Angin segar muncul dalam dunia peranimasian di Indonesia, karena stasiun televisi TRANS7 kini memproduksi seri animasi berjudul Vatalla sang Pelindung.  Animasi yang diangkat dari komik Vienetta feat the Stupid Aliens karya Alfi Zackyelle (yang juga menyutradarai langsung film animasinya) ini mulai mengudara sejak tanggal 27 Desember 2010 lalu. Kini seri ini ditayangkan setiap hari Jumat jam 09.00 WIB di stasiun TV TRANS7.

Untuk memperkenalkan serial ini ke khalayak ramai, maka pada acara Indonesian Comic Fair 2011 di Sudirman Citywalk Jakarta 23 Januari 2011 lalu digelarlah acara Peluncuran Komik Vienetta feat The Stupid Aliens dan seri Animasi Vatalla sang Pelindung. Tim Kaoriporter yang digawangi oleh Kevin Wilyan (Shin Muhammad) dan Dody Kusumanto (saddam) berkesempatan untuk menghadiri acara bersejarah ini, dan mempersembahkan ulasan acaranya kepada pembaca KAORI Newsline.

Advertisement Inline

Acara diawali dengan pemutaran cuplikan film animasi Vatalla yang membuat pengunjung Citywalk terhibur dan kagum dengan karya buatan anak bangsa tersebut. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi yang disertai dengan sesi tanya jawab. Diskusi yang dipandu oleh Mas Firman Widyasmara ini menampilkan Alfi Zachkyelle (pencipta yang juga bertindak sebagai penulis naskah dan sutradara), Gupta Mahendra (perwakilan dari KOLONI selaku penerbit komik Vienetta feat the Stupid Aliens yang juga bertindak sebagai salah satu konsultan narasi dan visual), Marlia Yossie (perwakilan dari TRANS7 selaku penayang serial animasi Vatalla sang Pelindung  yang juga bertindak sebagai produser), Rhoald Marcellius (perancang karakter), dan Arif Prianto (pengarah estetika gambar) sebagai narasumber.

Dari kiri ke kanan : Firman Widyasmara selaku MC, Gupta Mahendra, Alfi Zachkyelle, Marlia Yossie, Rhoald Marcellius, Arif Prianto

Dalam sesi diskusi ini, Alfi dan kawan-kawan menceritakan sejarah pembuatan komik Vienetta sampai proses pembuatan film animasinya, serta orang-orang yang ikut terlibat didalamnya. Alfi juga bercerita mengenai konsep Cyodyavalla, yang nantinya akan menjadi sebuah brand dalam karya-karyanya di masa mendatang. Selain itu, ia juga membagi suka-dukanya dalam memproduksi Vatalla sebagai animasi lokal pertama yang diadaptasi dari komik. Menurutnya, menyatukan berbagai tim kreatif dengan berbagai latar belakang, kepentingan, dan idealisme yang berbeda-beda bukan hal mudah, sehingga mewujudkan proyek animasi Vatalla tak ubahnya menjadi sebuah “hajat nasional”.

Gupta Mahendra sebagai perwakilan dari penerbit KOLONI bercerita mengenai sejarah komik Vienetta karangan Alfi dan juga bercerita mengenai KOLONI sebagai penerbit komik lokal Indonesia. Mas Gupta juga bercerita bagaimana peluang dan momentum untuk mewujudkan film animasi sedang terbuka lebar saat ini. Ia berharap, semua ini tidak terbuang sia-sia dan tidak berhenti sampai di sini saja.

Marlia Yosie sebagai perwakilan dari TRANS7 bercerita mengenai impian TRANS7 untuk membuat animasi karya anak Indonesia sendiri yang pada akhirnya melahirkan karya animasi Vatalla ini. Ia berharap supaya Vatalla menjadi batu loncatan untuk komikus dan animator lokal lain untuk terpacu membuat karya yang lebih baik.

Tidak mudah menyatukan antara idealisme dengan industri sehingga menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pasar, namun tidak melenceng jauh dari konsep awal, termasuk menanggapi keluhan mengapa Vatalla disiarkan pada jam kerja/sekolah. Mengenai hal ini, ia menjelaskan dalam setiap rencana penayangan suatu program, stasiun TV biasanya sudah memiliki banyak data yang menentukan di mana sebuah program akan ditayangkan, baikberdasarkan data penonton maupun strategi tertentu seperti branding dan sebagainya. Baginya, sulit menayangkan program Vatalla sebagai proyek yang masih sangat baru untuk disiarkan di akhir pekan, karena harus bersaing dengan program-program sejenis yang sudah terlebih dahulu punya nama. Namun, karena program ini potensial (tidak basi), mungkin saja ditayangkan ulang di jam lain yang lebih terjangkau.

