Mengapa Otaku Indonesia Merasa Terkoneksi dengan Karakter Berfilosofi Nihilist?

Kiyotaka Ayanokouji dari anime Classroom of the Elite (© Akira Kinugasa, published by KADOKAWA / Welcome to the Classroom of the Elite Production Committee)

Faktor utama kenapa istilah “gue banget” itu bisa muncul bersumber dari bagaimana penonton dapat melihat aspek dirinya pada karakter-karakter ini. Mungkin ini dikarenakan banyak dari penonton merasa memiliki karakteristik yang sama dengan Hachiman seperti sama-sama penyendiri atau merasa tidak ingin menjadi pusat perhatian dan pemenang seperti Ayanokouji.

Dapat dikatakan bahwa di Indonesia jumlah otaku masihlah berada pada jumlah yang marjinal. Jumlah yang sedikit membuat para otaku merasa apa yang digemarinya berbeda daripada orang-orang lain pada umumnya. Di lain pihak, masyarakat Indonesia yang memiliki sifat komunal lebih menghargai kebersamaan dibandingkan suatu hal yang berbeda, termasuk di bidang hobi (Lembaga Survei Indonesia, 2009; Max Regus,2020.) Hal ini menimbulkan otaku merasa teralienasi dari masyarakat “mainstream” yang memiliki kegemaran berbeda dengan dirinya.  Alienasi ini kemudian diperparah dengan stigma negatif dari otaku yang dekat dengan konteks Geek atau Nerd yang akhirnya membuat mereka menjadi menarik diri dari lingkungan sosial (Sakinah B. Yulian, 2019; Nuraini & Yufi A., 2020.)

Untuk menjadi seorang otaku di Indonesia, seseorang harus dapat berani menjadi seorang berbeda di antara masyarakat. Yang berarti orang itu harus dapat terbebas dari nilai baik dan buruk yang telah ditetapkan oleh standar yang ada. Kemudian, mereka harus dapat mendifinisikan prinsipnya sendiri yang berbeda dari masyarakat, dan berdamai, berpuas diri kepada konsekuensi prinsip yang telah mereka pilih.

Tentu prinsip ini terbentuk bukan dengan cara yang mudah. Seperti teori Nietzsche, pembentukan nilai dari dirinya sendiri ini harus disertai dengan kekacauan karena kenirmaknaan. Dalam hal ini otaku harus berkonflik dengan nilai-nilai yang ada, merasa tersesat dan mungkin ada beberapa yang telah menghadapi “kehampaan/nihilisme.” Merasa hampa karena dia tidak mengetahui mana yang baik atau buruk karena apa yang mereka sukai dan anggap baik merupakan hal tidak populer oleh masyarakat “mainstream.”

ennichisai berakhir
Foto: Suasana di perhelatan jejepangan Ennichisai

Paham nihilisme ini kemudian beresonansi kepada otaku Indonesia karena mereka dihadapkan pada keadaan sulit untuk mendefinisikan nilai dan prinsipnya sendiri. Pencarian jati diri sebagai otaku mendorong mereka untuk membebaskan dirinya dari nilai-nilai sosial yang telah mendefinisikan mereka. Kemudian, bergerak merumuskan nilai dan prinsip mereka sendiri tanpa bisa berpegangan pada yang sudah ada.

Inilah yang mungkin membuat para otaku di Indonesia dapat “relate” kepada karakter-karakter nihilist. Ini dikarenakan mereka berpikiran bahwa tidak ada nilai yang mutlak, dan dalam kehampaan nilai, mereka dapat menentukanya dengan kemampuanya sendiri tanpa masalah. Para karakter nihilis seakan memberikan proyeksi zona aman bahwa menjadi berbeda dan mendefinisikan prinsipnya sendiri bukanlah masalah dalam bermasyarakat. Bahkan, penggambaran dramatis karakter nihilist sebagai seorang yang memiliki kelebihan atas prinsipnya juga memberikan rasa aman atas keputusanya untuk berbeda.

Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa alasan para otaku Indonesia merasa terhubung dengan karakter-karakter ini adalah karena kemiripan perspektif, pengalaman, pemikiran dan juga proyeksi rasa aman yang ditimbulkan dari pada mereka.

Daftar Pustaka

Oleh Angga Priancha dan Muhammad Daffa Putra | Angga Priancha adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang menggemari dan mendalami topik Kekayaan Intelektual dan Pop Culture | Muhammad Daffa Putra adalah Fresh Graduate dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan keingintahuan pada interaksi sosial yang terjadi berkaitan dengan Fandom dan Geek Culture

Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke halo@kaorinusantara.or.id

1 KOMENTAR

  1. Boleh saya koreksi fans animanga jepang itu banyak hanya saja yg levelnya otaku sedikit kebanyakan menjadikan hiburan diri sendiri saat senggang beda dengan otaku fans biasa tidak sampe ikut event ngumpulin goods dlsb selain itu kebanyakan lebih nirip kakureota karena image otaku yg negatif dan asosiasi animanga dengan hiburam anak2 selain itu kebanyakan fans animanga itu laki

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.