Kirisuto no Haka: Makam Yesus di Jepang?

0
Yesus
Photo Courtesy of Thor Hestnes/Panoramio

Inikah Makam Yesus? (thor hestnes / CC BY3.0)

Yesus Kristus atau juga dikenal sebagai Nabi Isa merupakan sosok yang sangat disucikan bagi penganut agama Kristiani maupun Islam. Meski teerdapat perbedaan akan interpretasi dan peran sosoknya, namun kedua umat beragama yang berbeda tersebut sepakat bahwa ia telah naik ke langit, dan jika waktunya telah tiba, akan kembali turun ke bumi demi memerangi kebatilan di akhir zaman. Namun siapa yang menyangka bahwa ada juga legenda yang menyebutkan bahwa ia melarikan diri ke Jepang dan dimakamkan di sana?

Syahdan terdapatlah sebuah legenda yang menyebutkan bahwa Yesus berhasil kabur dari hukuman penyaliban. Berdasarkan legenda ini, Yesus meninggal di usia 106 di sebuah desa kecil di Jepang. Jika legenda ini memang benar, maka siapakah yang disalibkan? Dan apa yang dilakukan sang Al-Masih di sebuah desa kecil di Jepang, dan bagaimana dirinya disucikan oleh penduduk setempat?

Desa Shingo, Aomori

Desa Shingo di prefektur Aomori, bagian utara Jepang mungkin hanyalah sebuah desa kecil yang biasa saja sebagaimana desa-desa lainnya di Jepang. Penduduknya kebanyakan berprofesi sebagai petani atau peternak. Namun sebuah petilasan di bukit setempat menjadi sangat kontroversial, karena dipercaya sebagai makam Yesus, atau dikenal juga sebagai Kirisuto no Haka (Makam Kristus). “Makam” ini sendiri ditemukan pada tahun 1935.

Dokumen Takenouchi

Adalah dokumen Takenouchi yang menyebutkan bahwa Yesus tidak pernah disalibkan, melainkan berganti tempat dengan adiknya yang bernama Isukiri. Iapun kabur ke tempat yang sangat jauh, hingga sampai ke Jepang sambil membawa potongan rambut Bunda Maria, dan juga potongan telinga adiknya.

Sesampainya di Jepang, ia menetap di Jepang dengan nama samaran Daitenku Taro Jurai atau Torai Tora Daitenku. Ia menikah dengan seorang wanita setempat bernama Miyuko dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang penggembala, hingga memiliki 3 orang anak. Hingga sekarang penduduk setempat percaya bahwa keturunan Yesus masih hidup di desa Singo.

Kirisuto no Haka atau “Makam Yesus” merupakan destinasi wisata yang terkenal di desa Shingo, Aomori, Jepang (jasohill/CC BY-NC-SA 2.0)

Dokumen Takenouchi sendiri ditulis oleh Wado Kosaka, seorang eksentrik yang kredibilitasnya diragukan. Karenanya tidak aneh kalau dokumen tersebut dianggap tak lebih dari sekedar hoax belaka. Meskipun begitu, desa Shingo dipercaya memiliki sejumlah hubungan historis dengan Eropa kuno, terutama dengan sejumlah kebiasaan lokalnya. Beberapa penduduk setempat bahkan memiliki warna mata yang sama dengan bangsa Indo Eropa, meski Yesus sendiri berasal dari Timur Tengah, bukan Eropa.

Di tengah segala kontroversinya, Kirisuto no Haka atau “Makam Kristus” merupakan destinasi wisata yang terkenal di desa Shingo, Aomori. Selain itu terdapat juga tak jauh dari situ terdapat juga petilasan lainnya yang dipercaya tempat Yesus mengubur potongan rambut Bunda Maria dan juga potongan telinga Isukiri.

Desa Shingo sendiri sebenarnya bukanlah desa Kristen. Desa ini juga sama sekali tidak memiliki Gereja, di mana Gereja terdekat jaraknya sekitar 30 mil jauhnya. Meskipun begitu, desa Shingo setiap tahun menggelar festival bagi para peziarah yang mempercayai legenda “Makam Yesus” tersebut. Para peziarah bahkan rela membayar 100 yen atau sekitar 15 ribu rupiah untuk memasuki Museum Legenda Kristus. Selain itu penduduk setempat juga banyak menjajakan suvenir hingga “relik suci”.

Selain itu terdapat juga Festival Kristus di musim semi yang digelar sejak tahun 1964, yang dipenuhi dengan sejumlah ritual unik. Dalam ritual ini para wanita setempat berdansa dengan kimono di dekat petilasan “Makam Kristus” atau Kirisuto no Haka, mendoakan semoga arwah Yesus tenang dalam peristirahatannya. Tak lupa, mereka juga melantunkan “doa” dengan bahasa yang tidak jelas.

Festival Kristus di musim semi (Jensen Walker/CC BY-SA 4.0)

Agama Kristen dan Islam sendiri merupakan agama minoritas di tengah-tengah penduduk Jepang yang umumnya tidak terlalu menganggap serius mengenai “agama” dan kerap kali menjalankan ritual “gado-gado” antara Shinto, Buddha, dan Kristen, tanpa benar-benar menganggap dirinya berafiliasi dengan agama tertentu. Namun petilasan Kirisuto no Haka atau “Makam Kristus” menjadi sebuah destinasi yang banyak dikunjungi oleh banyak orang, baik para peziarah yang benar-benar mempercayai legenda tersebut, atau yang hanya sekedar penasaran saja, terlepas dari perdebatan apakah petilasan Kirisuto no Haka ini benar-benar makam sang Al-Masih atau bukan.

KAORI Newsline | Sumber: Historic Mysteries & Smithsonian Magazine

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.