Dunia “hiburan” Jepang kembali dihebohkan oleh pernyataan jujur dari salah satu aktris kondangnya. Yume Ono, aktris kondang yang baru memulai karier di industri “perfilman” tahun 2025 lalu, memberikan wawancara mendalam kepada situs Spa tentang identitas dirinya. Dalam wawancara itu, ia mengungkapkan sesuatu yang cukup kompleks: secara biologis ia terlahir sebagai wanita, namun secara psikologis ia merasa sebagai pria. Meski begitu, dalam kesehariannya saat ini, ia memilih untuk hidup secara sosial sebagai wanita.
Masa Lalu yang “Neraka” Sebelum Terjun ke Dunia “Perfilman”
Perjalanan Yume Ono menuju penerimaan diri tidaklah mudah. Selama masa kuliah di keperawatan, ia memulai terapi hormon testosteron dan bahkan mengubah status hukumnya menjadi pria. Pada masa itu, ia hidup dalam ketakutan akan ketahuan identitas aslinya. Ia mengaku periode tersebut adalah salah satu masa tersulit dalam hidupnya, penuh pertanyaan tentang jati diri dan kecemasan yang terus-menerus. Masa kecilnya juga tidak kalah rumit, terlebih setelah orang tuanya bercerai dan ia dibesarkan oleh ibunya tanpa banyak panduan tentang perubahan tubuh saat pubertas.
Titik Balik dari Pendidikan Keperawatan
Perubahan besar dalam hidup Yume Ono justru datang dari bangku kuliah. Saat belajar di jurusan keperawatan, para dosen menjelaskan bahwa gender bisa dipahami dari tiga aspek berbeda: biologis, psikologis, dan sosial. Penjelasan ini menjadi pencerahan bagi Yume Ono. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya bisa menerima kondisi sebagai seseorang yang biologis wanita, psikologis pria, namun sosial wanita. Pemahaman ini, menurut Yume Ono, berhasil menghilangkan perasaan selama ini bahwa ia sedang menjalani kebohongan. Dengan tinggi badan 160 cm dan fisik yang tergolong mungil, Yume Ono juga merasa lebih banyak peluang terbuka jika hidup secara sosial sebagai wanita.
Karier dan Pergulatan di Dunia “Hiburan”
Setelah lulus, Yume Ono sempat bekerja sebagai perawat. Namun kemudian ia menjelajahi berbagai bidang hiburan “hiburan”, mulai dari klub malam, layanan seksual, hingga klinik penyakit menular seksual. Sayangnya, Yume Ono tidak betah di lingkungan klub malam karena banyak pelanggan yang hanya tertarik pada hubungan seksual tanpa menghargai pekerjaannya. Kondisi ini justru menimbulkan blokade psikologis bagi Yume Ono terhadap aktivitas seksual di luar lingkungan profesional. Ia merasa hubungan di dunia malam terlalu rumit dan penuh kepalsuan.
Menemukan Kenyamanan di Industri “Perfilman”
Bagi Yume Ono, industri “perfilman” justru menjadi tempat ia merasa paling nyaman. Menurut pengakuannya, lingkungan syuting di industri “perfilman” sangat profesional dan terorganisir, sehingga ia bisa fokus pada akting tanpa harus bergulat dengan konflik interpersonal yang sering terjadi di pekerjaan lain. Yume Ono juga meyakini bahwa industri “perfilman” Jepang lebih terbuka dan menerima daripada yang banyak orang bayangkan. Ia berharap kisah hidupnya bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang bergumul dengan isu identitas gender, sekaligus mengkritik sikap diskriminatif terhadap komunitas trans.
Pesan Penerimaan Diri untuk Semua
Di akhir wawancara, Yume Ono menyampaikan pesan menyentuh bagi siapa pun yang sedang menderita karena identitasnya. Ia ingin menyampaikan bahwa orang tidak hidup dalam kebohongan. Yume Ono memilih untuk jujur tentang seksualitas dan kehidupannya, dan ia berharap ceritanya bisa membantu meringankan beban generasi muda yang menghadapi pergulatan serupa.











