Anime Kesan Pertama Anime Dororo: Samurai Tanpa Anggota Tubuh

Kesan Pertama Anime Dororo: Samurai Tanpa Anggota Tubuh

1
BAGIKAN
©2019 MAPPA dan Tezuka Production - Dororo Production Committee

Manusia diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna, setiap anggota tubuh manusia memiliki fungsinya masing-masing. Namun, bagaimana jika kita kehilangan salah satu anggota tubuh kita. Bayangkan jika kita tidak memiliki mata, tangan, kaki, atau anggota tubuh lainnya. Pastinya kita tidak dapat melakukan kegiatan di keseharian kita. Apalagi bila kehilangan 48 anggota tubuh, tentu satu-satunya keinginan hanyalah kematian. Akan tetapi tidak bagi Hyakkimaru, harapan akan selalu ada bila masih ada tekad dalam diri kita. Terus berusaha sampai akhir pantang menyerah itulah yang coba ditunjukkan dalam anime Dororo

©2019 MAPPA dan Tezuka Production – Dororo Production

Dororo sendiri merupakan manga karya Osamu Tezuka yang dirilis tahun 1967 serta di adaptasi menjadi anime pada tahun 1969. Selain itu  manga ini juga diadaptasi menjadi film live action pada tahun 2007 dan video game untuk konsol Playstation 2. Saat ini produksi serial anime ini dikerjakan oleh MAPPA dan Tezuka Productions. MAPPA sendiri terkenal akan beberapa judul animenya, misalkan Inuyashiki, Yuri on Ice!!!, seri Shingeki no Bahamut (Genesis dan Virgin Soul) serta Zombieland Saga. Sementara itu, Tezuka Production merupakan studio yang didirikan oleh Osamu  Tezuka dan telah melahirkan banyak anime legendaris, misalnya Astro Boy, Black Jack, dan masih banyak lagi. Kehadiran dua studio ini akan memberikan sebuah warna baru bagi  anime Dororo.

©2019 MAPPA dan Tezuka Production – Dororo Production

Anime Dororo sendiri berkisah mengenai seorang anak yang dikorbankan oleh ayahnya demi kekuasaan. Daigo Kagemitsu, ayah Hyakkimaru meminta pertolongan pada 48 Iblis untuk memberikannya kekuatan demi menguasai seluruh wilayah di Jepang. Akan tetapi ada sebuah syarat yang harus terpenuhi oleh Daigo Kagemitsu, yakni sebuah tumbal. maka, dia mengorbankan anaknya sendiri. Hyakkimaru pun lahir tanpa 48 anggota tubuhnya, dibuang ke sungai dan ditemukan oleh Jukai, seorang dokter yang mampu membuat anggota tubuh buatan. Namun, ke manapun Hyakkimaru berada akan selalu ada iblis yang menginginkan nyawanya. Petualangan penuh darah pun dimulai. Namun, di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang pencuri cilik bernama Dororo yang nantinya akan membantu dirinya dalam setiap perjalanannya.

Advertisement Inline

Singkatnya, anime Dororo menawarkan sebuah petualangan yang seru dibalut dengan pertarungan sengit antara Iblis dan manusia. Ceritanya mengambil latar pada periode Sengoku, di mana setiap bangsawan saling berebut kekuasaan sehingga menciptakan peperangan di mana-mana. Hal ini menambah  latar suasana yang semakin dark dilengkapi berbagai macam tragedi.

Berbeda dari Versi Lama

Mengingat Dororo merupakan anime klasik yang dibuat kembali (remake), tentunya Kazuhiro Furuhashi membuat berbagai macam perubahan pada segi cerita serta karakter. Misalkan dalam versi klasiknya Hyakkimaru sendiri telah bertemu dengan Biwamaru sebelum bertemu dengan Dororo yang menasehatinya untuk tetap bahagia walaupun tidak memiliki anggota tubuh serta untuk terus hidup. Di versi baru hal tersebut terjadi sebaliknya, di mana Hyakkimaru bertemu lebih dahulu dengan Dororo sebelum Biwamaru. Selain itu pada versi lama Dororo sendiri dihajar di pinggir sungai karena mencuri makanan sekelompok bandit, sedangkan pada versi terbaru dia dihajar karena menjual barang hasil curian sekelompok bandit.

