal itu, Paragus merasa tak terima dan memutuskan untuk membesarkan Broly seorang diri dan membalaskan perbuatan Raja Bezita suatu hari nanti.

Di lain waktu Freeza yang mendengar desas desus mengenai legenda Super Saiya akhirnya memutuskan untuk menghancurkan planet bangsa Saiya dengan mengumpulkan seluruh bangsa Saiya ke planetnya. Bardock (Masako Nozawa) yang curiga mengenai itu tanpa pikir panjang mengirimkan anaknya sendiri Kakarot “Son Goku” ke sebuah planet damai yang bernama Bumi. Akhirnya, kecurigaan Bardock pun benar Freeza benar-benar menghancurkan planet bangsa Saiya. Dan di sinilah kisah dari film ini dimulai.

© Akira Toriyama・ Toei Animation/ Dragonball Super Broly

Sebenarnya Broly bukan hanya kali ini saja muncul dalam film Dragon Ball. Sebelumnya Broly sudah muncul dalam 3 film Dragon Ball lainnya, yaitu Broly The Legendary Super Saiyan, Broly Second Coming, dan Bio Broly. Namun, dalam ketiga film itu Broly tetap saja hanya karakter non-canon alias tidak masuk dalam karakter cerita resmi Dragon Ball. Akhirnya pada film inilah Broly akhirnya jadi karakter resmi di serial Dragon Ball.

Yang membedakan sosok Broly pada film anime Dragon Ball Super: Broly dengan film-film sebelumnya  adalah perbedaan penggambaran karakter yang sangat jelas sekali. Jika pada film sebelum-sebelumnya Broly adalah petarung brutal dan jahat sejak awal cerita yang bahkan sudah bisa melakukan Super Saiya tanpa dijelaskan bagaimana asal-usulnya, dalam film ini ia digambarkan sebagai seseorang yang sangat polos dan baru pertama kali melakukan interaksi dengan seseorang selain dengan ayahnya. Penonton akan melihat bagaimana tingkah laku polos Broly yang baru memiliki teman dan ketika dia marah untuk membela temannya. Ya, karakter Broly benar-benar digali secara perlahan dalam film ini. Dalam pertarungan dengan Bezita dan Son Goku pun Broly beradaptasi terlebih dahulu, tidak langsung dibuat overpower seperti di film sebelumnya. Seiring berjalannya pertarungan pun kekuatan Broly keluar dengan sendirinya hingga akhirnya bisa membuat Bezita dan Son Goku kewalahan.

© Akira Toriyama・ Toei Animation/ Dragon Ball Super Broly

Jika para penonton terutama penikmat seri Dragon Ball menginginkan grafis pertarungan cepat dengan ciri khas Dragon Ball di era 90-an yang begitu, maka selamat karena keinginan Anda “terkabul”. Film anime Dragon Ball Super: Broly menghadirkan grafis seperti itu ditambah dengan special effect kekinian yang sangat memukau sekali. Scene pertarungan dalam film ini pun berhasil dieksekusi dangan baik sekali dan tidak terlalu banyak menggunakan efek CGI yang tidak perlu. Selain itu, adegan aksi tersebut terasa semakin apik karena ditunjang dengan tata suara yang menyerukan nama mereka, seolah-olah kita seperti menyaksikan pertarungan terseru abad ini. Sepertinya Tatsuya Nagamine (One Piece Film Z) selaku sutradara sukses menyajikan adegan-adegan pertarungan tersebut dengan sangat baik pada film ini.

© Akira Toriyama・ Toei Animation/ Dragonball Super Broly

Walau adegan pertarungannya terasa memuaskan, sayangnya dalam BGM di dalam adegan tersebut terasa kurang menggigit. Bahkan di adegan di mana Broly, Goku, Bezita, dan Feeza berubah form, BGM-nya terasa kurang pas. BGM-nya sendiri kurang mampu menangkap mood berbagai adegan yang ada, seperti perasaan berdebar-debar, perasaan ketakutan ketika lawan memiliki kekuatan yang mengerikan, dan sebagainya.

Secara keseluruhan, cerita dalam film anime Dragon Ball Super: Broly benar-benar tidak dibuat bertele-tele. Film ini juga berhasil menceritakan asal-usul Broly walau tidak secara lengkap. Cerita filmnya sendiri masih terasa nanggung dan anti klimaks. Tampaknya ini disengaja karena kemungkinan Broly akan dimasukan ke dalam seri anime atau akan muncul kembali di film lainnya.

Film Dragon Ball Super: Broly secara keseluruhan berhasil memuaskan banyak ekspetasi penggemar Dragon Ball karena adegan pertarungan yang memukau dan kisah mengenai Broly yang akhirnya masuk ke serial Dragon Ball secara “resmi” alias canon, walaupun penceritaannya tidak terlalu dijelaskan secara rinci. Melihat Broly sang salah satu Saiya terkuat menjadi karakter “canon” saja sudah membuat banyak fans Dragon Ball senang. Dengan kemunculannya sebagai karakter “resmi” di serial ini, mungkin bisa saja nanti Broly akan menjadi salah satu Z fighter yang melindungi bumi atau Universe 7 di serial Dragon Ball.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.