Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai acara jejepangan yang mengkhususkan diri sebagai acara pasar komik muncul di Indonesia. Mulai dari acara berskala besar seperti Comic Frontier (CF), hingga acara yang lebih spesifik seperti Comipara. Masing-masing acara ini memiliki karakteristik, segmentasi pengunjung, serta pendekatan yang berbeda dalam mempertemukan kreator dan audiensnya.

Dalam perkembangannya, ternyata ada beberapa pengunjung yang merasa acara pasar komik masih belum memenuhi ekspektasi sebagai acara yang beneran “pasar komik”. Dalam kasus acara Comic Frontier (CF) 21, beberapa kreator justru mengeluhkan adanya konser hololive karena dianggap mengganggu dan tidak sesuai dengan semangat pasar komik. Di sisi lain, beberapa kreator juga mengeluhkan apabila acara tersebut kurang ramai, penjualan di booth mereka juga ikut terpengaruh.

Jadi, apa sebenarnya ekspektasi pengunjung terhadap acara pasar komik? Di Chibicon 9 Surabaya pada Desember 2026 lalu, Japan Culture Daisuki menyelenggarakan sebuah acara diskusi bertajuk Nanti Kita Cerita tentang Pasar Komik Hari Ini. Diskusi ini menghadirkan Alan Gea Bagaswara selaku perwakilan Japan Culture Daisuki dan Event Organizer ChibiCon, Kevin Wilyan selaku Editor in Chief KAORI Nusantara, serta komikus Is Yuniarto, John Reinhart, dan Akhmad Fadly. Berikut rangkuman diskusinya!

Spektrum Acara: Mulai dari yang “Komik Banget” Sampai “Abu-abu”.

Dalam praktiknya, bentuk acara pasar komik bisa berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor. Selain untuk mengakomodasi keinginan pengunjung dan sirkel, sisi idealis para penyelenggara acara juga dapat menjadi faktor penentu bagaimana bentuk acara komik ini akan berjalan. Tidak semua pasar komik memiliki tujuan yang sama. Hal ini biasanya sangat terlihat di konten acaranya.

Menurut pengamatan Kevin, spektrum acara pasar komik ternyata sangat luas. Di satu spektrum adalah acara yang dapat dikatakan “komik banget”. Contoh dari spektrum ini adalah Pesta Komik (Peskom) Bandung, acara yang benar-benar fokus sebagai wadah bagi komikus lokal untuk menjual karyanya. Di spektrum lain adalah acara pasar komik yang dirancang sebagai ruang bebas bagi pengunjung untuk beraktivitas, berbelanja, atau sekadar bersosialisasi. Dalam spektrum ini, acara pasar komik terasa seperti “gado-gado” layaknya acara jejepangan biasa karena dicampur dengan elemen acara lain seperti acara hiburan yang mengikuti permintaan pasar. Di tengah-tengah spektrum tersebut ada beberapa acara seperti Comipara yang tidak dapat dikatakan pure pasar komik, tetapi berbeda dengan event jejepangan biasa.

Komikus Akhmad Fadly sependapat soal ini. Fadly menyebut acara seperti Comipara berada di wilayah “abu-abu”. Acara ini dari luar terlihat seperti acara jejepangan umum, tapi memiliki bagian komik lokal yang sangat terlihat, bahkan sangat dipromosikan. Fadly berpendapat event seperti ini penting kerana mampu memantik perhatian terhadap komik lokal melalui pendekatan event jejepangan.

Akhmad Fadly, salah satu perwakilan Komikus yang hadir (Photo by Kevin Wilyan)

Jadi apabila dilihat dari spektrum ini, di manakah Chibicon berada? Menurut Alan, acara Chibicon sendiri justru ingin mengangkat bagian merch-nya. “Jadi, kita malah ingin mempromosikan merchandise di sini.” Hal ini menjadi suatu hal yang menarik. Hal ini juga memperlihatkan realita bahwa tidak seperti di Jepang, benda seperti pin dan gantungan kunci lebih diminati di acara pasar komik Indonesia.

Kreator, Pengunjung, dan EO Punya Ekspektasi yang Berbeda-Beda.