©2019 MAPPA dan Tezuka Production – Dororo Production

Detail lainnya adalah sosok pendeta di kuil tempat bersemayamnya iblis yang dibunuh oleh Daigo ketika dia sudah bersemedi di versi lamanya. Dalam versi barunya pendeta tersebut langsung dibunuh sebelum Daigo bersemedi. Hyakkimaru dapat berbicara (beberapa sumber mengatakan itu termasuk telepati), sedangkan di versi baru tidak. Adapun yang tidak mengalami perubahan adalah kemampuan bertarung Hyakkimaru yang luar biasa dan memiliki semacam extra sensory perception (ESP) pada kedua versinya. Selain itu versi baru ini menampilkan visual yang lebih fresh, namun tidak serta merta membuang ciri khas gaya ilustrasi dari Osamu sendiri. Poin lain yang tidak boleh terlewatkan adalah landscape tempat yang begitu indah khas zaman pertengahan di Jepang, ditambah latar suara serta pengisi suara yang menambah poin plus dalam versi terbaru ini.

Berbeda Bukan Berarti Buruk

Bukan berarti semua perubahan ini buruk. Pada versi baru ini Kazuhiro Furuashi ingin membangun karakter Hyakkimaru dari zero to hero. Ini dilakukan untuk memunculkan sebuah karakter yang terlihat realistis, terlebih Hyakkimaru terkesan tidak memiliki emosi (dan lambat laun emosinya terbangun seiring dengan berjalannya cerita) sehingga menciptakan kesan yang lebih kejam, brutal, dan keras pada setiap cerita yang disuguhkan. Hal tersebut berbeda dengan Osamu yang menampilkan Hyakkimaru sebagai sosok melankolis dan emosional, yang pada titik tertentu dalam kehidupannya  berjuang untuk mendapatkan kembali tujuan hidupnya.

©2019 MAPPA dan Tezuka Production – Dororo Production

Dengan formula baru ini Kazuhiro berhasil menyihir penonton, terlebih bagi Anda yang mencintai aksi-aksi petarungan intens tanpa basa-basi. Akan tetapi ada beberapa aspek yang terasa hilang. Pada versi lama, Osamu Tezuka banyak menampilkan pesan-pesan moral dibalut emosi, seperti ketika Dororo bertemu seorang pendeta yang kelaparan dan meminta pertolongan. Dororo mengatakan kenapa sang pendeta tidak mencuri saja (hal ini wajar ketika pada masa peperangan), Namun, pendeta itu mengatakan bahwa mencuri makanan orang lain adalah perbuatan memalukan dan setelah itu ia berdoa. Sedangkan pada versi baru ini pesan tersebut terasa seakan-akan tertutupi oleh pertarungan yang lebih intens, walaupun sebenarnya pesan itu ada untuk disampaikan. Misalkan menolong tanpa pamrih yang ditunjukan oleh Jukai (dokter sekaligus ayah angkat Hyakkimaru), atau belajar untuk mandiri yang ditunjukkan Dororo ketika ingin memberi makan seekor anak anjing. Namun, poin penting yang tidak boleh terlupakan adalah ide kenapa Dororo hadir, yakni untuk menyampaikan sebuah pesan Osamu kepada kita (khususnya anak-anak) bahwa kekerasan maupun peperangan bagaimanapun bentuknya akan membawa kehancuran dan kesengsaraan.

Akhir Kata

Anime Dororo mungkin bukanlah  karya masterpiece dari Osamu Tezuka. Apalagi salah satu kekurangan dari anime ini adalah ceritanya yang mudah sekali tertebak. Akan tetapi Dororo memberikan sesuatu yang berbeda, yakni perasaan emosi yang kuat baik itu di versi lama maupun baru. Selain itu pertarungan yang intens, grafik yang ciamik tak lupa landscape mempesona serta detail-detail lain. Sudah sepantasnya Dororo layak masuk pada daftar list anime Anda pada musim dingin 2019 ini.

KAORI Newsline

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.