BAGIKAN

fumino sugiyama

Fumino Sugiyama lahir sebagai seorang wanita. Tetapi penampilan fisik dan suaranya mirip sekali dengan pria. Fumino Sugiyama kelahiran Shinjuku Tokyo tahun 1981, yang juga ahli olahraga fencing (anggar), lulusan Universitas Waseda Tokyo.

“Saya pernah dapat kesulitan memasuki negara Bahrain, 20 jam ditahan di bandara karena masalah jenis kelamin saya. Secara resmi saya wanita tetapi penampilan saya lelaki,” kata Fumino sebagaimana dilansir dari Tribunnews.

Advertisement Inline

Fumino mengaku pernah sekali ke Indonesia saat dia masih sekolah menengah pertama.

“Saya tak ingat ya sudah lama sekali saat SMP memang pernah ke Indonesia,” katanya.

Saat ini di Jepang menurut survei yang dilakukan Dentsu belum lama ini (2015), sekitar 7,6 persen penduduk Jepang atau sekitar 9 juta jiwa orang Jepang adalah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) termasuk di dalamnya Fumino yang gender identity disorder (GID). Jumlah 7,6 persen lebih banyak dari jumlah pemilik nama terkenal Jepang, Sato, Suzuki, Takahashi yang jumlahnya hanya 5 persen dari penduduk Jepang.

“Saya pernah keliling dunia, ke-60 negara selama dua tahun untuk melihat berbagai macam kehidupan masyarakat setempat. Tampaknya Denmark secara resmi mengakui warga yang LGBT dan memiliki hak yang sama dengan orang biasa,” tambahnya.

Fumino senang dengan pengesahan parlemen pemda Shibuya Tokyo akhir Maret lalu yang akan membuat sertifikat partnership, sehingga sesama jenis  dapat menikah dan dapat sertifikat tersebut.

“Tetapi kalau bisa meningkat pengesahan menjadi hukum resmi sama haknya seperti orang biasa,” harapnya.

Bagi Fumino yang juga pemimpin kelompok LGBT, NPO (Yayasan) Heart wo Tsunago Gakko, serta Tokyo Rainbow Pride mulai tahun 2015 ini, popularitas sama sekali tak ada dalam pikirannya.

“Kami tak mau populer. Hanya mau diakui saja sama seperti orang biasa lainnya secara resmi. Kami juga mengimbau kepada warga Jepang agar mau bicara tak usah malu-malu kalau mereka LGBT, ke luar bicara terus terang kepada masyarakat bahwa dirinya LGBT. Kalau tak demikian akan stres berat dan tak heran ada yang bunuh diri karena hal ini,” katanya.

Fumino mengakui dirinya memang terlahir wanita dan dibesarkan juga sebagai wanita. Tetapi merasakan ada perubahan pola pikir sebagai pria dan sangat senang dengan wanita. Penampilan fisik juga berubah menjadi pria.

“Meskipun demikian saya tidak mau untuk operasi kelamin menjadi pria. Bukan hanya soal uang saja yang sangat mahal biaya operasinya, tetapi soal mental jauh lebih penting,” tambahnya.

“Yang berarti kesiapan mental sebagai lelaki harus kuat, dengan badan yang tadinya wanita menjadi lelaki, itulah yang terpenting bagi transgender,” katanya.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.