Siang itu di ruang kelas salah satu SMP negeri di Jakarta Barat, ada sekumpulan murid yang berkumpul melingkari dua meja kayu dengan dekorasi jeritan hati dan suara rakyat penghuni sekolah yang ditulis dengan tinta putih pen corrector. Dalam sebuah majelis yang tak resmi itu, mereka saling bersenda gurau dan menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Salah satu di antaranya ada yang tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya, mengeluarkan sebuah buku yang sangat jarang dilihat di lingkungan sekolah seraya berkata “Eh kemarin gue nemu komik Indonesia nih di toko buku, lucu dah.”

Itulah momen saat saya untuk pertama kalinya berjumpa dengan komik Indonesia. Salah satu teman saya menyodorkan berbagai komik Benny & Mice, kalau saya tidak salah ingat yang dia bawa adalah “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta” dan “Lagak Jakarta”. Di saat itu saya takjub melihat apa yang ada di hadapan saya. Saya ingat sekali masa-masa itu adalah masa perkenalan saya dengan dunia pop kultur di mana saya hobi main warnet untuk rame-rame bermain Getamped dan baca komik Jepang bajakan di situs Manga One. Sebagai pribadi yang baru saja terlena dengan produk pop kultur dari luar, saya merasa kaget melihat kalau ternyata ada juga komik Indonesia. “Ada toh komik Indonesia?” ujar saya kagum sambil menahan ketawa melihat bagaimana stereotipe warga Jakarta tergambar secara komikal dalam “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”.

Advertisement Inline
© Kepustakaan Populer Gramedia

Sejak hari itu, saya iseng mulai main-main ke mal untuk pergi ke toko buku Gramedia dan melihat “Benarkah ada komik Indonesia?”. Namun di saat itu, saya sulit sekali menemukan komik Benny & Mice seperti yang dikasih lihat teman saya di sana. Saat itu rak komik masih dipenuhi oleh komik Naruto yang sedang on-going di nomor 20-an kalau tidak salah. Setelah berkeliling lama akhirnya saya menemukan juga komik Benny & Mice, namun tidak di rak komik, melainkan di rak novel Indonesia. Jumlahnya pun tak banyak, hanya ada 1-2 judul dengan 5-6 buku di masing-masing judul.

Sedikitnya populasi komik Indonesia mendiami toko buku ini menjadi salah satu diskusi yang terus bergulir di era 2010-an awal. Masih tertanam di benak saya ketika saya mendapat tugas peliputan lapangan pertama kalinya sebagai staf KAORI Newsline adalah menghadiri acara Pekan Produk Kreatif Indonesia tahun 2013 yang diadakan di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Salah satu mata acara yang saya liput adalah diskusi mengenai komik Indonesia, pada waktu itu salah satu perhatian besar dalam tema pembahasan adalah bagaimana praktik bisnis toko buku dinilai menghambat perkembangan komik Indonesia yang pada masa itu masih sulit eksis di toko buku. Topik lain yang dibahas di malam itu adalah pentingnya pembentukan asosiasi sebagai lembaga yang menjadi garda depan “kebangkitan komik Indonesia”. Iya, saya ingat saat itu sebenarnya topik besar diskusinya adalah bagaimana komik Indonesia bisa kembali bangkit. Diskusi berlangsung kondusif dengan masing-masing pembicara dari sisi penerbitan, komikus, hingga akademisi, mengeluarkan pendapatnya hingga kemudian terdistraksi oleh penampilan meriah dari JKT48.

Namun seiring waktu berjalan, terutama setelah saya bergabung dengan KAORI, saya benar-benar merasakan bagaimana transisi dunia perkomikkan Indonesia berjalan. Saya sangat berterima kasih sekali kepada mas Dody Kusumanto yang sejak awal saya masuk di KAORI, beliaulah yang membuka jendela saya terhadap dunia industri kreatif lokal. Awalnya di SMP saya hanya tahu komik lokal itu Benny & Mice saja, namun berkat mas Dody dan tim KAORI yang lain saya jadi tahu bahwa ada banyak komik lokal lainnya yang pada masa itu sama-sama berjuang dengan cara sendiri-sendiri untuk bisa menunjukkan taringnya di negeri sendiri. Dari berbagai kegiatan jurnalistik dan event yang dijalani oleh tim KAORI pada waktu itu, di sanalah saya menyaksikan bagaimana komik Indonesia berkembang.

