Apa yang akan kalian lakukan ketika telah menyelesaikan daftar keinginan kalian jika masih memiliki hidup? Apakah kalian akan menikmati sisa hidup? Ataukah kalian ingin mempercepat hidup kalian? Inilah adaptasi komik Jumyou wo Kaitotte Moratta. Ichinen ni Tsuki, Ichimanen de. atau dikenal juga dengan judul I sold my life for ten thousand yen per year.

Adaptasi komik I sold my life for ten thousand yen per year. berasal dari novel karangan Sugaru Miaki dengan ilustrasi oleh Shouichi Taguchi yang pertama kali dirilis pada tahun 2013 lalu dengan judul Mikkakan no Kofuku atau Three Days of Happiness. Adaptasi komiknya dirilis oleh Shueisha lewat label Jump Comic+ dan dirilis di platform majalah online Shonen Jump+ pada 2016 hingga 2017 sebanyak 3 volume. Komiknya dibuat oleh artis yang sama, yaitu Shoichi Taguchi.

Selain itu komik I sold my life for ten thousand yen per year. telah resmi dirilis oleh M&C! di Indonesia. Volume pertamanya telah dirilis pada 9 September 2020 dan volume keduanya dirilis pada 25 November 2020. Berikut merupakan ulasan volume ketiga dari komik I sold my life for ten thousand yen per year.

Sinopsis

i sold my life ten thousand yen
© 2016 by Sugaru Miaki, Shouichi Taguchi / M&C!

Musim panas yang pernah Himeno ramalkan hampir menjadi nyata. Prediksinya memang salah sebagian, “sampai akhir hayatku, aku nggak pernah kaya ataupun terkenal”. Tapi sebagian prediksinya juga tepat. Kejadian yang sangat baik memang terjadi. Sesuai yang dia katakan, “aku merasa bersyukur telah terlahir ke dunia ini”. Inilah hari-hari terakhir Kusunoki bersama Himeno.

Penceritaan Komik – Akhir dari kesuraman

Jumyou wo Kaitotte Moratta. Ichinen ni Tsuki, Ichimanen de.
© 2016 by Sugaru Miaki, Shouichi Taguchi / M&C!

Melanjutkan kisah setelah daftar keinginan Kusunoki telah terwujud pada volume kedua. Volume ketiga lebih terfokus mengenai masa setelahnya: Nyatanya setelah keinginan Kusunoki telah terwujud, ia sendiri merasa bimbang dan tidak tahu, apalagi dengan ketiadaan Miyagi itu sendiri. Sosok Miyagi sempat menghilang selama beberapa hari dan kemudian digantikan oleh pengawas lelaki yang baru. Pengawas tersebut menanyakan hal menarik kepada Kusunoki. Sebenarnya apakah Kusunoki percaya dengan harga yang ditawarkan untuk sisa hidupnya itu adalah benar? Apakah sebenarnya lebih murah? Atau malah lebih mahal? Terlepas dari pikiran itu, ia mencoba untuk hanya menikmati sisa hidupnya terlebih dahulu.

Beberapa hari kemudian Kusunoki dapat bertemu lagi dengan Miyagi, setelah sebelumnya sempat terpikirkan pertanyaan dari pengawas lainnya. Ia-pun menanyakan pertanyaan itu kembali. Mendapati jawaban dari Miyagi, Kusunoki tidak terlalu terkejut, sedih, ataupun marah, karena ia juga sudah sadar dan hanya ingin semuanya cepat selesai. Selain itu Kusunoki yang dahulu dibilang sebagai orang aneh kini diakui keanehannya sebagai kelebihannya dan orang-orang sekitar-pun bahkan mencoba berbaur dengan keanehan Kusunoki untuk bercakap-cakap dengan Miyagi.

Volume ketiga ini sungguh memberikan impresi yang berbeda daripada volume sebelumnya. Bila volume pertama dan kedua lebih membahas mengenai kesuraman, kini lebih diceritakan bagaimana sang karakter dapat menghadapi realita yang segera menemuinya. Perkembangan karakter Kusunoki sendiri cukup cepat, bahkan berubah dengan cepat hanya dalam 3 volume ini. Kini pembaca dapat melihat bahwa Kusunoki bukanlah orang yang sepedih di awal volume, namun menjadi sosok yang lebih baru dan bertanggung jawab, terutama atas pertemuannya dengan Miyagi. Cerita di sini lebih banyak menceritakan interaksi Kusunoki dengan orang disekitarnya dan bahkan menggambarkan bagaimana Kusunoki dapat lebih berbaur dengan mereka. 

