©Angel Sign Film Partners

Angel Sign adalah film omnibus bergenre drama keluarga yang digarap oleh lima sutradara lintas negara dari Jepang, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, dengan Tsukasa Hojo sang mangaka City Hunter sebagai General Director. Sebagai film omnibus, Angel Sign mempunyai lima buah cerita berbeda yang digabungkan dalam satu film. Di dalam film ini, keseluruhan film hanya mengandalkan aspek visual serta scoring tanpa adanya dialog dari para karakter sekalipun (walau di beberapa adegan tertentu ada suara ketawa atau suasana riuh).

Sinopsis 

Film ini terdiri dari beberapa cerita yang diawali dengan Prologue dan diteruskan oleh 5 cerita lainnya dan disatukan di bagian Epilogue. Karena hadir dalam format omnibus, lima segmen dalam film ini akan kami ulas sebelum akhirnya kami mengulas isi film ini secara umum.

Prologue oleh Tsukasa Hojo

Advertisement Inline

Segmen Prologue berkisah tentang Aika (Nao Matsuhita), seorang pemain cello yang kehilangan suaminya, yaitu Takaya (Dean Fujioka). Takaya merupakan seorang pianis. Sebelum meninggal dunia, ia berlari ke tempat acara perform session bersama Aika hingga Takaya jatuh karena penyakit yang dideritanya. Ia meninggalkan sebuah partitur musik dengan judul “Angel Sign” kepada Aika.

Kepergian sang suami sempat membuat Aika terpukul. Penonton akan diperas terlebih dahulu emosinya akan kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Tekad Aika untuk memainkan komposisi ‘Angel Sign’ seorang diri sempat membuatnya khawatir dan membuatnya terhenti.

Namun, keajaiban terjadi dimana saat ia tengah melantunkan komposisi tersebut, tiba-tiba saja lantunan piano Takaya muncul yang membuat Aika kaget dan memutuskan berhenti. Ia lalu melihat sebuah kupu-kupu biru yang hinggap di lembaran partitur tersebut, lalu kupu-kupu itu pergi keluar ke dunia yang bebas. Kupu-kupu tersebut akan menghubungkan berbagai kisah yang ada dalam film ini.

Beginning and Farewell oleh Ken Ochiai

Segmen ini menceritakan seorang masinis (Naoto Ogata) yang ditemani oleh seekor anjing peliharaannya, Atom. Bukan tanpa sebab Atom menemani majikannya. Sebelumnya, sang masinis selalu bersedih karena telah ditinggal oleh istrinya yang dulu membuka kafe di sebuah stasiun kereta di tempat yang biasa si masinis lintasi. Atom pun mencoba menghibur sang masinis dengan mengajaknya mengenang kisah-kisah lama mereka.

Dengan alur yang cukup straight, bagian ini penuh dengan drama keluarga suami-istri yang sangat harmonis namun juga menyedihkan. Kepergian sang istri membuat masinis tersebut kesepian, walaupun ia masih memiliki Atom. Naoto Ogata yang berperan sebagai masinis patut diberi apresiasi yang besar sebab ia dapat menghadirkan emosi yang cukup dalam mengenai kesendirian seorang masinis kereta di desa yang kecil.

Sky Sky: Letter to The Sky oleh Nonzee Nimbutr (Thailand)

Segmen ini enceritakan seorang anak perempuan (Praewpun Parnyim) yang sedih dan kesepian karena kehilangan anjing peliharaannya yang disayanginya sejak dulu. Namun, Ayah (Phiphob Kamolketsophon) dan Ibunya (Boonin Inlueng) mencoba menghibur anaknya tersebut, dengan membuat pesan kepada anjingnya melalui layangan sebagai media untuk menyampaikan pesannya.

Walau bagian pada segmen Sky Sky ini cenderung memperlihatkan penonton akan sakitnya kehilangan sesuatu yang disayangi, tapi bagian film ini cukup menghibur banyak penonton. Karakter sang anak perempuan yang diperankan oleh Praewpun Parnyim cukup membuat hati penonton lega setelah melewati dua bagian sebelumnya, karena dia memiliki watak kekanak-kanakan yang sangat menarik penonton. Walaupun emosi seorang anak kecil cukup sering dipandang sepele di mata orang (termasuk orang tuanya di bagian ini), emosi itulah yang penting bagi anak-anak seusianya.

Thirty and a Half Minutes (30m30s) oleh Ham Tran (Vietnam) 

Segmen ini menceritakan hubungan antara keluarga yang menyentuh. Seorang Ibu (Xuan Van) sedang dihadapi kondisi ingin melahirkan. Namun dirinya didatangi oleh malaikat maut yang bertugas untuk mencabut nyawanya. Di sisi lain, sang Ayah (Ngo Quang Tuan) terlihat cemas dari ruang luar operasi. Tetapi melihat sang Ibu yang ingin melahirkan anaknya, malaikat maut memberikan waktu selama 30 menit lagi untuk mempertemukan sang ibu kepada suami dan anak yang dilahirkannya untuk terakhir kalinya.

Memiliki porsi yang lumayan sedikit untuk bagian horornya (di bagian kehadiran malaikat maut), bagian film ini cukup membuat bulu kuduk merinding karena mengingat tiap manusia dapat dicabut nyawanya dalam kondisi apapun, termasuk melahirkan. Meskipun demikian, sisi yang mengharukan muncul di saat Xuan Van telah melahirkan dan Ngo Quang Tuan tampak bahagia memegang bayinya.