Melihat apa yang ada di hari ini, saya rasa sebagian besar poin diskusi yang dibahas pada acara PPKI 2013 sudah banyak yang tercapai. Sekarang setiap kali saya pergi ke Gramedia di berbagai mal, sudah ada 1-2 rak yang dipenuhi oleh komik lokal. Tidak hanya itu, malah sekarang setiap kali saya “cuci mata” ke Kinokuniya, mulai ada 1-2 baris rak yang diisi oleh komik lokal. Notifikasi ponsel saya setiap hari pun dihiasi dengan pemberitahuan ada judul Webtoon baru yang terbit. Begitu pula dengan beranda sosial media saya kini dihiasi dengan banyak sekali komik strip lokal karya kreator Indonesia. Asosiasi pun sudah terbentuk sejak tahun 2018 yang diprakarsai oleh perusahaan yang bergerak di bidang komik di Indonesia.

This slideshow requires JavaScript.

Mengutip paragraph dari rilis pers yang disampaikan dari pihak AKSI (Asosiasi Komik Indonesia):

“Dalam 2 tahun terakhir telah terjadi ledakan Komik Indonesia. Perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar yang mendorong ledakan tersebut. Saat ini, 13 juta orang membaca komik Indonesia setiap harinya lewat ponsel. Penggemar komik sekarang bisa membaca komik Indonesia sebanyak tiga kali sehari, saat makan siang, sore ketika pulang beraktivitas dan menjelang tidur. Lebih dari 100 judul komik Indonesia rilis mingguan setiap hari sepanjang tahun di berbagai aplikasi komik dan media sosial, sangat kontras dengan 10 tahun yang lalu ketika jumlah komik lokal yang diterbitkan mungkin bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.”

Terkesan bombastis namun ungkapan “ledakan Komik Indonesia” memang cocok untuk menggambarkan apa yang terjadi saat ini. Selain dari sisi kuantitas yang meningkat, saat ini komik juga sudah menjadi media yang lebih dari media hiburan semata. Tingginya pembaca dan fanbase dari berbagai judul komik lokal kini menarik perhatian brand dan pelaku industri lain untuk berkolaborasi dengan para komikus. Kolaborasi bisa dilakukan dengan berbagai bentuk mulai dari endorsement di komik Instagram hingga peluncuran produk kolaborasi khusus seperti yang dilakukan oleh Seagate yang merilis headset dan harddisk eksternal bertemakan Tahilalats.

Banyak komikus dan studio komik yang kini juga bertambah kesibukkannya. Tidak hanya membuat konten komik untuk diupload atau dicetak, mereka juga harus berkreasi untuk membuat produk turunan dari komik yang ada. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan tempat saya bernaung saat ini, PIONICON yang juga aktif mengembangkan IP komik lokal ke dalam berbagai macam produk merchandise mulai dari alat tulis, toys, hingga fashion.

This slideshow requires JavaScript.

Alih wahana, Alih media, atau yang akrab dikenal sebagai Media Mix dalam ranah industri anime di Jepang pun kini mulai diterapkan oleh berbagai kreator di Indonesia. Pada tahun 2017 PIONICON menggandeng rumah produksi Falcon Pictures dan studio animasi Kumata untuk membuat film animasi Si Juki the Movie, yang memang secara kualitas masih perlu banyak perbaikan, namun berhasil menarik lebih dari 700 ribu penonton hingga mencetak rekor sebagai box office animasi adaptasi komik pertama di Indonesia. Pertengahan tahun 2019 jagad perfilman juga digemparkan dengan bangkitnya kembali karakter legenda karya pak Hasmi yaitu Gundala yang diadaptasi menjadi film live action yang cukup fenomenal. Tidak hanya di industri arus utama, banyak juga kreator individu yang berani mengolah komik strip menjadi media animasi yang telah ditonton jutaan kali seperti Sengklekman dan Si Nopal.

Jika ditanya “apakah saat ini komik Indonesia sudah menunjukkan taringnya di negeri sendiri?” jawaban saya adalah “Tentu saja sudah”. Meski begitu, seperti kata motivator-motivator ulung atau ucapan teman yang (mungkin) sedang iri dengan pencapaian seseorang (lol) “Jangan mudah puas dengan apa yang sudah dicapai.” Dan entah kenapa saya setuju sekali dengan kata-kata tersebut ketika melihat bagaimana komik Indonesia saat ini.

Memang sih saat ini komik Indonesia sudah memiliki rak sendiri di toko buku, namun rak tersebut masih dipenuhi oleh lebih dari 30 judul Si Juki, atau sederetan volume majalah komik Re:ON. Baik Si Juki, Re:ON, dan komik-komik lain yang berhasil memadati rak komik lokal di toko buku sudah melakukan prestasi yang luar biasa. Namun tentu diharapkan (kembali ke topik asal artikel ini yaitu harapan terhadap komik Indonesia) ada banyak lagi judul-judul baru yang bisa ikut meramaikan rak toko buku, atau malah memiliki 1 rak khusus seperti halnya Si Juki.

