Halo sobat #Kaoreaders! Beberapa waktu yang lalu saat event Comic Frontier (Comifuro) 23 yang berlangsung pada tanggal 31 Oktober-1 November 2026 di ICE BSD, Tangerang kemarin, kami mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai salah satu seiyu yang kebetulan mengisi acara di salah satu booth di Comifuro ini, yaitu kak Mutiara Azka. Nah beliau ini adalah salah satu seiyu baru yang tengah naik daun.
Saat hari pertama, beliau menjadi host dari salah satu IP game lokal lho. Beliau juga jadi salah satu host game lokal “Andalas”. Di sela-sela sesi hosting, kami akhirnya berkesempatan mewawancarai seiyu yang satu ini. Jadi, inilah wawancara KAORI bersama kak Azka:

Boleh perkenalkan diri kakak?
Halo, namaku Mutiara Azka.
Kakak sudah menekuni dunia Seiyu sejak kapan?
Kalau aku di dunia voice acting sebenarnya belajarnya dari tahun 2020, dan ya dari 2020, 2021 tuh mulai ikut wala-wala lah, peran-peran kecil dulu. Sebelum itu aku sebenarnya penyanyi, eh, sempet ikut Indonesian Idol juga, main musical theater udah dari 2015, freelance-freelance, ya aktor panggung lah gitu, sama content creator.
Lalu belajar dari siapa aja kalau boleh tahu?
Aku kalau voice acting awalnya itu belajar bareng sama, oh, jadi ada 2. Ada VO. VO itu mentor pertamaku Sir Johnny White, salah satu legend di dunia VO juga. Ya, sama Voice Institute Indonesia, ada Kak Bimoky, ada Kak Binta Nadila. Untuk dubbingnya sendiri, perseiyu-an itu awalnya sama Kak Tisa Julianti sama Kak Ian Saibani.
Itu 2 mentor pertamaku di industri dubbing.

Apa yang membuat kakak tertarik menekuni dunia Seiyu?
Awalnya aku itu memang suka suara aneh-aneh. Kayak aku tuh suka mengeluarkan suara karakter aneh bersama mamaku dan adik-adikku gitu sehari-hari di rumah. Nah, awalnya itu kan memang pengen jadi performer. Namun ketika COVID, COVID hits, terus eh harus PSBB kan, jadi panggung-panggung terhenti. Aku enggak bisa nyanyi lagi, enggak bisa tampil lagi. Aku pengen banget mencari alternatif karir yang apa ya, gimana caranya ya? Aku pengen tetap pakai talenta aku, enggak pengen balik kantoran gitu. As much as I want to, what can I do? Terus lewat deh iklannya Voice Institute. Jadi dari situ, oh iya ya, ada karir ini yang awalnya dikenalin sama si Johnny White. Aku ngulik-ngulik-ngulik dan emang dari kecil pun aku udah suka nonton kan sebelum berangkat ke sekolah versi dubbingnya Dora, dubbingnya Totally Spies, SpongeBob, dan lain-lain. Dan ternyata beliau-beliau masih aktif di industri, beliau-beliau itu yang nge-dubbing kartun yang aku tonton pas kecil, masih aktif di industri sampai sekarang, sampai aku kerja bareng sama mereka. Jadi wow, it’s like a dream come true.
Kakak Azka bukan cuma menekuni dunia Dubbing, ada jadi content creator, main theater, apakah ada kendala untuk membagi waktu yang begitu sibuk sekali ?
Hmm, sebenarnya sibuk sekali juga belum ya kalau dibilang. Cuman ketika lagi sibuk-sibuknya pasti time management itu perlu, sama kita harus tahu boundaries diri kita masing-masing. Kayak karena kan ini namanya juga kerjaan freelance, Alhamdulillahnya aku masih bisa punya pilihan aku eh mau mengambil satu pekerjaan atau tidak. Karena mungkin secara ekonomi pun aku bukan yang terhimpit banget. Kalau memang aku tidak mengambil beberapa pekerjaan, aku enggak bisa hidup gitu. Jadi aku masih bisa, hmm, apa ya, ngakalin dengan pasang boundaries. Kalau misalkan, oh, badanku udah mulai menyerah, oke, sebaiknya aku hari ini istirahat dulu. Kalau semisalnya aku lagi jalan musikal, oke, sebaiknya aku enggak ambil dubbing dulu. Jadi memang harus diatur dan ketika aku udah mulai hilang dari radar karena misalkan aku lagi sibuk musikal berbulan-bulan, aku harus networking ulang, kayak berani datengin studio lagi, datengin mentor-mentor kayak, Bang, Kak, aku udah available ya buat musik. Jadi memang harus effortnya itu harus selalu konsisten, time management-nya juga jangan dilupain, bayar detail.
