BAGIKAN

reon

Lanjutan dari Bagian 2.

Kali ini Kaori akan membahas mengenai benar/tidaknya asumsi bahwa “Kalau ada uang, studio pasti bisa mendapatkan staf yang lebih baik”.

STAF

Kelonggaran dalam industri anime di mana sutradara memberi ruang lebih pada animator untuk berekspresi dan bereksperimen, menjadikan industri anime memiliki keragaman yang menarik, tetapi hal tersebut juga menciptakan kesenjangan. Perbedaan antara animator yang berbakat/berpengalaman serta yang tidak berbakat/berpengalaman menjadi sangat terlihat. Tetapi apakah keduanya mendapat bayaran yang berbeda? Jawabannya: tidak.

Industri anime adalah industri yang sangat bergantung pada freelancers. Memang ada animator yang terikat kontrak pada studio tertentu (inilah yang disebut sebagai in-house animator) dan animator seperti ini menerima gaji dalam jumlah tetap setiap bulannya. Namun, banyak sekali animator hebat yang lebih memilih untuk menjadi freelancer agar memiliki kebebasan lebih dalam bekerja dan memilih proyek. Sekarang ini di Jepang, Kyoto Animation adalah satu-satunya studio yang di setiap proyeknya menggunakan 100% tenaga in-house staff tanpa freelancers sama sekali dari sutradara, animator, hingga inbetweener-nya. Selain itu, sisanya sangat mengandalkan tenaga freelancers maupun outsourcing.

Apakah freelancer juga dibayar per bulannya? Tidak. Freelance animator dibayar berdasarkan jumlah pekerjaan mereka, tanpa peduli seberapa tinggi tingkat kesulitannya maupun kualitas outputnya. Hal ini pernah dibahas oleh Thomas Romain, mecha designer Space Dandy dan Nobunaga the Fool  dalam tweetnya.

tomasro

Jadi tidak peduli apakah animator tersebut adalah jenius yang sudah berpengalaman puluhan tahun ataupun animator yang baru saja memulai debutnya, semuanya dibayar dalam jumlah yang sama sesuai dengan berapa jumlah cut (satu sequence yang tidak terputus) yang mereka kerjakan. Dan sistem yang berorientasi pada jumlah pekerjaan ini juga mendorong animator untuk berusaha membuat animasi dengan kualitas setinggi mungkin, karena hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan orang-orang kepada mereka dan memudahkan mereka untuk mendapat tawaran pekerjaan di kesempatan selanjutnya.

Tapi kalau diberi iming-iming bayaran besar bukankah lebih mudah untuk merekrut freelance animator yang ahli/veteran? Belum tentu juga. Faktor pertama, memang animator ahli/veteran jumlahnya tidaklah sedikit, namun jumlah mereka sayangnya tidak sebanding dengan jumlah anime yang diproduksi tiap musimnya. Hal ini menyebabkan animator-animator yang terkenal ahli/berpengalaman memiliki jadwal yang sangat padat. Contohnya, Toshiyuki Inoue, animator yang disebut sebagai “perfect animator” ini memiliki jadwal yang begitu padat sampai-sampai apabila ingin merekrutnya untuk suatu proyek, harus memberitahunya setahun sebelum proyek tersebut diproduksi. Jadwal mereka yang begitu padat ini membuat mereka seringkali harus menolak tawaran dari berbagai penjuru.

Faktor kedua, industri anime adalah industri yang bekerja dengan didasari oleh koneksi. Sutradara biasanya lebih memilih untuk bekerja dengan orang yang dikenalnya, terutama sutradara-sutradara yang perfeksionis seperti Hayao Miyazaki. Begitu juga dengan animator dan animation director, mereka mau terlibat dengan suatu proyek biasanya bukan hanya karena didorong oleh faktor uang, melainkan karena mereka mengenal orang-orang di dalamnya, atau bisa juga karena proyek tersebut terlihat menarik bagi mereka. Contohnya seperti Toshiyuki Inoue dan Kenji Horikawa, serta Yasuhiro Takemoto dengan Shouji Gatoh.

Inoue, selain terkenal dengan jadwalnya yang begitu padat, juga terkenal cenderung menspesialisasikan dirinya untuk bekerja dalam proyek dengan format movie atau film layar lebar. Namun kedekatannya dengan kepala studio PA works, Kenji Horikawa, membuat Inoue mau menerima tawaran Horikawa untuk bekerja dalam dua seri anime besutan PA works, Uchouten Kazoku dan Shirobako.