Anggapan bahwa “Komik Indonesia tidak ada nomor 2” kini sudah hancur lebur, sudah banyak komik lokal di toko buku yang mencapai nomor volume dua digit. Tidak dapat dipungkiri dan harus diakui bahwa Si Juki memang memiliki kekuatan yang sangat besar dalam komik cetak, bahkan sampai toko buku dan penerbit mengadakan Bulan Juki Nasional. Tetapi untuk mencapai kondisi ideal (dan bisa jadi utopis) tentu dibutuhkan lebih banyak “Si Juki” lainnya. Bagaimana Si Juki bisa terus konsisten menghadirkan eksistensi di komik cetak dan sinergi antar komik cetak dan online perlu dijadikan contoh. Semangat kolaborasi yang terus relevan mengikuti perkembangan jaman bagi saya adalah kunci dari bagaimana Si Juki tetap eksis. Dengan berkolaborasi bersama Kementerian Kemaritiman Si Juki bisa merilis seri komik Jalan-Jalan Nusantara, Si Juki juga vokal menyuarakan pendapat mengikuti apa yang sedang ramai dibahas pada tahun 2019, yakni politik, hingga bisa meluncurkan komik #SayatidakMemilih. Kolaborasi dan menyesuaikan jaman bisa menjadi penggerak ide kreatif untuk berkarya.

Dalam spektrum lain, ada Tahilalats yang merajai komik online dengan lebih dari 3,8 juta follower di Instagram dan lebih dari 200 ribu engagement di tiap komik yang ia unggah. Dengan potensinya tersebut, saat ini bisa dikatakan bahwa komik Tahilalats adalah salah satu komik Instagram “termahal” di Indonesia. Bagi suatu brand atau produk untuk berkolaborasi dengan satu saja komik Tahilalats di Instagram, setidaknya mereka harus menyiapkan dana puluhan juta Rupiah.

Selain karena besarnya potensi dan valuasi yang dimiliki oleh Tahilalats, bagi saya Tahilalats juga menjadi salah satu komik fenomenal karena mampu mematahkan anggapan bahwa “komik harus digambar dengan bagus”. Saya masi ingat sekali di tahun 2014-2015an ketika Tahilalats baru pertama kali muncul di media sosial, gambarnya bisa dibilang jelek, absurd, dan tidak berbentuk. Namun gambar yang jelek, absurd, dan tidak berbentuk itu justru menjadi karakteristik tersendiri yang sangat cocok dengan genre yang diangkat, yaitu komedi, yang juga bagi saya cukup absurd sekali komedinya. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya dalam komik, bukan gambar bagus yang menentukan, tetapi gaya gambar yang tepatlah yang menentukan. Kalau contoh di komik Jepang, ya lihat saja Pop Team Epic dengan gambarnya yang tidak sedetail JoJo’s Bizzare Adventure namun bisa menjadi ikonik karena “pas” dengan konsep narasi yang diangkat.

Besarnya potensi dan kuatnya ciri khas dari komik Tahilalats juga berhasil membawa komik tersebut diminati oleh kalangan yang berada jauh di luar spektrum dunia komik. Jika di tahun 2010-an awal komik lokal masih hanya menjadi santapan mereka yang memang peduli dengan komik lokal, melihat Tahilalats sekarang bagai melihat hal yang jauh berbeda. Bagi saya audience komik Tahilalats sudah bukan lagi orang-orang yang peduli atau akrab dengan komik lokal, tapi sudah melebar luas hingga ke kalangan umum, normies disapa oleh para wibu, yang sangat umum sekali. Luasnya demografi pembaca Tahilalats membuat komik ini digandeng berkolaborasi dengan event Jakarta Sneakers Day 2019.

Media digital, terlebih khususnya media sosial adalah sebuah dunia yang berubah dengan sangat cepat. Menerbitkan komik melalui media sosial kini sudah sangat mudah, semua orang bisa melakukannya. Namun seperti halnya konten kreatif lain yang ada di media sosial, algoritma sistem menjadi faktor besar yang menentukan. Instagram hari ini tidaklah seperti Instagram 5 tahun lalu ketika bermodalkan hashtag saja sudah bisa membuat konten kita dikenal banyak orang. Di luar algoritma, ada juga sisi yang lebih natural dan manusiawi yaitu si pembaca sendiri. Bukan tidak mungkin satu atau dua pembaca komik medsos baik itu Si Juki maupun Tahilalats akan merasa bosan dengan kedua judul komik tersebut.

Kesuksesan Tahilalats dengan gambar dan komedi yang absurd kini seakan membuat tren komik strip media sosial “ke-tahilalats-tahilalats-an”. Jujur inilah yang saya rasakan begitu pertama kali membaca komik Si Nopal, dan berbagai komik lainnya. Memang sih formula ini menarik untuk diikuti, namun tentu bisa saja ada mereka yang bosan dan jengah dengan komik strip media sosial yang sudah ter-saturasi dengan satu style tersebut. Seperti halnya mereka yang sudah bosan dan bisa jadi muak dengan romance di Webtoon.

