Ulasan Anime: Ore, Twintail ni Narimasu

0

oretsu1

Ore, Twintail ni Narimasu. (disingkat OreTwi) adalah salah satu judul anime yang tayang di musim gugur 2014. Diadaptasi dari novel ringan karya Yume Mizusawa dengan ilustrasi oleh Ayumu Kasuga, anime ini diproduksi oleh Production IMS dengan sutradara Hiroyuki Kanbe (Oreimo), dan naskah oleh Naruhisa Arakawa (Gokaiger, Akibaranger).

Anime ini bercerita tentang seorang pemuda penggemar model rambut kuncir dua (twintail) bernama Sōji Mitsuka, yang direkrut oleh seorang gadis dari dunia lain bernama Thoearle* untuk bertarung melawan makhluk dari dimensi lain yang ingin mencuri kecintaan terhadap twintail dari orang-orang di dunia. Dengan menggunakan Tail Gear yang dibuat oleh Thoearle, Sōji berubah menjadi gadis jagoan mungil nan imut berambut twintail untuk memerangi para alien tersebut bersama dengan teman masa kecilnya, Aika Tsube; serta ketua OSIS sekolahnya, Erina Shindō.

Panggung Fantasi Twintail

Advertisement Inline

Karakter gadis jagoan sudah sering kita jumpai dalam media hiburan Jepang, baik dalam cerita manga, anime, atau dalam game. Popularitas karakter semacam ini, khususnya di kalangan otaku, bahkan telah dikaji oleh psikiater Jepang bernama Tamaki Saitō dalam bukunya yang berjudul Sentō Bishōjo no Seishin Bunseki (Psychoanalysis of Beautiful Fighting Girl. Telah diterbitkan dalam Bahasa Inggris oleh University of Minnesota Press dengan judul Beautiful Fighting Girl). Namun kali ini, dalam cerita OreTwi kita juga menemukan karakter cowok powerless yang berubah menjadi sentō bishōjo. Bagaimana hal ini dapat dipahami?

oretsu2Ore, sentō bishōjo ni narimasu

Kalau merujuk kepada teori Saitō mengenai sentō bishōjo, yang menjadi daya tarik dari karakter tersebut adalah sifatnya yang hanya dapat berada dalam dunia fiksi dan mustahil ada di dunia nyata. Sentō bishōjo bukan cerminan dari suatu hal yang ada di dunia nyata, dan tidak juga merupakan sesuatu yang diinginkan ada di dunia nyata. Keberadaannya yang murni fiktif tersebut memungkinkan otaku yang menggemarinya untuk membangun berbagai kemungkinan fantasi di seputar karakter tersebut. Sebagaimana dijelaskan secara sederhana oleh Saitō (dalam Galbraith, 2014: 184), “sentō bishōjo sama sekali tidak realistis, namun ia sangat perkasa dalam dunia fiksi. Otaku menghargai hal yang mustahil ada di dunia nyata atau yang hanya dapat ada sebagai fiksi (the fighting girl is not at all realistic, but she is all-powerful in the world of fiction. Otaku value things that are impossible in reality or exist only as fiction).”

oretsu3Cantik-Cantik Sakti

Berdasarkan penjelasan tersebut, rasanya keberadaan karakter Sōji/Tail Red dalam OreTwi masih sesuai dengan argumen Saitō. Jika sentō bishōjo adalah hal yang mustahil ada di dunia nyata, maka lebih-lebih lagi, cowok powerless yang berubah menjadi sentō bishōjo juga mustahil ada di dunia nyata. Mengikuti pendapat Saitō, Sōji/Tail Red juga bisa kita anggap bukan mencerminkan keinginan untuk benar-benar berubah menjadi gadis twintail di dunia nyata. Dengan keberadaan Sōji/Tail Red yang murni hanya ada dalam dunia fiksi, maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dalam dunia fiksi yang dimaksud, karakter tersebut menjadi fokus dari suatu fantasi mengenai twintail.