Begitu pula dengan kisah Shouji Gatoh, pengarang Amagi Briliant Park. Saat dia berkeinginan mengadaptasi novel ringan karyanya menjadi anime, Gatoh kembali meminta tolong pada Yasuhiro Takemoto, seorang sutradara KyoAni. Takemoto sudah pernah bekerja dengan Gatoh dalam pembuatan anime Full Metal Panic The Second Raid, dan sejak saat itu keduanya menjadi teman akrab. Tetapi pada saat Gatoh kembali meminta tolong kepada Takemoto, KyoAni sendiri sebenarnya sudah mulai berhenti membuat adaptasi dari sumber luar (Amagi Brilliant Park adalah novel ringan terbitan Kadokawa) dan tengah fokus mengadaptasi novel-novel terbitan labelnya sendiri, KA Esuma Bunko. Tapi apa yang terjadi? Takemoto tetap menerima tawaran Gatoh, karena Gatoh adalah teman baiknya, bukan karena Gatoh mengiming-imingi Takemoto dengan uang atau semacamnya (dan mengadaptasi karya terbitan perusahaan lain tentunya tidak akan lebih menguntungkan daripada mengadaptasi karya terbitan label mereka sendiri).

Mungkin tulisan mengenai kekuatan relasi ini memang agak sulit dipercaya, apalagi datang dari sebuah ‘industri’ yang kerap dikaitkan dengan uang, tetapi seperti inilah kenyataannya di lapangan. Relasi antar manusia bisa menjadi faktor penggerak yang lebih kuat daripada uang.

maru

Shirobako juga pernah menyinggung hal ini di episode 18, bagaimana sebuah relasi bisa memengaruhi dan menggerakkan orang-orang dalam industri anime.

Selain itu, preferensi pribadi tiap-tiap animator juga sangat berpengaruh, apalagi animator-animator yang handal atau jenius juga seringkali terkenal memiliki sifat yang nyentrik. Salah satu contohnya, Masami Obari, mecha animator yang terkenal dengan “Obari Sword Pose” nya ini beberapa waktu lalu menulis tweet  berikut :

ohbari

Mahou Tsukai Precure ya..
Suatu saat tolong buatlah Yuusha* Precure (ー人ー)

**Ada sebuah perusahaan besar yang menelponku, aku berpikir “Jangan-jangan, akhirnya dapat tawaran animasi robot lagi!”. Ternyata mereka menawariku untuk membuat animasi finisher attack karakter untuk dijadikan bank footage…

aku menolaknya dengan mengatakan, maaf aku sedang mengerjakan G-tekketsu

“Perusahaan besar” yang disebut oleh Obari kemungkinan besar adalah Toei, yang kelihatannya tertarik untuk kembali mengajak Obari bekerjasama setelah membaca tweetnya mengenai Mahou Tsukai Precure. Obari sendiri pernah direkrut oleh Toei untuk bekerja di Smile Precure episode 35 untuk mengerjakan animasi mecha di episode tersebut

[Doremi].Smile.Precure!.35.[1280x720].[D0F2B3E0].mkv_20151110_032730.125

Scene dari Smile Precure episode 35 yang dikerjakan oleh Obari

Mungkin karena itulah, saat Obari menerima telepon dari Toei, Obari mengharapkan tawaran untuk kembali membuat animasi mecha.  Dan karena Obari adalah seorang animator yang obsesi dan kecintaannya terhadap mecha sudah cukup terkenal bahkan di kalangan para fans (yang bisa anda lihat sendiri di twitternya, @G1_BARI), Obari menolak tawaran Toei saat mendengar bahwa mereka memintanya untuk mengerjakan animasi karakter.

Bersambung ke Bagian 4.

KAORI Newsline | oleh Yoza Widi

* “Yuusha” yang disebut oleh Obari mengacu pada Yuusha series, franchise anime mecha produksi Sunrise pada tahun 90an di mana    Obari menjadi animation director seri Taiyou no Yuusha Fighbird dan menciptakan Obari sword pose.

** Tweet ini sudah dihapus oleh Obari, mungkin karena Obari sendiri merasa sungkan dengan perusahaan yang bersangkutan.