Ulasan Buku: The Moe Manifesto

1

the moe manifesto

 Sampul buku The Moe Manifesto (penulis)

Bagi orang-orang yang banyak menyimak animasi/komik/game Jepang dan terlibat dalam komunitas penggemarnya, pasti sudah sering mendengar istilah “moe.” Ada orang-orang yang sangat menggemari moe, ada juga yang menganggap moe adalah hal buruk yang merusak anime di masa kini. Tapi apa yang dimaksud dengan “moe” itu sebenarnya? Moe sering dipergunakan begitu saja, tinggal disukai atau dibenci, tanpa disertai dengan tinjauan lebih dalam mengenai asal-usulnya, perkembangannya, dan keragamanya.

Sebagai bagian dari penelitiannya terhadap otaku, Patrick Galbraith juga meneliti fenomena moe tersebut. Buku The Moe Manifesto merupakan kumpulan wawancara Galbraith dengan sejumlah peneliti, pakar, pengamat serta pembuat konten kreatif dari Jepang mengenai konsep moe. Perspektif dan pendapat yang diberikan oleh para narasumber mengenai moe tersebut beragam; ada kalanya saling mendukung, ada kalanya juga saling bertentangan. Dengan menghadirkan keragaman tersebut, Galbraith berharap dapat memicu diskusi yang lebih mendalam untuk memahami moe, tidak sekedar memperlakukannya berdasarkan stereotip yang sempit.

Dari beragamnya pendapat yang berkembang mengenai moe, terdapat tiga poin yang ingin saya soroti dalam ulasan ini. Ketiga poin yang saya rasa paling penting itu adalah pengertian moe sebagai respons emosional dari pemirsa, penggunaan moe dari sisi produksi dan pemasaran, serta posisi otaku (penggemar berat animasi dan komik Jepang) dalam tatanan peran jender masyarakat Jepang modern.

 Moe dari Sisi Pemirsa                               

Dari berbagai penjelasan yang dapat ditemukan, pengertian moe pada dasarnya adalah respons pembaca/penonton terhadap karakter fiksi; semacam perasaan emosional yang intens terhadap karakter. Pengertian ini dapat disimpulkan dari definisi-definisi yang diberikan oleh profesor Kimio Itō, Mari Kotani, Eiji Ōtsuka, Halko Momoi, Tōru Honda, Takurō Morinaga, Hikaru Higashimura, Mitsuru Sōda, Ka’ichirō Morikawa, Gō Itō, Hiroki Azuma dan Tamaki Saitō. Pengertian ini memiliki landasan sejarah dari penuturan Morikawa bahwa penggunaan moe berawal dari diskusi penggemar anime di forum online untuk mengungkapkan perasaan senang terhadap karakter tertentu. Berdasarkan pengertian ini, Galbraith menekankan adanya beberapa poin penting yang perlu diperhatikan.

Sebagai suatu bentuk perasaan, moe terletak pada pemirsa yang merasakannya, bukan pada karakter itu sendiri. Selain itu, moe hanya dirasakan berkaitan dengan karakter fiksi atau representasinya (misal: figure, cosplay), tidak kepada manusia sungguhan. Sisi lain dari moe sebagai perasaan ini tidak terbatas hanya sebagai perasaan pemirsa laki-laki terhadap karakter perempuan. Hal ini dijelaskan oleh Halko Momoi yang menggambarkan bagaimana misalnya, pemirsa perempuan merasakan moe terhadap hubungan antara karakter-karakter laki-laki dalam cerita “Boys’ Love.”

Walau definisi para narasumber yang disebutkan di atas memiliki kesamaan dalam memahami moe sebagai perasaan pemirsa terhadap karakter fiksi, dapat ditemukan perbedaan pendapat mengenai apa yang menimbulkan perasaan pemirsa tersebut. Misal, Hiroki Azuma menekankan pada elemen-elemen dalam desain karakter yang dikonsumsi oleh pemirsa. Sebaliknya, Mitsuru Sōda berpendapat bahwa menggunakan desain karakter tertentu belum pasti akan menimbulkan perasaan moe pada tiap-tiap orang. Sōda lebih menekankan pada interaksi emosional antara pemirsa dan karakter yang menimbulkan empati terhadap karakter tersebut (1). Senada dengan hal tersebut, penulis naskah novel visual dari Key Jun Maeda menyatakan karakter yang bagus saja tidak cukup untuk menggerakkan perasaan pemain terhadap karakter bila tidak disertai dengan cerita yang bagus.

air-coverAIR, novel visual buatan KEY yang telah diadaptasi menjadi anime, di mana Jun Maeda menjadi penulis naskah di dalamnya. (Yokujin densou kai)

Moe dari Sisi Produksi dan Pemasaran

Di sisi lain, berkembangnya fenomena moe telah mendorong pembuat konten media menciptakan karakter yang dimaksudkan untuk menimbulkan perasaan moe pada pemirsanya. Mengikuti pendapat POP, ilustrator Moetan, moe sekarang digunakan sebagai label untuk menjual produk. Hikaru Higashimura dan Mitsuru Sōda berpendapat bahwa penggunaan moe dari sisi produksi dan pemasaran seperti itu perlu dianalisis atau dibahas secara terpisah dari moe sebagai respons emosional dari pemirsa itu sendiri. Upaya untuk memproduksi dan memasarkan moe ini sering diartikan sebagai membuat karakter dengan penampilan dan perilaku yang imut dan menggemaskan. Namun kembali lagi ke penjelasan Sōda sebelumya, elemen desain karakter yang imut dan menggemaskan saja belum tentu akan membuat pemirsa merasakan ikatan emosional yang intens dengan karakter tersebut. Halko Momoi merasa perhitungan bisnis untuk membuat konten moe dengan formula-formula tertentu menimbulkan kesan memaksa, sehingga justru tidak menarik.

