BAGIKAN
curious play
© Yuu Watase/Shogakukan

Kembali lagi bersama saya yang kali ini akan membahas manga lawas yang dibuat oleh salah satu mangaka kondang bernama Yuu Watase. Manga ini merupakan karya isekai terkenal dari Yuu Watase sendiri yang telah diadaptasi, baik menjadi anime ataupun gim. Yap, manga lawas ini adalah Fushigi Yuugi atau yang dikenal juga sebagai Curious Play dalam bahasa Inggris.

Fushigi Yuugi diterbitkan pertema kali di Jepang melalui majalah komik Shoujo Comic (atau yang dikenal dengan Sho-Comi) di bawah penerbit Shogakukan pada tahun 1992 dan berakhir pada 1996, dengan total 18 volume buku tankoubon yang terbagi dalam 2 arc, yaitu arc mengenai kisah Miaka dan 7 Pendekar Tujuh Bintang dalam memanggil Suzaku dan arc yang terakhir yang terjadi pada Tamahome. Manga ini sendiri terbit dalam bahasa Indonesia pertama kali pada tahun 2001 dan dirilis oleh penerbit m&c!.

© Yuu Watase/Shogakukan/ Gramedia/Dok. Pribadi

Dalam Fushigi Yuugi dikisahkan mengenai Miaka Yuki, seorang gadis kelas 3 SMP yang harus menghadapi ujian masuk SMA ternama di kotanya karena permintaan ibunya. Miaka sendiri adalah gadis yang periang, ceria, dan tidak suka dipaksa, serta hanya memikirkan 4 hal dalam hidupnya: Makan, makan, makan, dan Yui Hongo, sahabatnya. Hidup Miaka berubah ketika dia memasuki dunia buku yang berjudul “Shi Jin Tenchi Sho”, atau dalam bahasa Indonesianya dikenal sebagai “Kisah Dunia Empat Dewa” dengan tidak sengaja bersama Yui. Dalam dunia berkultur mirip Tiongkok kuno tersebut, terdapatlah 4 negara di 4 penjuru mata angin, yang masing-masing memiliki Dewa pelindungnya masing-masing: Genbu di utara, Byakko di barat, Suzaku di selatan, dan Seiryu di timur. Di dunia tersebut terdapatlah legenda bahwa ketika negara berada di ambang kehancuran, maka seorang gadis dari dunia lain akan muncul, dan menjadi miko, atau dewi, atau putri yang akan mengumpulkan ketujuh pendekar untuk memanggil sang Dewa, dan menyelamatkan negara. Miaka dan Yui berdua terpilih menjadi dewi dari Suzaku dan Seiryuu, serta bertemu dengan para karakter yang membuat mereka bedua akhirnya berkonflik satu sama lain.

Ulasan

Translasi yang halus dan disesuaikan dengan bahasa yang ada.

© Yuu Watase/Shogakukan/ Gramedia/Dok. Pribadi
© Yuu Watase/Shogakukan/ Gramedia/Dok. Pribadi
Advertisement Inline

Biasanya, manga yang rilis di Indonesia terkadang masih menggunakan bahasa asli dari manganya sendiri seperti kakak yang di jepang sendiri menggunakan bahasa “Onii-san”,”Onee-san”, “Nii-san”, “Nee-san”, dan lain – lain. Ada saja penerjemah yang tetap menggunakan panggilan jepang, ada pula yang menggantinya dengan “kakak”. Fushigi Yuugi pun menggunakan bahasa Indonesia yang luwes, yang artinya bahasanya tidak kaku tetapi masih menggunakan kaidah yang ada. Bahkan, saya sendiri menikmati translasi manga ini.

Gaya manga tahun 90-an yang memiliki kesan tersendiri.

Siapa yang tidak kenal sih art style tahun 90-an, yang bisa dibilang terkesan dewasa namun masih memiiki kesan moe-nya. Fushigi Yuugi sendiri termasuk seperti itu, dari volume pertama di mana awalnya terlihat moe dan sepanjang manganya berlangsung menjadi terlihat dewasa sekali. Saya suka bagaimana Yuu Watase sendiri dalam menggunakan screentone untuk Fushigi Yuugi, karena di setiap halaman manganya saya mendapatkan suasana yang digambarkan.

Setting cerita yang unik.

