Ulasan Anime: Grisaia no Kajitsu

30

grisaia-sm-1280

Setelah sempat berkali-kali diberitakan dan 4 tahun dari wacana awal, seri adaptasi novel visual berjudul sama Grisaia no Kajitsu akhirnya tayang pada bulan Oktober 2014 (musim gugur kalau mengacu pada kategori musim anime Jepang.) Menggandeng studio 8 Bit (Infinite Stratos II, Aquarion EVOL), novel visual yang digagas dalam rangka ulang tahun ke-10 produsennya, Front Wing, ini menyimpan banyak harapan akan plot yang menarik. Terlebih trilogi novel visualnya akan dilokalisasi secara resmi ke bahasa Inggris.

Seri ini disutradarai oleh Tensho, menjadikan Grisaia sebagai proyek debutnya dalam mengadaptasi novel visual. Skripnya ditulis oleh Hideyuki Kurata yang sebelumnya menangani The World God Only Knows dalam peran yang sama.

rthrhjtyh

Advertisement Inline

Plot awalnya sederhana: diambil dari sudut pandang Yuuji Kazami (disulihsuarakan oleh Takahiro Sakurai), seorang PNS yang bekerja di Badan Intelijen Nasional dan “diselipkan” ke sekolah khusus yaitu sekolah Mihama. Dalam Mihama, ada beberapa siswi dengan keunikannya sendiri-sendiri, yaitu Amane Suoh (Hiroko Taguchi), Yumiko Sakaki (Ryouko Tanaka), Sachi Komine (Ai Shimizu), Michiru Matsushima (Kaori Mizuhashi), dan Makina Irisu (Tomoe Tamiyasu.) Masing-masing siswi berasal dari latar belakang masing-masing dan memiliki kelakuan “antik”, misalnya Yumiko yang sangat membenci pria, Sachi yang sangat patuh dan nggih-nggih seperti pelayan yang setia, Makina yang suka mengeluarkan kata-kata kotor, Michiru yang mengaku tsundere (padahal sih nggak), dan Amane yang sangat posesif.

Tiga episode pertama seri ini sangat menipu: terlihat membosankan sebagaimana tiga episode pembuka pada umumnya. Berlanjut ke episode berikutnya dan hal menarik mulai terlihat. Michiru yang tsundere jadi-jadian membuka sisi lain dari dirinya yang cukup menyegarkan, mengingat selama ini jarang sekali anime yang mengekspos tsundere bukan dari latar hubungan cintanya. Dua episode bagi Michiru rasa-rasanya cukup menyenangkan, meski entah mengapa ada sesuatu yang “kurang”, tetapi tidak ada keberatan dengan dua episode di sini.

missme

Alur beralih menjadi lebih menarik di bagian Yumiko. Dalam satu episode, seluruh kegelisahan hidup Yumiko dimulai dan diselesaikan dengan cara yang absurd, bahkan untuk ukuran orang yang tidak memainkan novel visualnya. Seolah menaiki kereta atau mobil yang begitu kencang di jalanan yang jelek sampai-sampai harus berkomat-kamit agar kendaraan yang dinaiki tidak terbalik. Sekilas adegan “mati”-nya Yumiko mengingatkan akan akhir musim kedua Sherlock-nya BBC, hanya saja bapaknya Yumiko bukan Watson maupun penggemar kepo Sherlock di sini.

Memasuki bagian Sachi, alur agak melambat dan hubungan intim antara Sachi dengan Yuuji diperlihatkan di sini, yang mana pada rute sebelumnya, Yuuji tidak terlihat “sehumanis” ini. Sachi yang tidak bisa menolak permintaan teman-temannya (walau hanya bercanda) terlihat “lemah”, berbeda dengan kehidupan normalnya yang tampak sangat bisa diandalkan. Satu episode yang rasanya cukup baik bagi Sachi.

[HorribleSubs] Grisaia no Kajitsu - 08 [480p].mkv_snapshot_21.02_[2014.12.30_02.34.18]

Episode kedelapan dan kesembilan adalah bagian Makina. Walau sama-sama membahas Makina, kecepatan penceritaan kedua episode ini sangat kontras, di mana episode 8 cukup santai (plus sedikit latar belakang Yuuji diungkap di sini,) namun terlihat sekali pada episode 9 terlihat begitu tergesa-gesa agar bagian Makina bisa selesai diceritakan. Bagian akhir episode 9 yang seharusnya bisa menjadi momen pamungkas justru diceritakan begitu saja dan hanya menyisakan kesan, “oh begitu.” Setidaknya penampakan Kiara di sini menjadi tambahan yang menyegarkan.

