Review ini mengandung spoiler untuk Chiikawa the Movie: The Secret of The Mermaid Island.

Ketika layar credits pada film Chiikawa the Movie: The Secret of The Mermaid Island mulai diputar dan lampu teater mulai menyala, pikiran saya tertuju pada beberapa hal.

Saya ingat berpikir betapa cocoknya lagu ending yang diputar, Tsukue Sasaru, dinyanyikan oleh seiyu karakter Chiikawa, Haruka Aoki, terutama dipasangkan dengan ilustrasi para karakter Chiikawa yang baru saja kembali dari petualangan mereka.

Saya ingat melihat tulisan di layar yang memberitahu penonton untuk jangan pergi terlebih dahulu agar dapat menonton adegan post-credits yang ada. Setelah menghabiskan satu jam setengah lebih di dalam bioskop bersama Chiikawa dan teman-temannya, saya dengan senang hati mau menonton lebih banyak lagi.

Saya ingat menengok kiri-kanan dan mendapati wajah-wajah penonton yang terlihat bingung, seakan sedang memproses apa sebenarnya yang baru saja mereka lihat. Rasanya tidak ada penonton dewasa yang keluar bioskop dengan muka tersenyum.

Lalu adegan post-credits diputar, dan saya ingat mendengar suara kaget tergagap keluar dari mulut orang-orang dalam bioskop.

Bukan Sekedar Karakter Imut

Chiikawa (singkatan untuk Nanka Chiisakute Kawaii Yatsu, atau ’sesuatu yang kecil dan imut’) bukan sekedar karya biasa. Dibuat oleh nagano sebagai serial komik web yang diposting di Twitter/X, serial yang masih berjalan ini meledak popularitasnya di sekitar tahun 2020, sampai diadaptasi menjadi anime pendek di tahun 2022. Selain itu, karakter-karakter dari serial Chiikawa juga amat populer sebagai karakter maskot, dijadikan berbagai macam boneka, mainan, dan merchandise. Bahkan di beberapa negara terutama di Asia, dapat dibilang merchandise Chiikawa sudah hampir sepopuler merchandise karakter Sanrio.

Tidak hanya itu, Chiikawa juga terkenal dan memiliki banyak fans dikarenakan elemen-elemen ceritanya yang dalam dan mengejutkan. Dunia tempat tinggal Chiikawa dan teman-temannya seperti Hachiware (Makoto Tanaka), & Usagi (Ari Ozawa) memiliki elemen cerita yang cukup kelam dan dewasa. Mahluk kecil seperti Chiikawa harus bekerja untuk mencari nafkah, di antaranya pekerjaan “membasmi” monster raksasa dengan resiko dimakan. Walaupun imut, karakter-karakter Chiikawa harus berjuang untuk dapat hidup di gig economy seperti halnya banyak dari para fansnya.

Tetapi rasanya kurang tepat untuk mengkategorisasikan Chiikawa sebagai cerita “dark” belaka. Memang terdapat elemen-elemen yang serius, tetapi rasanya tidak sebegitu bedanya dengan kumpulan cerita anak-anak seperti Aesop’s Fables atau Grimm’s Fairy Tales. Betul rasanya selalu ada hal mengerikan di balik layar, tetapi Chiikawa tetaplah serial yang lucu dan menggemaskan tentang mahluk-mahluk kecil yang berusaha sekuat mungkin untuk bersenang-senang dan berbahagia, walaupun diterpa kerasnya kehidupan. Jika tidak begitu, rasanya serial ini tidak akan sepopuler itu, dan para fans juga tidak akan setia menunggu episode baru tiap minggunya untuk “dipulihkan” dengan cerita Chiikawa dan kawan-kawan yang penuh canda dan tawa. Chiikawa adalah banyak hal; terkadang lucu, terkadang menggemaskan, terkadang mengerikan, namun selalu meninggalkan kesan mendalam dan membuat para penontonnya berpikir.

