BAGIKAN

Flashfic: Nanti Pasti Lupa Lagi, karya Sychev

kayamiskin_10

Ning nang ning nung ning nang ning nung

Alkisah, di desa Purwerejo, ada seorang saudagar kaya yang dikenal oleh masyarakat sebagai Mbah Somad. Mbah Somad ini…… ya, kaya. Memang beliau gak punya ternak atau sawah, tapi beliau ini yang biasa suka beli hasil panen wong wong cilik di Purwerejo sini.

Ya.. walaupun simbah ini konon kaya, cuma simbah ini luar biasa pelit, pelitnya hampir sama dengan satu tokoh sinetron beken yang biasa ditonton sama warga desa sini. Tiap panen rasanya warga sini kok untungnya makin sedikit aja, padahal harga naik.

Tapi ya mau gimana lagi? Wong ya yang mau beli cuma Mbah Somad. 

Nah, ibu ibu PKK yang kebetulan suka nonton sinetron bisa ditebak lah kerjaannya apa, kalau gak lagi kerja di sawah bantu suami, atau kalau lagi makan sama keluarga, atau kalau lagi ngiring sareng sama ibu ibu PKK lain, kerjaannya pasi ngobrolin si Mbah Somad ini.

“Mbah Somad kemarin cuma ngasih 200 ribu, duit segitu bisa beli apa satu bulan?”
“Ya, memang wong sugih itu kurang ajar, lama lama kita gak bisa makan.”

Akhirnya bapak bapak yang sudah capek diomeli ibu ibu karena uang gak cukup untuk beli nasi pergi ke desa sebelah, kebetulan disini ada saudagar yang namanya Ki Ageng. Nah Ki Ageng ini berani beli lebih banyak dan lebih mahal daripada Mbah Somad.

Panen tiba juga, waktu mbah Somad sudah siapin uang untuk beli panen warga, wong sana ndak mau ada yang jual. Semua sudah dibeli sama Ki Ageng.

Yaaa… akhirnya mbah Somad ndak bisa makan sampe panen berikutnya… 


—————

“Lah, le, kok kamu tulisnya begini?”

“Salah ya?”

“Ya salah lah, Gusti bilang kan harus adil, ya kasihan wong sugihnya kalau gitu.
Wong sugihnya kan sugih karena dia pintar, gak adil kalau begitu ceritanya.”

“Gusti bilang begitu ya…? Yo wes, tak tulis lagi deh.”

—————

Ning nang ning nung ning nang ning nung

Alkisah, di desa Purwerejo, ada seorang saudagar kaya yang dikenal oleh masyarakat sebagai Mbah Somad. Mbah Somad ini…… ya, kaya. Memang beliau gak punya ternak atau sawah, tapi beliau ini yang biasa suka beli hasil panen wong wong cilik di Purwerejo sini.

Ya.. walaupun simbah ini konon kaya, cuma simbah ini luar biasa pelit, pelitnya hampir sama dengan satu tokoh sinetron beken yang biasa ditonton sama warga desa sini. Tiap panen rasanya warga sini kok untungnya makin sedikit aja, padahal harga naik.

Tapi ya mau gimana lagi? Wong ya yang mau beli cuma Mbah Somad. 

Nah, ibu ibu PKK yang kebetulan suka nonton sinetron bisa ditebak lah kerjaannya apa, kalau gak lagi kerja di sawah bantu suami, atau kalau lagi makan sama keluarga, atau kalau lagi ngiring sareng sama ibu ibu PKK lain, kerjaannya pasi ngobrolin si Mbah Somad ini.

“Mbah Somad kemarin cuma ngasih 200 ribu, duit segitu bisa beli apa satu bulan?”
“Ya, memang wong sugih itu kurang ajar, lama lama kita gak bisa makan.”

Akhirnya Mbah Somad lama lama lelah juga dicaci maki dibelakang sama ibu ibu PKK, belum lagi ada rencana warga mau ramai ramai usir simbah karena simbah kelakuannya kayak tengkulak.

Nah daripada Mbah Somad babak belur dihakim wong wong cilik ini, mikirlah simbah, mending pindah aja ke kota ikut anaknya.

Yaaa… akhirnya panen wong cilik ndak ada yang beli.

—————

“Lah, le, kok kamu tulisnya begini?”

“Salah ya?”

“Ya salah lah, Gusti bilang kan harus adil, ya kasihan wong ciliknya kalau gitu.
Wong ciliknya kan cilik karena nasib, gak adil kalau begitu ceritanya.”

“Gusti bilang begitu ya…? Mbuhlah, suruh manusia manusia itu pada tulis sendiri!”



***

 

*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Tautan cerita : Nanti Pasti Lupa Lagi

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.