Dapat saya bilang volume ini begitu pas bagi pembaca yang lagi buicin, karena volume ini menjadikan komik ini menjadi cerita anak muda yang mabuk akan cinta. Terlepas dari hal itu, volume ini juga dapat saya bilang sebagai volume yang lebih cerah daripada volume sebelumnya. Melihat Kusunoki yang dahulu pasrah ingin segera mengakhiri hidup dan mendapatkan uang sebanyaknya, namun kini tidak ingin apapun selain ingin menyelesaikan hidupnya dan bersama Miyagi adalah sebuah cerita yang sangat menarik. 

Penggambaran Komik – Pelukan dalam Kegelapan

i sold my life ten thousand yen
© 2016 by Sugaru Miaki, Shouichi Taguchi / M&C!

Jika volume sebelumnya lebih banyak penggambaran kesuraman dan kepedihan dalam kehidupan, kini pembaca lebih disajikan momen-momen bahagia Kusunoki dan Miyagi. Bila dalu saya suka dengan penggambaran kesuramannya, kini saya malah menyukai senyuman Miyagi yang indah ini. Banyak sekali momen-momen indah antara Kusunoki dan Miyagi, dan semua momen itu digambarkan dengan sangat baik! Baik itu momen berdua di malam hari, hujan, hingga di kolam renang, semua sangatlah indah dan detil.

Bagi pembaca yang menyukai Miyagi, maka volume ini dapat dibilang sebagai fanservice yang luar biasa, karena segala momennya penuh dengan Miyagi. Terlebih lagi kedua karakter ini semakin ekspresif dalam berbicara satu sama lain ataupun dengan sekitarnya.

Kesimpulan

© 2016 by Sugaru Miaki, Shouichi Taguchi / M&C!

Volume ketiga telah resmi mengakhiri cerita komik ini yang berupa trilogi. Membaca komik ini seperti melihat kembali cahaya yang dahulu telah pudar dalam diri saya. Terkadang kita memang tidak melihat bahwa dalam merasakan indahnya kehidupan itu sendiri, kitalah yang harus mencari sendiri cahaya baru untuk menerangi hidup kita. Sayangnya volume ketiga ini ditutup oleh akhir cerita yang open-ended, sehingga pembaca bisa memikirkan sendiri bagaimana akhir yang ditemui Kusunoki dan Miyagi. Bagi saya sendiri, saya sedikit kecewa dengan akhirnya, karena saya tidak dapat mengetahui akhir konkrit dari cerita ini selain hanya mengetahui bahwa Kusunoki akhirnya jatuh cinta dengan Miyagi. Jika saja ada akhir yang lebih konkrit atau bahkan lebih mengeksplorasi momen-momen sebelum akhir hidup mereka, saya akan merasa lebih puas lagi dengan akhirnya. Namun kenyataannya hanya inilah yang dapat saya baca. Walaupun begitu, volume ketiga ini juga memiliki adegan bonus yang sebelumnya tidak sempat diceritakan pada volume kedua. 

Komik ini dibanderol dengan harga 28.000 rupiah (untuk pulau Jawa). Sama seperti komik di rentang harga yang sama, komik ini memiliki kualitas yang serupa dengan digunakannya kertas koran untuk bahan cetaknya. Selain itu sama seperti volume pertama dan keduanya, komik yang saya dapatkan ini memiliki kontras hitam yang cukup konsisten sehingga saya tidak melihat adanya warna yang pudar.

Dari sisi penerjemahannya sendiri, saya tidak memiliki komentar seperti volume pertamanya ataupun keduanya. Volume ketiga ini memiliki terjemahan yang cukup mudah untuk saya baca. Namun secara cerita sendiri volume ketiga ini terlalu bercerita dengan luas, sehingga membaca komik ini sedikit membuat saya kewelahan untuk memahami ceritanya.

Mengakhiri volume terakhir dari trilogi komik I sold my life for ten thousand yen per year, maka saya dapat merekomendasikan komik ini bagi #Kaoreaders yang tengah mencari komik singkat namun memiliki makna. Perlu dicatat juga tidak semua cerita di sini dikemas dengan baik maupun menarik. Namun setidaknya komik ini dapat memberikan pandangan lain bagi pembaca yang sedang mengalami permasalahan hidup.

Baca juga:

Ulasan Komik I Sold My Life For Ten Thousand Yen Per Year Vol.1: Berapakah Nilai Hidupmu?

Ulasan Komik I Sold My Life For Ten Thousand Yen Per Year Vol.2: Harga Masa Lalu dan Masa Depanmu?

KAORI Newsline | Oleh Cakra Bhirawa

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.