Ulasan Anime: Seikoku no Dragonar

1

Dragonar

Ecchi, fantasi, aksi dan romansa. Keempat karakter sebuah seri (atau lebih sering dikenal dengan kata genre) selalu menjadi sebuah kombinasi epik yang menarik untuk ditonton. Begitu pula dengan seri Seikoku no Dragonar ini. Cerita seri ini berpusat pada Ash Blake, murid senior tahun pertama di Dragonar Academy, bersama dengan Eco, pal naga miliknya. Beserta dengan berbagai teman yang ia miliki, Ash dan Eco berjuang mempertahankan Akademi miliknya dari serangan dua negara tetangga mereka yang senantiasa berperang demi menentukan superioritas. Dihadang dengan masalah bahwa Ash dan Eco baru bertemu, dan kekurangan begitu banyak pengetahuan tentang naga, perjuangan mereka mempertahankan netralitas Akademi tentu tidaklah mudah, terlebih ketika musuh yang harus dihadapi semakin berat dan semakin cerdik. Disinilah, kerjasama, kepercayaan dan kemampuan mereka berdua sebagai penunggang dan naga diuji hingga batas akhir.

Adaptasi anime yang merupakan debut dari C-Station, bersama dengan Media Factory dan Kadokawa ini menjanjikan sebuah animasi dan grafis yang cukup berkualitas, terutama dalam penggambaran karakter bukan manusia yang mengambil porsi cukup besar dalam seri ini. Seri yang berlangsung selama 12 episode dengan durasi 24 menit per episode terasa cukup pendek jika dibandingkan dengan aksi dan pertempuran epik yang disajikan oleh seri ini. Adegan aksi yang digarap dengan begitu penuh rasa oleh ketiga produsernya, menjanjikan adegan-adegan pertempuran yang terasa hidup. Pengembangan setiap karakter juga jelas, tidak terlalu cepat namun tetap beralur dan tidak keluar cerita asli. Sisipan candaan yang berbau ecchi juga menjadi tambahan sendiri, sekaligus penawar bagi seri yang sarat aksi dan kekerasan ini. Untuk penggunaan lagu temanya sendiri, penempatan dan pengaturannya cukup mendukung suasana cerita yang sedang berjalan. Lagu pembukaan yang bernada ceria dan penuh semangat, dinyanyikan dengan merdu oleh Sakakibara Yui, menjadi pembuka penuh semangat bagi penontonnya untuk setiap episode. Sebagai penghujung setiap episode, lagu penutup bernada ceria dan kocak yang dibawa oleh para pengisi suara wanita dalam seri ini, menjadi penutup renyah bagi setiap episodenya, membuat para penonton dapat melepaskan segala ketegangan dari setiap episodenya dengan sebuah tawa selama menyaksikan penutup ini.

Namun, pada beberapa bagian, kadar ecchi yang disuguhkan seri ini terasa begitu berlebihan. Hal ini malah menjadi kekurangan terbesar seri ini, dimana membuat seri ini menjadi tidak dapat ditonton oleh para penonton yang masih dibawah umur. Beberapa karakter sampingan juga kurang mendapatkan penjelasan, membuat penonton yang belum membaca karya aslinya cukup kebingungan siapakah mereka dan apa perannya dalam seri ini.

Salah satu pesan moral yang bisa dipetik dari seri ini adalah demi mencapai sebuah tujuan, sebuah mimpi, diperlukan perjuangan. Seberapa besar perjuangan itu, tergantung seberapa besar mimpi yang diharapkan. Tentu semakin besar mimpi itu, perjuangan yang harus diberikan, pengorbanan yang harus dilakukan akan semakin besar, dan terkadang akan terasa berat. Namun jika dijalani dengan kepenuhan hati dan keseriusan, hasil yang dikeluarkan dari pengorbanan dan perjuangan itu bernilai jauh lebih besar dari apa yang sudah dikeluarkan.

Akhir kata, seri ini cukup menarik untuk ditonton, terutama bagi penggemar komedi berbau ecchi, yang menjadi kekuatan terbesar dari seri ini. Namun untuk mereka yang masih dibawah umur, tidaklah disarankan untuk menyaksikan seri ini, mengingat kadar ecchi-nya yang begitu intens. Bagi yang ingin menonton seri ini, disarankan untuk terlebih dahulu membaca seri aslinya, baik dalam bentuk novel ringan ataupun adaptasi manga.

Berikut adalah beberapa cuplikan adegan dari episode awal seri anime ini.

KAORI Newsline | oleh Krisma Budianto Irawan

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.