Sedangkan mengenai wacana peluncuran Vatalla dalam bentuk DVD, dirinya mengaku kalau pihak TRANS7 belum berpikir sampai ke sana karena selain sejak awal TRANS7 memang tidak berbisnis dalam ranah DVD, di sisi lain bisnis DVD saat ini dipandang sedang tidak menguntungkan. Namun, ia tidak menutup kemungkinan kalau Vatalla akan dirilis dalam bentuk DVD jika animonya memang cukup besar.

Pada awalnya, lima episode perdana Vatalla ditayangkan sejak tanggal 27 sampai 31 Desember 2010 setiap jam 09.00 WIB, kemudian ditayangkan kembali dari episode pertama sejak tanggal 7 Januari 2011 setiap hari Jumat jam 09.00 WIB, dan sejak tanggal 18 Februari kemarin telah menginjak ke episode 6. Dalam waktu dekat, jam tayang ini akan dijadwal ulang setelah mempertimbangkan desakan dan keinginan para penggemar. Tentu kita semua berharap supaya Vatalla bisa segera mendapatkan jam tayang yang strategis, sehingga bisa dinikmati oleh pemirsa.

Setelah semua sesi selesai, acara kemudian ditutup dengan pembagian doorprize kepada pengunjung yang mengajukan pertanyaan dan pengunjung yang dapat menjawab pertanyaan pada kuis yang dilontarkan oleh pihak penyelenggara. Setelah itu juga diadakan pembagian hadiah kepada pemenang lomba mewarnai Vatalla untuk kategori anak-anak yang diadakan beberapa jam sebelumnya. Acara penutupan juga diisi dengan pembagian tandatangan kepada fans dan sedikit beramah-tamah dengan pihak narasumber.

Penulis berfoto bersama Papa Indro (paling tengah) selaku koordinator dubbing dalam serial Vatalla

Sangat disayangkan, tidak hadir seorang pun dari tim pengisi suara karakter-karakter Vatalla, karena masalah kesibukan. Namun Papa Indro selaku koordinator dubbing dalam serial Vatalla yang hadir tengah merencanakan untuk menggelar roadshow bersama tim Seiyu Vatalla di masa depan, jika keadaan memungkinkan.Semoga rencana tersebut dapat terealisasi, sehingga kita bisa bertemu dan mengenal lebih dekat dengan insan-insan yang telah menghidupkan karakter-karakter dalam serial Vatalla dengan suara-suara emas mereka.

Di akhir acara, tim Kaoriporter mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara secara khusus kepada Alfi Zachkyelle. Berikut inilah petikan wawancara tersebut, dipersembahkan bagi para pembaca KAORI Newsline :

P : Menurut anda, bagaimana prospek pemasaran kepada para penggemar anime di Indonesia, bila kita berikan produk animasi yang mengandung unsur lokal seperti Vatalla ini?

J : Sebenarnya kalau prospeknya sih besar ya. Artinya begini jadi dunia animasi itu kan luas sekali. Jadi saya lihat di Indonesia sendiri itu sepertinya belum terlalu digali. Makanya ketika saya melihat celah-celah yang banyak banget yang bisa untuk digali terutama secara teknis. Dan kebetulan teman-teman animator, mereka juga sudah sering terlibat di produksi Anime Jepang. Jadi artinya memang itu mereka sekarang seperti pulang kampung. Ya pulang kampung, bagaimana sekarang kita membangun bangsa kita dan membuktikan bahwa kita juga bisa, Indonesia juga bisa gitu lho. Jadi ayo deh saatnya kita bangun dan mensinergikan antara penggiat animasi. Dari penggemarnya, dari pembuat, bahkan dari apapun juga. Itu yang ingin dibangun. Jadi prospek kedepannya, sangat besar sekali. Menurut saya begitu.

P: Kemudian kalau melihat promosi, promosinya masih kurang nggak sih atau sudah cukup?