Ruang media sosial masih cukup besar dan masih banyak potensi yang digali oleh para komikus. Untuk itu perlu adanya Tahilalats-tahilalats yang lain, baik itu komik yang memang “ke-tahilalats-tahilalats-an” atau komik yang memiliki potensi setara dengan Tahilalats. Kehadiran komik online lain yang bisa jadi memiliki potensi lebih besar dari Tahilalats tentu bisa semakin menggerakkan ekosistem komik Indonesia ke arah yang lebih baik.

Melalui Si Juki, Gundala, dan Tahilalats kini komik Indonesia semakin terlihat taringnya. Ketiga judul tersebut memang seakan menjadi sorotan utama, highlight bagi dunia perkomikan Indonesia dalam spektrum yang berbeda. Namun tentu diharapkan ada lagi kemunculan judul-judul lain, karya dari komikus lain yang bisa mengikuti, setara, atau bahkan meraih prestasi yang jauh lebih baik dari ketiga karya tersebut.

Hadirnya berbagai judul baru komik Indonesia setiap harinya sudah tidak bisa lagi terhitung secara pasti. Melalui media sosial, ataupun platform komik digital seperti LINE Webtoon dan CIAYO Comics banyak sekali kreator baru yang menghadirkan karyanya bagi para pembaca. Meski demikian, sekarang ini sekadar terbit saja belum tentu cukup. Jumlah pembaca komik memang banyak, namun komik yang beredar di pasaran juga sangatlah banyak. Berkaca dari Si Juki, Gundala, maupun Tahilalats, ketiga judul komik tersebut berhasil menjadi seperti saat ini setelah melalui proses yang panjang, dan kerja sama tim yang juga tidak sedikit, terutama Gundala yang terhitung sebagai judul “legenda”.

Komik Indonesia saat ini berada di kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali saya bergabung di KAORI. Namun sebagai seorang penikmat saya sangat berharap bahwa ada karya lain yang bisa meramaikan toko buku seperti Si Juki, memiliki potensi tinggi di media sosial seperti Tahilalats, serta bisa diadaptasi menjadi film yang luar biasa bagaikan Gundala. Di satu titik tentu pembaca akan menemui rasa bosan, dan titik itulah yang bisa menjadi pintu masuk bagi judul-judul komik lain untuk menarik minat pembaca tersebut.

Tidak hanya dari sisi pembaca secara individu saja, dari sisi yang jauh lebih besar yaitu ekosistem komik Indonesia, kehadiran komik lain dengan potensi yang sama atau justru melebihi Si Juki, Gundala dan Tahilalats adalah suatu keharusan. Tiga judul komik tersebut sudah bisa membawa dampak positif yang besar bagi industri kreatif di Indonesia. Jika ada judul lain yang memiliki potensi setara, atau melebihi dari ketiga judul tersebut tentu dampak yang dibawa akan jauh lebih besar.

Saat artikel ini saya buat, jauh dari dalam hati saya yakin di suatu tempat sana ada kreator yang sedang menyiapkan goresan pertamanya untuk karya yang akan besar di masa mendatang. Potensi komik Indonesia masih besar dan masih banyak yang belum tergali. Saat ini mungkin hampir semua mata tertuju kepada komik yang sudah ada di industri, namun banyak juga kreator dan komik yang masih menggeliat di jalur indie yang juga memiliki potensi besar.

Event pop kultur seperti Popcon Asia, Indonesia Comic Con, dan Comic Frontier juga menjadi penggerak penting bagi dunia komik Indonesia. Saat ini sudah banyak sekali kreator individu maupun studio atau perusahaan yang merilis komiknya dalam event tersebut. Event bisa menjadi jalan bertemunya pembaca, industri, dan kreator komik. Event komik juga penting bagi para pegiat komik indie karena melalui event tersebut mereka bisa menunjukkan eksistensi kepada khalayak luas.

Membicarakan komik Indonesia saat ini, sepertinya sudah tidak lagi membahas “akankah ada komik baru?” atau “apakah komik Indonesia ada di toko buku?”. Komik Indonesia kini ada di mana saja, bisa dibaca dengan cara apa saja. Membicarakan komik Indonesia saat ini justru selalu membuat saya menantikan hadirnya Si Juki, Tahilalats, dan Gundala berikutnya yang akan menjadi pembicaraan para pegiat komik, target kolaborasi para brand, dan sorotan media nasional.

KAORI Newsline | Oleh Rafly Nugroho | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke halo@kaorinusantara.or.id

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.