Ada bagian di film Thirty and a Half Minutes yang memberikan gambaran kepada kita tentang perjuangan seorang ayah, yang nantinya akan menimbang tugasnya sendiri apabila istrinya sudah tiada setelah melahirkan. Begitu pula dengan seorang ibu, yang ketika tengah melahirkan, dapat mempertaruhkan apapun termasuk nyawanya sendiri.

Father’s Gift oleh Masatsugu Asahi (Jepang)

Segmen ini menceritakan sang anak perempuan (Neennara Boonbithipaisit) yang diberikan hadiah robot (MechatroWeGo)  oleh ayahnya (Jiro Sato) sebagai pengganti ibunya yang telah tiada. Banyak kenangan yang mereka berdua jalani bersama seperti belajar, bermain dan bersantai bersama. Namun, tahun demi tahun sang anak sudah mulai besar dan bermacam konflik mulai terjadi. Suatu hari, sang anak yang sudah besar itu bersedih karena sudah kehilangan sosok ayah karena penyakit yang dideritanya. Akan tetapi, si robot berusaha mengembalikan senyuman sang anak seperti masa kecilnya.

Drama keluarga di dalam bagian ini menunjukkan sebuah kenyataan yang manis maupun pahit dari hubungan ayah dan putrinya. Meski demikian, dalam masalah yang muncul di kehidupan ayah dan anak ini, tak ada satupun yang patut disalahkan bila dilihat dari sudut pandang penonton. Yang perlu diketahui adalah ayah serta anak perlu belajar untuk memberi pengertian satu sama lain demi masa depan yang lebih baik, meski di masa depan salah satu dari mereka harus terpisah karena maut.

Back Home oleh Kamilla Andini (Indonesia)

Segmen ini mengisahkan seorang ayah (Teuku Rifnu Wikana) yang kembali ke rumah demi anak perempuannya (Abigail untuk versi masa kecilnya dan Mikako Yoshida sebagai versi masa dewasanya) setelah meninggalkannya untuk bertugas ketika sang anak masih kecil. Tapi banyak kenangan yang diingat oleh seorang ayah pada anaknya sebelum ia berpisah dari kegiatan sang anak untuk bermain dan bekerja di ladang jagung sampai memberikan si anak hadiah.

Film ini berlokasi di Sleman, Yogyakarta dan mengambil setting waktu di era orde baru. Segmen Back Home merupakan yang paling dinanti oleh penonton JFF 2019 karena banyak momen yang mendebarkan, serta latar belakang film yang cukup membuat penonton takut. Tetapi ada juga adegan seperti pesta budaya (pesta panen) sebagai perkenalan budaya Indonesia ke para penonton.

Di bagian cerita Back Home ini cukup untuk memberikan pesan politis kepada para penonton mengenai era tersebut dan menyimpulkan bahwa di mana bagian si ayah yang diperankan oleh Teuku Rifnu ‘dibunuh’ oleh tentara karena mengeksekusi tahanan politik Orde Baru, padahal si tentara lah yang disuruh untuk menembak target yang disediakan tanpa sadar.

Epilogue oleh Tsukasa Hojo


Bagaimana jika semua karakter dalam semua bagian film ini bertemu di dalam satu tempat yang sama? Mulai sang masinis di bagian Beginning and Farewell sampai anak perempuan yang ditinggal mati ayahnya di cerita Back Home berkumpul di sebuah bandara di Jepang di saat badai salju menghantam. Mereka disatukan oleh lantunan Cello milik Aika, yang melantunkan melodi dari ‘Angel Sign’ yang dibuat Takaya.

Arigatou” merupakan satu-satunya kata yang muncul dari seluruh bagian film yang ada di bagian epilog ini. Aika berterima kasih pada sang kupu-kupu biru yang telah menghubungkan semuanya dari berbagai tempat di dunia.

Ulasan Umum

Cerita-cerita di dalam film Angel Sign sendiri diadaptasi dari lima cerita yang dipilih dari lebih 6 ribu lebih karya dari 108 negara yang masuk ke dalam kompetisi Silent Manga Audition di Jepang. Selain menyuguhkan film tanpa adanya dialog, film ini juga memperkenalkan keragaman budaya di berbagai negara, karena beberapa film bertempat seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Jepang

Perlu diketahui bahwa sutradara utama dalam film Angel Sign sendiri adalah mangaka City Hunter yaitu Tsukasa Hojo. Perannya sebagai seorang sutradara merupakan yang pertama kali dilakukannya. Walau Tsukasa-sensei masih perlu untuk belajar membentuk sebuah antologi film yang sempurna dan utuh, Angel Sign merupakan awal yang baik baginya untuk membuat karya film omnibus.

Film Angel Sign telah tayang perdana dalam gelaran Japanese Film Festival 2019 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, pada 7 November 2019 yang lalu. Film akan diputar selama pegelaran Japanese Film Festival 2019 berlangsung, yaitu pada 7 November sampai 22 Desember 2019 di Jakarta, Makassar, Surabaya, Yogyakarta (yang digabung dengan event JAFF 2019) dan Bandung. Film Angel Sign juga akan ditayangkan di bioskop-bioskop Jepang pada 15 November 2019.

KAORI Newsline 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.