BAGIKAN

Hingga kini taksi aplikasi pribadi Uber masih ditentang di Jepang khususnya oleh para pengemudi taksi Jepang beserta Federasi Sopir Taksi Jepang.

“Taksi pribadi masih belum saatnya di Jepang dan dilihat dari segi keamanan penumpang pun masih perlu dipertanyakan,” kata Koyama seorang eksekutif dari Nihon Kotsu sebagaimana dilansir dari Tribunnews.

Menurutnya, dari segi hukum pun penggodokan hukum aturan perundangan di parlemen pun masih dipetieskan dan baru akan dibakas kembali tahun depan.

Advertisement Inline

“Hal ini karena masyarakat sopir taksi Jepang tampaknya masih mempertanyakan keberadaan taksi Uber taksi pribadi tersebut apakah pantas beredar di masyarakat saat ini,” tambahnya.
Sedikitnya 2.500 orang di daerah Chiyodaku Tokyo berkumpul untuk menentang Shirotaku atau taksi pribadi tersebut, Selasa (8/3/2016) lalu.

Mereka para sopir taksi dan federasinya berkumpul untuk menyatukan suara menghadapi kemungkinan pemerintah menyetujui peraturan Sharing Ride Taxi (taksi penumpang bersama) dilaksanakan di Jepang. Namun ternyata diundur.

Deregulasi industri taksi ini mendapat oposisi kuat dari kalangan pekerja taksi tersebut karena dianggap membahayakan penumpang serta keselamatannya.

Pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melihat sangat kekurangan taksi saat ini sehingga perlu memperbanyak dengan mengesahkan semacam taksi bersama atau taxi menggunakan aplikasi Uber di mana mobil dan pengendaranya adalah pribadi dan tidak tercatat di perusahaan taksi resmi Jepang.

Peningkatan taksi di Jepang guna mengantisipasi jumlah wisatawan asing yang saat ini jauh semakin banyak denganpertumbuhan per tahun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tahun 2020 diperkirakan sedikitnya 20 juta wisatawan asing akan berkunjung ke Jepang untuk melihat Olimpiade 2020 di Tokyo.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.