Otaku dan Peran Gender dalam Masyarakat Jepang Modern

Selanjutnya, saya ingin menyoroti juga bagaimana Profesor Kimio Itō dan Mari Kotani menggunakan perspektif gender untuk memahami keberadaan otaku (penggemar berat animasi dan komik Jepang) dalam masyarakat Jepang. Dalam masyarakat Jepang modern, model laki-laki ideal adalah menjadi salaryman, atau pegawai kantoran yang punya pekerjaan tetap, berkeluarga, menyekolahkan anaknya sampai kuliah (dan menjadi pegawai kantoran juga), diakhiri dengan pensiun. Dalam tatanan masyarakat seperti itu, otaku dianggap sebagai permasalahan karena lebih menunjukkan minat kepada media yang mereka sukai daripada kepada kehidupan salaryman yang membosankan.

Sempitnya peran yang diharapkan dari laki-laki dalam masyarakat Jepang modern menimbulkan kegelisahan di kalangan sebagian laki-laki muda Jepang terhadap norma maskulin yang dominan, termasuk juga terhadap muatan macho di komik shōnen. Seiring dengan pesatnya perkembangan komik shōjo di era 70-an, sebagian laki-laki muda, terutama yang berusia kuliah, kemudian justru gemar membaca komik shōjo yang menggambarkan kisah romantis atau kehidupan sehari-hari dibandingkan komik shōnen yang menggambarkan pertarungan dahsyat antar jagoan bela diri atau antar robot. Profesor Itō dan Eiji Ōtsuka termasuk laki-laki yang menggemari komik shōjo di masa tersebut. Dunia yang digambarkan dalam komik shōjo menjadi alternatif yang lebih berwarna dan menarik dari konstruksi maskulinitas yang diharapkan oleh masyarakat Jepang pada masa tersebut.

Penilaian

Kekurangan utama buku The Moe Manifesto ini adalah pembahasannya bias kepada perasaan moe terhadap karakter perempuan, yang biasanya dialami oleh pemirsa laki-laki. Buku The Moe Manifesto ini tidak mengeksplorasi secara mendalam, misalnya perasaan moe yang dialami fujoshi (perempuan pengonsumsi konten boys love) terkait dengan relasi yaoi di antara karakter laki-laki; seperti yang sudah sedikit disinggung oleh Halko Momoi. Galbraith bukannya tidak mengetahui soal hal tersebut. Dalam sebuah paper akademis mengenai moe yang ditulis Galbraith sebelumnya, dia sebenarnya sudah membahas moe dalam perspektif fujoshi dan menyoroti kurangnya tinjauan terhadap aspek ini dalam bahasan mengenai moe (3). Bahwa hal tersebut kemudian tidak masuk ke dalam bahasan buku ini pada akhirnya adalah sebuah pilihan, karena berkaitan dengan perasaan moe terhadap karakter perempuan saja sudah banyak asumsi-asumsi yang bisa dibongkar oleh wawancara-wawancara dalam buku ini. Topik moe dalam perspektif fujoshi  mungkin sengaja disimpan untuk topik buku lainnya.

Terlepas dari kekurangan tersebut, sebagai buku The Moe Manifesto yang dimaksudkan sebagai rujukan awal untuk memulai diskusi yang substansial dan mendalam tentang moe, buku The Moe Manifesto ini sudah memenuhi tujuannya. Wawancara yang dihadirkan memberi wawasan yang menarik dan beragam mengenai konsep moe. Karena itu, saya merekomendasikan buku The Moe Manifesto ini untuk dibaca oleh siapa saja yang tertarik dengan perkembangan media hiburan Jepang dan perkembangan budaya penggemarnya.

Catatan Tambahan

  • Carl Li (sdshamshel) dari blog Ogiue Maniax juga telah membahas moe sebagai perasaan empati terhadap karakter, di mana seseorang mengidentifikasikan diri dengan kekurangan dan kelemahan dari suatu karakter. Argumen Carl dapat disimak dalam artikelnya yang berjudul “The Relationship Between Classic Toei Heroines and Moe Characters” (http://ogiuemaniax.wordpress.com/2013/07/12/the-relationship-between-classic-toei-heroines-and-moe-characters/).
  • Paper yang dimaksud dapat dibaca di Electronic Journal of Contemporary Japanese Studies dengan judul “Moe: Exploring Virtual Potential in Post-Millenial Japan” (http://www.japanesestudies.org.uk/articles/2009/Galbraith.html). Namun saya ingatkan bahwa paper tersebut merupakan karya tulis akademis yang menggunakan bahasa yang lebih rumit dibandingkan The Moe Manifesto yang merupakan bacaan populer untuk konsumsi umum.
  • Saya berterima kasih kepada adik kelas saya yang telah memberi informasi kepada saya mengenai keberadaan buku ini di Periplus Pondok Indah Mall. Berkat informasi tersebut, saya jadi bisa segera memperoleh buku ini dan menulis ulasan buku ini. Saya memperoleh buku terbitan Tuttle Publishing ini dengan harga Rp. 186.000,00.

KAORI Newsline | Halimun Muhammad adalah pengamat sekaligus penikmat budaya pop kontemporer Jepang yang telah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menikmati sekaligus mencoba memotret kebudayaan anime dari perspektif akademis.

Tinggalkan komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.