Dalam Fushigi Yuugi, Yuu Watase menampilkan sebuah setting isekai berlatarkan budaya Tiongkok kuno, ditambah dengan mitologi yang ada yaitu tentang empat simbol yang terkenal di bilangan Asia Timur, yaitu Tiongkok, Jepang, dan Korea. Yaitu, Naga Biru di timur (Seiryuu), Burung Merah di selatan (Suzaku), Harimau Putih di barat (Byakko), dan Kura-kura Hitam di utara (Genbu). Ditambah lagi tentang 28 rasi bintang Tiongkok. Karena Fushigi Yuugi saya menjadi tahu gambaran besar sejarahnya yang tentu dengan setting cerita unik ini bisa menarik minat anda untuk membaca manga ini.

Karakter yang memiliki kekhasan masing-masing.

Chichiri memang top! (© Yuu Watase/Shogakukan/ Gramedia/Dok. Pribadi)

Setiap karakter di Fushigi Yuugi ini memiliki karakter yang unik terutama untuk ketujuh pendekar bintangnya, di mana mereka memiliki kisah yang rata-rata cukup menyedihkan namun tidak pantang menyerah, termasuk perkembangan Miaka sendiri sang tokoh utama yang awalnya kekanak-kanakan dan hanya memikirkan  hal dalam hidupnya: Makan, makan, makan, dan Yui, sahabatnya, menjadi memikirkan 5 hal dalam hidupnya: Tamahome kekasihnya, Tamahome, Tamahome, makan, dan Yui, sahabatnya, menjadi lebih dewasa secara batin ketika menjalani petualangannya dengan mereka (walau ujung-ujungnya di otaknya hanya ada 5 hal saja: Tamahome kekasihnya, Tamahome, Tamahome, makan, dan Yui, sahabatnya).

Kesimpulan

Di tengah-tengah menjamurnya tema isekai aias petualangan di dunia lain dalam budaya pop Jepang seperti anime, manga, dan novel ringan saat ini, Fushigi Yuugi menjadi salah satu manga isekai klasik yang layak untuk dijajal, terutama bagi para peminat isekai, terutama bagi mereka yang ingin menjajal tema isekai di masa-masa sebelum populernya situs Shosetsuka ni Naro. Fushigi Yuugi sendiri adalah seri manga yang menghiasi masa muda saya, hingga akhirnya mengenal manga-manga karya Yuu Watase lainnya. Fushigi Yuugi juga bisa kalian rasakan dengan menonton animenya dengan 52 episode yang diproduksi oleh Studio Pierrot pada tahun 1995 lalu. Animenya sendiri pernah ditayangkan di Indonesia pada media tahun 2000 lalu oleh stasiun televisi TPI (kini MNCTV), dan disulihsuarakan oleh sejumlah seiyuu-seiyuu yang sudah berpengalaman memerankan drama kolosal klasik Indonesia, yaitu Tety Najib, Endang Ayu, Azhary, Rifky, Harry Akik, Edy Djuni, dan mendiang Herman Wijaya.

Seiyuu Fushigi Yuugi versi bahasa Indonesia: Azhary (inset kiri), Herman Wijaya (inset kanan), Rifky (kiri atas), Edy Djuni (kanan atas), Endang Ayu (kiri bawah), Harry Akik (Tengah bawah), dan Tety Najib (kanan bawah)

Ngomong-ngomong, jauh setelah Fushigi Yuugi tamat, Yuu Watase juga telah menulis dua buah prekuel. Kedua prekuel tersebut berjudul Fushigi Yuugi: Genbu Kaiden yang berkisah mengenai petualangan Takiko Okuda sebagai dewi Genbu, dan dilanjutkan dengan Fushigi Yuugi: Byakko Senki yang bekisah mengenai petualangan Suzun Osugi sebagai dewi Byakko. Genbu Kaiden sendiri telah tamat, juga telah diterbitkan di Indonesia hingga tamat oleh Level Comics, dengan judul The Tale of Genbu. Sementara itu Byakko Senki masih berlanjut di Jepang hingga saat ini.

© Yuu Watase/Shogakukan/Elex Media Komputindo/Level Comics

Kalau mengingat Genbu, saya sarankan siapkan tissue ya. Ceritanya sangat menyentuh sekali ditambah kisah Byakko sendiri yang sudah bisa ditebak (mengingat dalam Fushigi Yuugi atau bisa dibilang kisahnya Miaka diceritakan sekilas soal para dewi sebelumnya).

KAORI Newsline | Ulasan oleh Widya Indrawan | Editor Dody Kusumanto

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.