Kalau animasi yang kenal Digital Circus, aku main jadi Ribbit, episode 9. Terus animasi Bleach juga, Kid di Gameoverse. Kalau di Netflix, Rumi, K-Pop Demon Hunter, lalu ada juga di Disney film Mufasa, aku jadi Sarabi. Apa ya? Non animasi sih ya, macam drama Korea sih. Sama film Korea kemarin ada Wild Thing judulnya di Netflix. Terus, oh, aku main Thunderbolt di Disney Plus, jadi Fal. Apalagi ya? Ada sih beberapa. Kalau voice acting-nya sendiri kemarin untuk development prosesnya Timun Mas, aku ngisi jadi Timun Masnya. Panca, project Panca di Indonesiana TV, aku jadi Panca-nya. Sama satu lagi ada animasi gede yang aku belum bisa spill, tapi ini IP yang udah dari lama banget.
Trailer Timun Mas yang disuarakan Mutiaza Azka dan sempat menarik perhatian publik
Kalau boleh memilih satu karakter impian untuk disuarakan, siapa yang akan kamu pilih?
Aduh, apa apa? Oh, sebenarnya anything ya. Kayak Genshin Impact sih sebenarnya. Aku pengen banget bisa nyuarain Yoimiya. Yoimiya di Genshin Impact atau any Genshin character is actually like aku. Oh, sama satu lagi tadi, live action. Salah satu peran dubbing live action yang aku paling bangga juga yang baru keluar, East of Eden. Aku main jadi Katie Ames. Aku eh bangga karena satu, itu adaptasi dari buku klasik yang bagus banget. Dua, aktor yang mainnya adalah Florence Pugh, yang di mana idola aku di dunia keaktoran. Jadi aku bisa mainin idola aku itu sutur batam.
Kalau seandainya mendapatkan proyek anime Jepang, sebutkan salah satu yang pengen di Dubbing kak Azka? Salah satu, anime lama pun boleh.
Anime lama boleh. Oke, aku pengen jadi Sasha Braus di Attack on Titan atau Yor Forger di Spy X Family dong. Lalu di Demon Slayer aku pengen jadi, itu lho salah satu istrinya Tengen. Agak unik ya kepengenannya istrinya Tengen.
Apa perbedaan tantangan mengisi suara anime, film live-action, dan game?
Hmm, tantangannya tentunya kalau live action mungkin karena kita mainnya harus natural dan sesuai percakapan sehari-hari, jadi memang kalau aku memang lebih senang main yang natural. Cuman ketika kita harus isi karakter fiksi, comical, yang memang dari adaptasi dari game atau apa, dia kan butuh banyak hiperbola dan juga cara berekspresinya harus sangat cartoonish gitu kan, apalagi anime gitu yang harus, harus yang kayak ah ah atau something like that yang emang harus wow, full power, eh, artikulasinya juga tetap harus jelas. Itu sih, challenge-nya tuh kita harus ekstra 10 kali lipat mungkin ya dalam mengekspresikan. Tapi seru sih.
Menurut kakak, apa yang membuat sebuah suara bisa melekat di ingatan penonton?
Suara aku? Ya, mungkin karakternya kali ya, kayak… eh, suara aku bisa melekat di penonton. I don’t know, mungkin dari cara aku menyampaikan. emosinya? Mungkin mereka melekat, I don’t know. Pasti orang yang sudah terbiasa dengerin versi dubbing dan tahu ngulik gitu ya, ini kak siapa, itu kak siapa, pasti tahu bedanya sih somehow. I don’t know.
Apa harapan buat kakak untuk perkembangan karir ke depannya?
Aku berharap banget aku bisa dapat project di LA bersama dengan Disney Pusat ataupun Pixar or animasi apapun atau aku bisa isi suara buat Genshin Impact. But anyway, I wanna go international with this voice acting thing. Amin.
Mungkin bisa berikan kata-kata buat para pemula yang mulai menekuni karir di dunia Dubbing?
Pokoknya no dreams are too small menurutku. Kayak apapun yang di dekat kamu ketika kamu berharap, ini kayaknya mimpiku deh. Menurutku coba aja kejar dulu karena kamu enggak tahu waktunya akan 1 tahun atau 10 tahun lagi, mimpi itu bisa jadi terca- tercapai. Jadi jangan takut buat kejar apapun yang kamu mau.
wah, sukses buat kedepannya ya kak Azka!
KAORI Newsline