J : Ya. Mungkin begini ya. Kalau promosi ya itu tadi yang saya bilang. Memang karena ini masih awal sekali, memang perlu adanya sinergi dari berbagai pihak terutama dari stasiun TV, pihak publisher komiknya, dan bahkan juga dari teman-teman. Jadi di sini memang artinya masih swadaya. Kita tuh masih antara sesama komunitas atau sejenisnya. Jadi kita mengupayakan itu. Jadi memang saya lihat juga memang belum maksimal tapi memang lagi kita upayakan dari pihak itu semua itu tadi, ayo sama-sama yuk! Gimana caranya? Karena ini sebuah karya anak bangsa, ayo sama-samalah kita promosikan itu. Kira-kira seperti itu.

Alfi Zachkyelle dan kawan-kawan

P : Mengapa memilih gaya gambar yang agak condong ke Amerika?

J : Jadi, dari konsepnya awal sebenarnya kita konsepnya adalah menggabungkan, mungkin kalau kita lihat di beberapa episode itu ada kita menggabungkan juga unsur elemen anime juga, dengan unsur Amrik juga. Di sini seperti yang saya bilang tadi dari timnya sendiri itu juga rata-rata memang ada yang kebetulan dia eks animator di Jepang, dan ada beberapa yang memang dia yang biasa bekerja di US. Jadi artinya kita mencoba menggabungkan. Nah jadi ini yang menariknya di sini jadi kita mencoba menggabungkan dua unsur tadi. Karena konsepnya adalah Indonesia kan beragam, karena beragam makanya animenya juga seperti itu, jadi kira-kira intinya ya inilah gaya Indonesia yang merupakan hasil dari banyak pemikiran yang beragam unsur menjadi satu gaya. Kira-kira seperti itu.

P : Bagaimana menurut anda jika ada kalangan yang skeptis akan hal ini?

J : Kalau masalah skeptis, kalau saya sendiri sih tanggapannya begini : Jadi ketika karya itu dibuat maka dia akan mencari sendiri pasarnya. Jadi istilahnya dari segi visual, dari segi cerita dia akan mencari siapakah yang menyukai gaya seperti ini? Terutama juga seperti yang dikatakan oleh Mbak Yosie tadi, kalau ini diperuntukkan untuk semua segmen, tapi ketika nantinya misalnya ada yang skeptis atau apa. Jadi kita di sini bisa mengajak "yuk coba yuk kita melihat bentuk alternatif". Saya juga penggemar anime dan ketika saya melihat bahwa "oh saya ingin mencoba membuat sesuatu yang baru", tentunya dengan melihat apa yang saya punya, apa yang saya suka. Makanya kenapa ada yang bilang mirip Avatar, ya karena saya memang suka Avatar. Kira-kira seperti itu. Ya saya juga berharap saya juga bisa memberikan suatu alternatif tontonan ke teman-teman dan berharap teman-teman yang skeptis juga bisa melirik kalau ini ada tontonan alternatif.

P : Jadi istilahnya mengembangkan segmen pasar baru???

J : Ya kira-kira seperti itulah.

Penulis bersama Papa Indro (kedua dari kiri) dan Marlia Yosie (kedua dari kanan). Sebagai informasi, di masa lalu Mbak Yosie pernah bermain dalam serial Saras 008 sebagai peran pengganti Saras dan sebagai Culas

P : Kemudian mungkin untuk para penggemar anime di Indonesia, saya lihat sepertinya harapannya cukup besar. Tadi ada yang menyarankan Live Action, Movie, dan lain-lain. Kira-kira saat ini apa yang bisa anda sampaikan untuk mereka???

J : Jadi di Vatalla ini konsepnya sudah saya rancang sejak lama bahwa ini nantinya akan banyak produk-produk turunannya. Dan ini yang sudah berjalan kan komik dan animasinya. Dan nanti berikutnya juga sudah direncanakan dari Tim Vatalla ini untuk membuat game, dan akan ada untuk layar lebar.  Tapi ada juga rencana untuk membuat edisi khususnya yang mungkin Insya Allah akan diproduksi oleh TRANS7 dan satu lagi nantinya kita akan ada spin-off lagi tapi itu menjadi film terpisah mungkin judulnya bukan Vatalla dan mungkin juga tidak ada hubungan langsungnya. Jadi akan lebih beragam lagi. Dan itu sudah kita jadwalkan. Tapi kita kan memang satu-satu dulu nih kita kan melihat animonya dulu kan? Jadi animonya seperti apa, nanti kita sesuaikan.

