BAGIKAN

Studio Ghibli adalah salah satu studio animasi Jepang yang paling dikenal di dunia. Dengan mengedepankan kualitas narasi dan teknik animasi, karya-karya Ghibli telah mendapat banyak pengakuan dari kritikus dan berbagai penghargaan. Dengan prestasi seperti itu, film-film Ghibli seringkali dianggap sebagai contoh terbaik dari anime, di mana anime diartikan sebagai karya animasi dari Jepang. Tapi bagaimana kreator di Ghibli sendiri memandang posisi studio mereka dalam ranah animasi Jepang? Ada narasi yang dapat kita telusuri lebih dalam di sini.

Narasi Manga Eiga vs. Anime

Orang-orang Ghibli sebenarnya memiliki kecenderungan untuk menjaga jarak dari sebutan “anime.” Sutradara Hayao Miyazaki, terutama, tidak suka dengan istilah anime dan lebih memilih untuk menyebut karyanya sebagai manga eiga (film kartun, bukan berarti diadaptasi dari manga). Sikap ini mengisyaratkan bahwa anime dipandang sebagai suatu kategori animasi sendiri dan film-film Ghibli tidak termasuk dalam kategori itu. Apa yang dianggap sebagai pembeda antara film-film Ghibli dan anime dalam pandangan ini?

hayaomiyazakiManga eiga sebenarnya merupakan salah satu istilah lama di Jepang untuk menyebut film animasi sebelum istilah anime menjadi populer. Menurut Thomas Lamarre (2009), manga eiga diasosiasikan khususnya dengan film-film animasi layar lebar karya studio animasi Toei Doga di era 1960-an. Toei Doga beraspirasi untuk membuat karya animasi yang bisa menyaingi film-film Disney dan menerapkan teknik full animation yang sama dengan yang digunakan oleh Disney (untuk mengetahui pengertian dan perbedaan antara full animation dengan limited animation, anda dapat membaca artikel berikut ini).

Advertisement Inline

Sutradara-sutradara Ghibli seperti Miyazaki dan Isao Takahata pernah bekerja di Toei Doga, dan mereka memegang keyakinan bahwa full animation adalah animasi yang sebenarnya, bentuk ideal yang menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan karya animasi yang bertaraf sama dengan sinema. Dengan menggunakan label manga eiga, Miyazaki memposisikan karya-karya Ghibli sebagai pewaris dari aspirasi Toei Doga untuk menghasilkan karya sinematik melalui penerapan full animation. Di sisi lain, industri animasi televisi Jepang modern yang diidentikkan sebagai anime, dibangun dengan memanfaatkan teknik-teknik limited animation yang memungkinkan penghematan biaya. Jadi, narasi yang menggambarkan oposisi antara manga eiga vs. anime itu dilandasi oleh narasi mengenai oposisi antara full animation vs. limited animation; antara karya seni sejati dengan produk komersil murahan.

ANIME JANAI! HONTOU NO KOTO SA! (gambar dari bbc.com)
ANIME JANAI! HONTOU NO KOTO SA! (gambar dari bbc.com)

Seolah menegaskan oposisi tersebut, di tahun 2004 Ghibli mengadakan sebuah pameran yang tajuknya kurang lebih berarti “sejarah lengkap manga eiga Jepang dari kelahirannya sampai Spirited Away.” Pameran ini menyertakan karya-karya animasi yang dianggap sesuai dengan visi menerapkan full animation termasuk film-film Toei Doga, sementara banyak seri yang dikenal sebagai anime justru tidak disertakan.

Di sini bukan berarti kategorisasi yang dinarasikan oleh kreator Ghibli lebih benar. Tapi dengan melihat perspektif ini, kita dapat memahami keyakinan dan aspirasi apa yang melandasi pemahaman mereka mengenai seni animasi. Di sisi lain, narasi manga eiga vs. anime ini juga mendapat kritik. Dalam kumpulan esai dan wawancara berjudul Subete no Eiga wa Anime ni Naru (2004), sutradara Ghost in the Shell Mamoru Oshii merasa skeptis bahwa animasi bisa menjadi seperti sinema. Oshii justru merasa perkembangan teknologi digital menghasilkan kecenderungan sinema menjadi seperti animasi.

Sementara Lamarre menyayangkan narasi mengenai oposisi full animation vs. limited animation yang menafikan adanya dialog di antara keduanya. Bagi Lamarre, limited animation bukan sekedar teknik untuk menghemat biaya, namun memiliki nilai dan artistik dan eksperimentasinya tersendiri. Ia mengutip pendapat Takuya Mori bahwa limited animation bisa merubuhkan batasan antara produk komersil dan eksperimental. Lamarre juga mendemonstrasikan bahwa film-film Ghibli sendiri tidak murni menggunakan full animation saja, tapi juga memanfaatkan sejumlah teknik-teknik limited animation untuk tujuan-tujuan artistik tertentu yang memiliki maknanya tersendiri.

Bersambung ke halaman berikutnya.

2 KOMENTAR

  1. Ya Ghibli perlu merencanakan ke depan, dan berinovasi tapi dengan mempertahankan kualitas. Perubahan itu penting, kalau tidak membuka diri Ghibli akan berakhir menjadi sebuah legenda karena krisis penerus

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.