BAGIKAN

Perhatian: Ulasan ini mengandung spoiler isi cerita dari filmnya

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa~”

Sekilas dalam posternya, film anime berjudul Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou yang disingkat Sayoasa, atau dikenal juga sebagai Maquia: When the Promised Flower Blooms ini tampak terlihat seperti cerita tentang romantisme sepasang kekasih. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan apa yang diceritakan. Film anime ini berkisah tentang seorang Ioprh dan seorang manusia yang memiliki hubungan dekat. Namun sedekat apakah mereka? Mari kita ulas bersama-sama!

Advertisement Inline

Prolog

© Project Maquia

Dalam film ini dikisahkan mengenai Maquia, seorang perempuan yang berasal dari suku bernama iorph yang berhenti menua sejak menginjak usia remaja. Maquia yang tidak punya keluarga menjalani hari-harinya dengan damai hingga sukunya diserang oleh tentara kerajaan. Maquia berhasil menyelamatkan diri tapi harus kehilangan tempat tinggal dan teman-temannya. Perempuan tercantik di sukunya, Leilia, juga dibawa oleh para tentara. Saat Maquia sendirian melewati hutan, ia menemukan Ariel, bayi kecil yang kehilangan orang tuanya. Maquia lalu membesarkan Ariel sekalipun dirinya tidak bisa menua sedangkan Ariel kian bertumbuh dewasa. Kisah ini menjadi lembaran unik bagi keduanya. Akankah Maquia dan Ariel memperoleh kebahagiaan?

Ceritanya berlatar di dunia di mana sekelompok ras yang disebut Iorph hidup di sebuah desa yang damai. Di satu sisi manusia menganggap Iorph adalah ras yang unggul dan diagungkan. Di sisi lain para Iorph tidak terlalu suka dengan manusia karena mereka masih suka  berperang atas wilayah dan kekuasaan semata. Menurut pengulas, cerita ini tidak hanya sekedar kehidupan sehari-hari kedua ras, namun juga mengambil tema tentang perang, drama, dan yang paling menarik perhatian adalah praktek pernikahan politik.

Love as Mother, Prideful as Son

Pada pertengahan cerita, kisah romantis antara Iorph dan manusia terjalin. Namun, kisah romantis ini bukanlah cerita tentang 2 sejoli yang menjalin kasih satu sama lain, melainkan perasaan sayang dan tanggung jawab seorang ibu terhadap anaknya.

Hal ini dibuktikan dengan gigihnya Maquia sang Iorph yang berusaha untuk membesarkan Ariel si anak manusia yang ia temukan pada saat melarikan diri dari serangan tentara kerajaan. Seiring berjalannya waktu, si anak manusia pun tumbuh dewasa dengan cepat dan mulai mencari jati dirinya. Pemberontakan masa pubertas pun tak terelakkan. Sang anak mulai melanggar peraturan ibu angkatnya. Walaupun begitu, sang ibu tetap sadar bahwa manusia berkembang dengan sangat cepat, berbeda dengan ibunya yang merupakan ras Iorph yang berhenti menua. Pada saat inilah sang anak mulai memasuki saat di mana ia ingin mandiri dari ibunya.

Waktu Berlalu, Siklus pun Berganti

© Project Maquia

Pada akhirnya, manusia yang mempunyai batas umur yang pendek akan dengan cepat tumbuh dan berkembang. Meskipun berumur 50 tahun, sosok Maquia sudah begitu berbeda dengan Ariel yang memiliki batas umur pendek. 10 tahun saja sudah cukup untuk mengubah wajah, suara, dan kepribadian dari manusia itu sendiri. Sang anak yang dulunya manja dengan sang ibu kini telah menjadi seorang pria yang gagah berani.

© Project Maquia

Dan kini sang anak pun mulai memasuki masa hidup di mana dialah yang akan menjadi sosok orangtua. Sosok yang bertanggung jawab atas kehidupan baru, karena dalam berbagai bentuk dan rupa kasih sayang akan selalu sama.

Kesan 

Dalam segi cerita, Maquia telah sukses dalam mengeksekusi segala elemen cerita yang ada, baik dalam segi karakter maupun perkembangan konfliknya. Studio P.A Works yang menggarap film anime ini juga sukses dalam memproduksi animasinya. Prestasi yang berhasil diraih film ini pun tidak main-main. Karya debut penyutradaraan dari penulis naskah Mari Okada berhasil menyabet penghargaan dunia yaitu Golden Goblet Award untuk kategori Best Animation Film dalam acara 21st Shanghai International Film Festival, dan menjadi nominasi dalam Best Feature Length Film di kategori Fantastic Discovery dalam Sitges Film Festival ke-51.

Kritik

Meskipun film anime Maquia sukses dalam banyak kategori, bagi penulis film ini masih dapat ditingkatkan dari beberapa hal. Terutama dalam segi tempo penceritaan, film Maquia terkesan terburu-buru dalam melakukan timeskip, padahal sebuah timeskip masih butuh diberikan kejelasan cerita, seperti bagaimana Ariel menikah dengan istrinya dan, yang terutama sekali, sebuah gambaran singkat tentang kehidupan setelah Ariel hidup dengan anaknya sampai dengan menjadi tua renta sebelum mencapai akhir hayatnya. Namun bukan berarti penulis mengatakan ini merupakan film anime yang buruk. Sebaliknya, ini adalah film yang cocok ditonton untuk Anda yang ingin mengingat bagaimana indahnya hubungan orang tua dengan anaknya, seperti yang digambarkan lewat salah satu kutipannya:

“I’ll Believe, in any shape or form, The Promised Flower Will Blooms Beautifully”

Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou atau Sayoasa, atau dikenal juga sebagai Maquia: When the Promised Flower Blooms telah tersedia secara legal di Indonesia melalui Ponimu.

Ingin menonton Maquia secara legal di Indonesia? Jangan lupa kunjungi situs Ponimu di bulan Juli ini!

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.