BAGIKAN

Di Indonesia, anda mungkin lumrah menemukan orang yang memiliki banyak nomor seluler. Contoh mudahnya adalah banyak anak muda yang memegang dua nomor, satu untuk nelpon murah dan lainnya untuk SMS gratis.

Tren ini tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di Jepang. Di negeri yang tidak memiliki jaringan GSM ini, fenomena masyarakat yang memiliki dua buah ponsel semakin mewabah.

Ponsel pintar Apple, iPhone, merupakan ponsel favorit yang dijadikan banyak orang sebagai fungsi kedua mereka. Menurut survei, sebagian besar menggunakan iPhone sebagai ponsel kedua mereka karena alasan gaya dan gengsi.

Advertisement Inline

Namun tren memiliki dua ponsel bukan hanya monopoli iPhone. Alasan utama orang memakai dua ponsel selain karena gaya, juga karena kebutuhan bisnis, mencari tarif termurah, dan untuk perselingkuhan.

Tidak percaya? Simak saja pengakuan seorang pelajar umur 19 tahun yang baru saja membeli sebuah ponsel dari operator SoftBank, setelah sebelumnya ia memegang sebuah ponsel dengan operator DoCoMo. (Di Jepang, telepon dijual bersama dengan kartu perdana, mirip dengan model pembundelan kartu dan ponsel oleh operator CDMA di Indonesia.)

Menurut pengakuannya, ia membeli ponsel kedua karena tarif DoCoMo yang terlalu mahal. Ia mengaku pernah menghabiskan biaya menelepon ke nomor ponsel milik pacarnya sampai sebesar 20 ribu yen (sekitar Rp 1,8 juta). Ia beralih menggunakan juga nomor SoftBank, karena tarifnya lebih murah.

Nomor Berbeda untuk Pasangan Berbeda

Sistem portabilitas nomor yang diterapkan di Jepang membawa kemudahan. Ia membolehkan seseorang berpindah operator untuk mendapatkan tarif lebih murah. Walau bagaimanapun, demi keamanan, terkadang pasangan selingkuh lebih memilih membeli sebuah ponsel baru daripada berpindah operator.

Namun tidak semua orang menggunakan dua buah ponsel demi alasan ini. Seperti Daisuke Fujikawa, ia mengaku memiliki tiga ponsel untuk komunikasi suara dan dua untuk layanan data. Menurutnya, ini semua agar lebih memudahkan ia berhubungan dengan banyak rekan kerja yang berbeda.

Bagi Daisuke, alasan orang umumnya untuk memiliki dua ponsel karena ingin mendapat fitur lebih. “Tidak mungkin fitur GPS anda dapatkan dalam sebuah ponsel ramping. Dan anda tidak bisa mendapatkan fitur smartphone pada ponsel kamera.”

“Selain itu, tidak ada satu operator pun yang memuaskan dalam segala hal. Tidak mungkin sebuah layanan sempurna diberikan dengan tarif yang sangat murah. Maka saya pun menggunakan berbagai nomor, untuk mencari solusi yang paling baik.” tambahnya.

Monopoli memiliki dua ponsel atau berbagai macam kartu tidak hanya monopoli Indonesia. Setidaknya, masyarakat Indonesia dapat sedikit belajar dari masyarakat Jepang, yang memang menggunakan beberapa ponsel karena kebutuhan. Karena meskipun masyarakat di Jepang diberikan keleluasaan berpindah operator tanpa harus mengganti nomor, nyatanya mereka tetap memiliki beberapa nomor. Tidak seperti di Indonesia, yang sebagian besar masyarakat masih mengikuti kebiasaan ganti nomor ganti kartu semata-mata hanya untuk mengejar tarif promosi yang paling murah.

Dari Japan Today dengan rasa Indonesia