Chiikawa mengingatkan saya akan karya-karya seperti Astro Boy, Doraemon, atau bahkan Nekojiru. Lebih jauh lagi, dapat juga dibandingkan dengan Dark Souls, tidak hanya bagaimana dunianya sama-sama kelam dan suram, namun juga bagaimana ceritanya penuh “ruang negatif” di mana mereka yang mengikutinya bisa menemukan makna tersembunyi dan implikasi dari apa yang tidak ditunjukkan secara langsung.

Semua elemen tersebut sudah ada di komik maupun animasi Chiikawa. Jadi ketika Chiikawa memulai arc cerita panjang pertamanya, yang kemudian diadaptasi menjadi film The Secret of The Mermaid Island, orang-orang mengira sudah siap untuk apapun kejutan yang akan menanti.

Paling tidak, tadinya begitu yang orang-orang kira.

Bukan Petualangan Musim Panas Biasa

Chiikawa the Movie, dan cerita “Siren Arc” yang diangkatnya, sedikit berbeda dari cerita Chiikawa sebelumnya, di mana elemen-elemen “gelap” yang tadinya tidak diungkit secara langsung kini ditampilkan dengan cara yang sulit untuk diabaikan. Sebagai penonton yang menganggap dirinya fans berat Chiikawa, bahkan sulit bagi saya untuk tidak keluar bioskop keheranan dan tidak berpikir, “tadi barusan sebenarnya apa sih yang saya tonton?

Seperti Chiikawa, film ini adalah banyak hal. Berawal dari petualangan musim panas ke sebuah pulau, cerita film berubah menjadi cerita misteri kasus pembunuhan. Suatu hari, Chiikawa dan teman-temannya mendapat undangan untuk pergi ke suatu pulau dengan iming-iming makanan dan imbalan kerja yang tinggi. Setelah sampai, baru mereka sadar bahwa undangan tersebut sebenarnya adalah panggilan bantuan dari para penduduk pulau yang meminta mereka untuk membasmi Siren (Suzuki Minori), mahluk raksasa yang menculik lalu menghilangkan para penduduk pulau. Namun masalah menjadi semakin rumit ketika terungkap bahwa Siren sendiri bertindak karena balas dendam: salah satu penduduk pulau menculik dan memakan salah satu teman duyungnya, dan ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan siapa pelakunya.

Tidak salah kalau cerita film ini terdengar seperti film kaiju di mana monster raksasa menghukum manusia atas tindak laku mereka, dan kenyatannya memang iya. Pada film ini muncul tema-tema yang sering diangkat pada film-film serupa, seperti siapa yang sebenarnya salah dan berdosa. Sementara itu, Chiikawa dan teman-temannya terjebak dalam dilema antara konflik Siren dan para penduduk pulau yang menginginkan keadilan. Siapa yang perlu bertanggung jawab atas apa yang terjadi? Apa kebenaran di balik konflik yang ada, dan apakah kebenaran tersebut pantas untuk diungkap? Apakah pihak yang dizalimi berhak dan pantas untuk membalas dendam? Apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan semua masalah yang ada, jika memang dapat diselesaikan?

Chiikawa the Movie dapat membuat penontonnya berpikir mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa terasa janggal, di film yang juga pantas ditonton anak-anak. Dari adegan lucu masing-masing karakter, adegan seru ketika dikejar Siren, adegan rap warna-warni, hingga adegan terungkapnya pelaku yang membuat penonton keringat dingin, semuanya terasa cocok menjadi bagian film yang sama. Terlepas dari apa yang sudah saya tulis, film ini sangat seru untuk ditonton, dan banyak adegannya membuat saya tersenyum dan tertawa. Kisah “Siren Arc” juga pertama kalinya semua karakter Chiikawa bertemu di cerita yang sama, dan sebagai fans saya sangat senang dapat melihat mereka berkumpul ala tim Avengers. Namun, tetap saja konklusi cerita film, serta adegan post-credits, mengacak-acak perasaan saya dan membuat saya perlu berenung.

Tapi, mungkin kurang tepat bagi saya untuk hanya fokus ke bagian-bagian yang “dark” dan berat dari film ini.

Ulasan film Chiikawa the Movie: The Secret of The Mermaid Island berlanjut ke halaman selanjutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.