P : Jadi apakah polanya akan dibuat seperti franchise Gundam atau franchise Macross begitu???

J : Ya mungkin akan seperti itu. Tapi kan karena seperti yang sudah dikatakan tadi yaitu soal segmentasi di mana Indonesia ini kan beragam sekali. Ketika saya menyadari itu, ada proses pembelajaran dulu. Kita melempar produk terlebih dahulu. Gimana sih kalau ini genre baru artinya memang kita mencoba yang baru tadi, mencari pasar baru. Apakah ketika kita melemparkan suatu nama ini nantinya bisa berjalan? Nah nanti berikut-berikutnya kita juga akan merespon masukan yang ada. Jadi mungkin seperti itu.

Karena ini masih proses, makanya kita mengonsepkan kira-kira 26 episode (dibagi menjadi 2-3 Season) dengan satu Vatalla saja. Mungkin berikutnya akan ada cerita sampingan meskipun mungkin nanti akan tetap universenya. Karena konsep saya adalah bagaimana membangun universenya. Jadi mungkin akan banyak cerita baru atau sejenisnya.

Apakah akan puas dengan ini? Jawabanya mungkin, Insya Allah jangan. Karena kita bersama tim-timnya sendiri mungkin akan membuat sesuatu yang lebih lagi. Karena semua kan proses pembelajaran ya. Apalagi ini kan ada industri awal. Dari sisi stasiun TVnya juga, dari sisi kreatornya juga dan bagi semua pihak lainnya juga kan ini masih merupakan hal yang baru dan ketika menjadi hal yang baru jadi kami ingin selalu menggali yang sebenarnya di komik itu sudah dilakukan.

Tentu pernah dengar komikus-komikus Elex Media seperti Anzu Hizawa dan sebagainya yang akhirnya sekarang sudah bisa go–internasional. Bahkan mangaka-mangaka sendiripun mereka bilang “Wow, Indonesia itu kemajuannya sangat-sangat pesat. Jepang melakukan itu berapa puluh tahun sementara Indonesia cuma berapa tahun” Hebatnya di situ. Artinya kita bangsa besar. Artinya memang kita itu cepat belajar.  Makanya, para desainer Vatalla ini pun ternyata banyak yang terlibat dengan proyek luar. Ada yang pernah mengerjakan anime-anime sebelumnya seperti Doraemon dan semacamnya, bahkan ada yang mengerjakan Batman, Spider-Man, atau apapun  jadi ternyata memang sudah teruji begitu. Mereka di luar, mereka bekerja. Makanya begitu mereka pulang, “Yuk kita coba, kemampuannya diujikan ke sini yuk". Artinya, "diujikan di negara kamu sendiri.”

Putri Anggraeni Widyastuti (wanita, membawa komik Vienetta) dan beberapa fans Vatalla lainnya tengah berfoto dengan beberapa tim kreatif Vatalla

P : Mungkin ada kata-kata penutup yang ingin disampaikan, khususnya kepada para penggemar anime di Indonesia?

J : Yang pasti begini,kita tidak akan berhenti sampai Vatalla. Jelas bahwa ini masih akan ada beberapa judul dan di berikutnya kita akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah kita bayangkan itu apa, namun sebenarnya itu ada di sekeliling kita, dan itu masih rahasia.

P : Baik, terima kasih banyak atas kerjasama dan saya doakan mudah-mudahan tidak ada kata puas, saya yakin kita bisa. Ini ibaratnya kita sedang memecah es yang beku. Mudah-mudahan ke depannya bisa sukses. Salam dari penggemar anime di Indonesia untuk kemajuan anime Indonesia.

J : Terima kasih juga untuk teman-teman di KAORI Nusantara atas dukungannya.

KAORI Newsline | Teks: Dody Kusumanto | Editor: Shin Muhammad | Foto: Putri Anggraeini Widyastuti & Istimewa

3 KOMENTAR

  1. Sya siswa SMK dr bali..sya jg hobi buat komik dan sudah buat 1 crita animasi tapi belum slesai sih..
    Sya cma mau koment ntuk crita buat’an sya..
    Bisa gak? Dan kalo mau krim crita animasi buat’an sndri, sya hrus krim ke mana?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.