Semakin Banyak Cowok di Jepang yang Menikahi Cewek yang Lebih Tua

0
kehidupan di jepang
© Soborou. Nande Koko ni Sensei ga!? Production Committee. Gambar hanyalah ilustrasi

Fenomena menarik dalam kehidupan di Jepang saat ini adalah perubahan signifikan dalam pola pernikahan. Berdasarkan data pemerintah tahun 2024, tercatat rekor tertinggi yaitu 25% dari pernikahan pertama di Negeri Sakura kini melibatkan istri yang lebih tua dari suami. Angka ini meningkat drastis dari hanya sekitar 10% pada tahun 1970. Para sosiolog melihat ini sebagai tren positif yang mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang masyarakat terhadap hubungan pernikahan di kehidupan di Jepang modern.

Masahiro Yamada, profesor sosiologi keluarga dari Universitas Chuo dan pencetus istilah “konkatsu” (perburuan jodoh), menjelaskan bahwa anggapan umum tentang pria yang selalu memilih wanita lebih muda mulai luntur. Dalam kehidupan di Jepang saat ini, kesenjangan usia antara pasangan suami-istri terus menyempit dari tahun ke tahun. Yamada menilai bahwa hambatan psikologis terhadap pernikahan dengan istri lebih tua sudah berkurang drastis dibandingkan era-era sebelumnya.

Seorang ahli tata rias dan rambut yang diwawancarai mengungkapkan pengalamannya dalam kehidupan di Jepang sebagai istri dengan suami tujuh tahun lebih muda. Ia merasa suaminya benar-benar mendengarkan apa yang ia katakan. Pria muda saat ini cenderung lebih antusias membantu pekerjaan rumah dan pengasuhan anak. Namun, pengaruh generasi orang tua masih menyisakan nilai-nilai Konfusianisme yang menekankan rasa hormat pada yang lebih tua, yang justru menguntungkan istri yang lebih senior.

Dalam keseharian kehidupan di Jepang, pria sering kali secara naluriah merasa tersinggung ketika wanita seusia atau lebih muda meminta bantuan pekerjaan rumah. Namun, ketika pasangannya lebih tua, perlawanan itu cenderung memudar. Norma sosial menghormati senioritas ternyata mampu menekan insting dominasi pria. Istri yang lebih tua dengan segudang pengalaman hidup dan profesional dianggap lebih mudah diterima nasihatnya dengan pikiran terbuka, menciptakan dinamika rumah tangga yang lebih seimbang.

Faktor lain yang mendorong tren ini dalam kehidupan di Jepang adalah kesadaran akan kecantikan, perawatan kulit, dan mode yang membuat wanita tetap menarik seiring bertambahnya usia. Wanita Jepang dikenal awet muda, bahkan hingga usia 50-an. Selain itu, rasa percaya diri yang diperoleh dari berkarier juga berperan besar. Meskipun data menunjukkan pria masih memprioritaskan penampilan fisik, rentang usia wanita yang memenuhi standar tersebut kini meluas secara dramatis.

Biaya hidup yang terus meningkat, terutama harga rumah baru di Tokyo, menjadikan pendapatan ganda sebagai kebutuhan dalam kehidupan di Jepang. Berbeda dengan masa lalu di mana istri bekerja paruh waktu dengan gaji lebih rendah, pria kini justru senang jika pasangannya berpenghasilan setara atau bahkan lebih tinggi. Tekanan untuk menjadi pencari nafkah tunggal yang pernah membebani pria di era pertumbuhan ekonomi kini mulai mereda. Profesor Yamada menekankan bahwa di era rumah tangga dengan dua pencari nafkah, standar baru hubungan dibangun atas usaha bersama, saling menghormati, dan kerja sama, tanpa terikat oleh kesenjangan usia atau pembagian peran tradisional.

KAORI Newsline | Sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.