Grisaia pun memasuki rute terakhirnya, rute Amane. Dalam novel visual asalnya, rute Amane mengandung “cerita” sendiri yaitu saat Amane mengalami kecelakaan bersama kakak Yuuji, Kazuki, pada liburan SMP. Di sini tertangkap kesan alur yang tidak terlalu cepat, namun terlihat demikian karena seolah-olah ada “batas kecepatan” yang tak terlihat. Seolah Tensho bisa kembali ngebut namun terpaksa melambatkan kecepatan karena tersisa cukup episode. Lalu ada kejutan menarik: drama penyanderaan oleh salah seorang “fans” Amane dan setelah drama ini berakhir, kehidupan di SMA Mihama kembali seperti semula.

[HorribleSubs] Grisaia no Kajitsu - 13 [480p].mkv_snapshot_16.44_[2014.12.30_02.17.28]

Sebagai pengamat lagu-lagu Elements Garden, lagu latar dan lagu pembuka dalam seri ini tidak terlalu bagus. Bukan berarti jelek, namun hanya terasa biasa saja dan mudah dilupakan. Berbeda dengan Koi to Senkyo to Chocolate atau bahkan Uta no Prince Sama, lagu latar dalam seri ini terasa inferior.

Dari sisi pengisi suara, seluruh pengisi suara melakukan perannya dengan baik. Catatan menarik adalah ibu Taguchi Hiroko yang mengisi suara Amane di sini. Kalau orang membandingkannya dengan Sora Kasugano (Yosuga no Sora), yang teringat justru malah Miyako Miyamura (ef a tale of memories) yang punya kenangan dan kegetiran hidup mirip-mirip dengan Amane. Lalu, Tomoe Tamiyasu sebagai Makina sedikit saja mengingatkan akan Rin-nya Little Busters!.

ergeg

Kualitas animasi sekilas tidak terlalu bermasalah, meski entah mengapa dalam seri ini sengaja ditampilkan black bar yang cukup mengganggu. Bayangkan berapa banyak detail vertikal yang hilang akibat keputusan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan ini, yang mungkin dilakukan demi memberi kesan seolah-olah menonton film. Fate/Zero bisa memberi kesan Bioskop Trans TV tanpa perlu menampilkan bar hitam dalam episodenya. Lalu lupakan humor, setelah tiga episode pertama akan sangat langka waktu selingan untuk sedikit pun bahan senyuman.

[HorribleSubs] Grisaia no Kajitsu - 05 [480p].mkv_snapshot_23.24_[2014.12.30_03.17.28]

Secara umum sebagai satu kesatuan cerita, Grisaia bukan contoh yang baik dan bagi yang berharap akan ada “sesuatu” di sini, lumrah untuk kecewa. Namun sebagaimana Doraemon melakukan tugasnya dengan baik di setiap chapter komik yang diangkatnya, begitu pula Grisaia. Bagi yang tidak memainkan novelnya, seri ini cukup menarik ditonton walau tidak bagus-bagus amat. Bagi yang sudah memainkan novelnya, memang tidak ada kejar-kejaran di hutan dan tidak ada sekolah yang meledak, tapi episode 13 seri ini adalah contoh baik saat cerita orisinal anime dikerjakan lebih baik daripada adaptasi novel visual asalnya.

Positif:

  • Akan berlanjut ke musim kedua (yang mencakup novel visual kedua dan ketiga); berita bagus bagi fans trilogi novel visualnya.
  • Episode 13 wajib ditonton oleh mereka yang sudah bermain novel visualnya, wabilkhusus fans karakter Amane.
  • Bagian Michiru, Sachi, dan Amane (Kazuki) bisa dinikmati, begitu pula tiga episode pertama yang hendaknya dinikmati sepenuh hati.
  • Kadar fanservice yang hanya tampak sesekali dan bisa ditoleransi; namun tetap saja seri ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak.
  • Desain karakter dalam anime (yang sepenuhnya dilakukan Akio Watanabe) yang tidak terlalu berbeda dari desain karakter novel visual aslinya. Pada karakter Sachi, Makina, dan Amane, rasa-rasa Fumio masih bisa dirasakan.

Negatif:

  • Kesan terburu-buru dan tergesa-gesa, terlihat pada bagian-bagian tertentu yang bahkan bisa dirasakan oleh yang tidak bermain novel visualnya.
  • Lagu latar maupun lagu pembuka yang tidak terlalu membangun suasana, seolah Elements Garden memberi lagu kelas dua untuk seri ini.
  • Bagian Makina yang begitu jimplang, sementara bagian Sakaki mencoba untuk bermain dengan ide original namun eksekusi yang dilakukan tidak terlalu bagus.

Yang disayangkan:

  • Masih belum bisa dimengerti apa kesan yang ingin ditampilkan dari anime ini secara umum. Mungkin akan terjawab pada adaptasi musim berikutnya. Ini hal yang sepele bagi pemain novel visual, namun menjadi hal penting bagi penonton kasual yang mengharap sebuah plot. Bahkan musim pertama anime Clannad yang dihina-hina sebagian pemain novel visualnya saja punya jalan cerita utama (rute Nagisa) yang digambarkan secara jelas.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

30 KOMENTAR

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.