oretsu4

Dalam aliran ilmu Saitō, fantasi dipahami memiliki fungsi tertentu sebagai pemuas hasrat. Fantasi bukanlah obyek dari hasrat itu sendiri, tapi berperan sebagai suatu setting atau panggung untuk memainkan hasrat dalam suatu skenario (Homer, 2005: 85-86). Kalau dalam bahasa Saitō (dalam Bolton, et al., 2007: 227), otaku menikmati obyek yang mereka cintai dengan menempatkan obyek tersebut dalam konteks fiksi. Dalam hal ini OreTwi berfungsi sebagai panggung konteks fiksi di mana kecintaan terhadap twintail dapat dicurahkan. Kurang lebih segala unsur dalam cerita ini selalu berkaitan kembali dengan twintail. Mulai dari penggunaan ikon sentō bishōjo yang dalam cerita ini memperoleh kekuatannya untuk bertarung dari twintail; tokoh utama cowok penggila twintail yang berubah jadi jagoan cewek twintail; bangsa alien jahat yang datang ke Bumi untuk mencuri twintail sebagai musuhnya; dialog yang mengadu kecintaan terhadap twintail selama pertempuran; dan lain-lainnya. Singkatnya, kecintaan terhadap twintail tercurahkan melalui cerita ini dengan menjadikannya hal paling penting di seluruh jagat raya yang dapat menentukan nasib dunia, di dalam panggung fantasi OreTwi. Perlu disorot juga peran Aika sebagai karakter tsukkomi dalam cerita ini, yang dengan sifat no nonsense-nya mengomentari betapa konyol dan tidak masuk akalnya bertarung dan mempertaruhkan nasib dunia dengan obsesi terhadap twintail, jika dilihat dari perspektif dunia normal. Hal tersebut memperkuat aspek humor dari OreTwi, sekaligus mengingatkan bahwa semua ini hanyalah fiksi yang cukup dibawa fun saja.

oretsu5

Twintail = serious business!

Kesimpulan

Keberadaan OreTwi merupakan media ekspresi untuk mencurahkan kecintaan terhadap suatu hal yang sangat spesifik, yaitu model rambut twintail. Bagi penggemar twintail, ekspresi hasrat melalui karya fiksi seperti ini bukanlah hal yang buruk, dan bisa dianggap masih merupakan hal yang menghibur dengan sehat, dibandingkan dengan memaksakan hasrat tersebut di dunia nyata. Sayang, kualitas cerita dan animasinya sempat mengalami penurunan antara episode 8 sampai 10, sebelum naik lagi di dua episode terakhir. Desain monster oleh Masahiro Yamane (mechanical design Accel World) dan musik latar gubahan Yasuharu Takanashi (Fairy Tail, Sailor Moon Crystal) yang terinspirasi dari seri Sentai atau tokusatsu lainnya adalah hal bagus lainnya dari anime ini; walau untuk musik sayangnya kurang dimanfaatkan dengan baik. Di sisi lain, dengan mempertimbangkan fungsi dan subyek dari OreTwi yang sangat spesifik, tidak disarankan untuk menonton anime ini kalau tidak terlalu terobsesi dengan twintail.

oretsu6Karena tanpa obsesi yang sesuai untuk menyelami fantasinya, pasti mikirnya begini.

Catatan

*Ada beberapa versi mengenai romanisasi untuk nama karakter トゥアール. Di antaranya adalah Thoearle, Twoearle, Thouars, dan Twirl. Penulis menggunakan romanisasi Thoearle karena melihat ilustrasi profil di novel ringannya sepertinya menggunakan romanisasi tersebut. (Bila menggunakan romanisasi Hepburn, maka dibaca menjadi Tuaaru)

Referensi

  • Galbraith, Patrick. The Moe Manifesto: An Insider’s Look at the Worlds of Manga, Anime, and Gaming. Tuttle Publishing, 2014.
    Homer, Sean. Jacques Lacan (seri Routledge Critical Thinkers). London dan New York: Routledge, 2005.
  • Saitō, Tamaki. Beautiful Fighting Girl (terjemahan bahasa Inggris oleh J. Keith Vincent dan Dawn Lawson). Minneapolis: University of Minnesota Press, 2011.
  • Saitō, Tamaki. “Otaku Sexuality” (terjemahan bahasa Inggris oleh Christopher Bolton). Bolton, Christopher, Istvan Csicsery-Ronay Jr., dan Takayuki Tatsumi (editor). Robot Ghosts and Wired Dreams: Japanese Science Fiction from Origins to Anime. Minneapolis: University of Minnesota Press, 2007.

KAORI Newsline | oleh Halimun Muhammad,S.Sos.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.