BAGIKAN
Photograph: Behrouz Mehri/AFP/Getty Images

Menteri luar negeri Jepang tengah berupaya untuk meminta media maupun organisasi internasional untuk menyebut orang Jepang dengan didahului nama marga, baru nama depan. Menteri luar negeri Taro Kono, atau disebut juga di Jepang sebagai Kono Taro menyatakan bahwa media internasional seharusnya menyebut nama orang Jepang dengan cara yang sama ketika menyebut nama orang dari negara Asia lainnya yang menyebut nama marga terlebih dahulu. Sebagai contohnya, ia menyebut perdana menteri Jepang Shinzo Abe seharusnya disebut sebagai Abe Shinzo.

Beberapa kalangan menyebut upaya ini sebagai siasat dari pemerintah Jepang yang didominasi kaum konservatif dalam menunjukkan bertumbuhnya kepercayaan diri Jepang di mata dunia, baik dari sisi budaya maupun sejarah. Apalagi Jepang tengah menjadi sorotan dunia internasional, dengan diselenggarakannya pertemuan G20, Piala Dunia Rugby, dan Olimpiade 2020.

Kono menyarankan supaya perubahan ini dimulai sejak pertemuan G20 yang akan diselenggarakan di Osaka, pada 28 – 29 Juni 2019 mendatang, tatkala para pemimpin negara anggota G20 akan berdatangan ke Jepang. Di antara pemimpin negara G20 itu sendiri, terdapa Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping, dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Baik bangsa Tiongkok dan Korea sendiri memang memiliki tradisi untuk menyebut nama dengan didahului nama marga, baru kemudian nama depan. Namun berbeda dengan Jepang, masyarakat internasional umumnya tetap menyebut orang Tiongkok dan Korea dengan didahului nama marga. Di lain pihak, masyarakat internasional kerap kali menyebut orang Jepang dengan didahului nama depan, sebuah praktek yang sudah lama digunakan sejak abad ke-19 tatkala Jepang tengah menjalani proses modernisasi dan westernisasi.

Menteri luar negeri Taro Kono, atau lebih senang disebut sebagai Kono Taro
Photograph: Maxim Shipenkov/EPA
Advertisement Inline

Di kalangan masyarakat Jepang sendiri juga terdapat perbedaan pendapat mengenai bagaimana menyebut nama mereka di dunia internasional. Berdasarkan polling yang dibuat pada tahun 2000 lalu, setidaknya sekitar 34.9% lebih memilih cara Jepang yang menyebut nama dengan didahului nama marga. Di lain pihak, 30.6% responden lebih memilih cara barat yang menyebut nama dengan didahului nama depan. Sementara itu terdapat 29.6% responden yang tidak memiliki pilihan.

Taro Kono yang lancar berbahasa Inggris dan mengenyam pendidikan di AS sendiri memang dikenal sangat terobsesi mengenai perubahan cara penamaan ini. Bahkan di bawah pimpinannya, kementerian luar negeri telah berupaya untuk menerapkan perubahan cara penamaan ini di dalam dokumen resmi. Bahkan ia menggunakan nama “KONO Taro” dalam kartu namanya.

Langkah Kono ini juga turut didukung oleh Masahiko Shibayama dari kementerian pendidikan, yang juga telah merekomendasikan institusi kemasyarakatan, pendidikan, dan media untuk menggunakan penyebutan nama ala Jepang, sebagai bentuk “penghormatan atas keragaman budaya” antar negara.

Di lain pihak, sekretaris kabinet Yoshihide Suga mengakui bahwa langkah ini tidaklah mudah karena berbagai permasalahan. Apalagi banyak perusahaan Jepang berskala global seperti Uniqlo, Honda, hingga Rakuten yang sudah lama mengadopsi penamaan internasional ala barat dalam struktur perusahaan.

KAORI Newsline | Diterjemahkan dari tulisan Justin McCurry yang dimuat dalam laman The Guardian

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.