Ketika kita membicarakan soal ekspektasi acara pasar komik di Indonesia, ternyata tiap elemen acara bisa memiliki ekspektasi yang berbeda. Alan sebagai EO menegaskan bahwa acara komik sejatinya tidak hanya sekadar tempat jual beli, melainkan ruang pengalaman yang mempertemukan kreator, karya, dan komunitas dengan cara yang beragam.

Dalam penelitiannya di CF, Kevin membagi elemen acara menjadi 3 bagian: kreator, pengunjung, dan penyelenggara. Setelah mewawancarai mereka, terlihat masing-masing dari mereka memiliki ekspektasi yang berbeda.

Bagi kreator, mereka rata-rata mengharapkan agar acaranya nyaman dan panitia mengakomodasi proses berjualan mereka, mulai dari menyediakan lingkungan yang nyaman untuk dikunjungi hingga bantuan koneksi internet. Mereka juga berharap tidak ada orang yang berjualan barang bootleg atau AI, serta dapat menindak tegas tenant yang berisik. Untuk masalah pengeluaran, kreator rata-rata dapat menerima apabila harga stan cenderung mahal selama mereka dapat balik modal.

Sementara itu, bagi pengunjung, acara pasar komik merupakan tempat mereka untuk mendukung kreator favorit dan merasakan atmosfer nge-wibu yang tidak dapat ditemukan secara online. Untuk acaranya sendiri, mereka berharap fasilitas seperti toilet, musholla, AC, dan ticketing dapat berfungsi secara maksimal. Tentunya, mereka juga ingin terhibur selama acara, apalagi apabila mereka sudah membayar mahal.

Point of view yang jarang kita dengar tentang pasar komik adalah dari sisi penyelenggara. Ternyata dari sisi penyelenggara, Alan menjelaskan bahwa panitia tidak hanya menginginkan cuan dan ramai, tetapi tetap ada sisi idealisme masing-masing. Contohnya, seperti yang sudah dijelaskan, dia ingin acara Chibicon ini tidak hanya fokus pada komik tetapi juga pada merch.

Mas Alan dari Japan CUlture Daisuki (Photo by Kevin Wilyan)

Karena itulah, keberhasilan tidak hanya bisa diukur dari jumlah pengunjung atau seberapa “komik” acara tersebut. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, dan tiap elemen acara punya ekspektasi yang berbeda-beda. Hal-hal seperti skala acara, profil pengunjung, hingga keinginan sponsor juga harus dipertimbangkan.

Butuh Kerja Sama Berbagai Pihak

Pada akhirnya, cukup sulit menentukan satu hal yang menjadi indikator suksesnya acara Pasar Komik. Bahkan saat ini, acara komik sudah dapat dikatakan berevolusi, tidak lagi sekadar tempat jual beli, melainkan menjadi ruang yang mempertemukan banyak elemen pop kultur. Adanya fringe event seperti talkshow ataupun Focus Group Discussion juga memperlihatkan bahwa pasar komik bisa menjadi tempat belajar dan edukasi. Saat ini, pasar komik tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga tempat tumbuhnya ekosistem komik dan fandom.

Diskusi ini juga menegaskan bahwa kesuksesan sebuah acara pasar komik tidak dapat dibebankan pada satu pihak saja. Event organizer, kreator, ataupun pengunjung mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda, namun juga punya peran penting. Oleh karena itu, ketiga elemen tersebut diharapkan bisa memahami satu sama lain.

Tanpa kolaborasi antara penyelenggara, kreator, dan pengunjung, acara pasar komik akan sulit berkembang. Semua orang tentunya ingin agar pasar komik Indonesia tumbuh agar perkembangan komik lokal menjadi lebih baik. Komik lokal sendiri memang belum sekuat komik Jepang. Tetapi seperti yang disampaikan oleh Is Yuniarto saat acara, bahwa komik Indonesia yang mengangkat budaya lokal sejatinya memiliki daya tahan dan potensi untuk berkembang, apabila terdapat ruang yang tepat.

Para peserta berkumpul untuk berfoto bersama setelah acara. (Photo by Hafizh)

KAORI Newsline | Artikel oleh Dany Muhammad

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.