membangkitkanharapan

buahpersik

Judul MH19 kali ini mungkin tidak cukup merangkum berbagai hal yang terjadi di KAORI beberapa hari ini. Mulai dari rentan galau, audisi Stand Up Comedy KAORI Fansub, minum Setarbak setelah empat tahun tidak minum, buah persik seharga Rp25.000, serta Chihayafuru dan Ultraman yang menyelamatkan, bahkan meneguhkan posisi KAORI Nusantara.

Advertisement Inline

Sebelumnya, saya ucapkan selamat kepada Awanichi dan IruRui. Sesuai janji saya, berita pertunangan kalian berdua dengan ini masuk Newsline, ya!

Alkisah hari Selasa siang, 12 Februari lalu. Tidak ada kegiatan apa-apa, saya menenggelamkan diri dalam kegalauan saya menonton kembali Da Capo II Second Season. Saya bersyukur pernah mengenal Asakura Yume! Gusti Allah, ini namanya tjinta lama banjir kembali!

Dalam kondisi galau galau galau ala Citra Scholastika, muncul terusan surel yang masuk ke BlackBerry saya (yang akhirnya bisa berfungsi sesuai peruntukannya selain untuk mengunduh anime). Isi surel ini membuat saya syok karena meminta KAORI untuk ikut dalam sebuah acara awal Maret mendatang, dengan biaya partisipasi belasan juta rupiah. Tiket masuknya pun puluhan ribu rupiah.

Setelah mengisi pulsa (berkat pinjaman uang dari teman), saya menelepon Dody. Disepakatilah sebuah pertemuan di hari Jumat untuk membicarakan tawaran ini, sekaligus (lagi-lagi) membangun pencitraan akan KAORI di depan publik.

Dody menyepakati pertemuan ini akan dilakukan hari Jumat, di Citywalk Sudirman, Setiabudi, Jakarta. Jam 2 siang. Infonya pun sampai ke CerminSuara yang kebetulan ikut rapat KAORI Newsline yang hampir batal itu. Jadilah CerminSuara ikut dengan saya dari Depok menuju tempat bertemu.

Karena yang akan ditemui adalah orang Jepang, tentu akan menimbulkan kesan baik bila tiba di tempat sebelum waktunya. (Kalau soal gath, suka-suka mau datang jam berapa :v )

Langsung menuju inti, saya, Cermin, dan Dody pun bertemu dengan perwakilan dari sebuah EO besar asal Jebang. Sebut saja namanya Kobayashi. Yang membuat saya mulas adalah dugaan kalau-kalau saya harus membeli sendiri kopi Setarbak yang harganya setara dua kali uang harian saya kalau pergi kuliah. Namun tidak diduga-duga, semua dibayarkan. Mungkin ini salah satu dari sebagian kecil enaknya jadi admin KAORI (loh).

Dalam pertemuan yang berlangsung di Setarbak itu, saya mulai menjelaskan posisi KAORI. Kobayashi semula mengajak untuk bertemu KAORI di kantor KAORI, namun sayangnya KAORI tidak punya kantor semenjak pindah dari High End Building. Kobayashi pun tidak mengerti bahasa Indonesia, berbeda dengan orang Jepang lain yang pernah saya temui, yang setidaknya bisa berbicara bahasa Indonesia dasar.

Selain penjelasan bersifat pencitraan yang bisa dilihat di profil komunitas itu, saya menunjukkan beberapa proyek KAORI Fansub.

“We also providing subtitles for Japanese animation in bahasa Indonesia. Our current projects include Da Capo III, Chihayafuru…”

“Chihayafuru? Sugoi ne!”

Saya pun memperlihatkan video Chihayafuru 2 rilis KAORI Fansub yang digarap serius itu. Kobayashi bereaksi cepat, “If you want, we would like to ask you to provide subtitles for Japanese anime”. Meski saya yakin ini sekedar basa-basi, tapi setidaknya Fauzan bisa berbangga telah mengerjakan takarir Chihayafuru (dan semoga jangan delay lagi).

Lalu Kobayashi memperlihatkan acara yang ditawarkan tersebut. Ia bertanya ke kami, apakah ada yang tahu bahwa Ultraman Max ditayangkan di Indonesia. Dody menyelamatkan, bahkan meningkatkan citra KAORI dengan memberikan info bahwa KAORI Newsline pernah memasukkan berita soal Ultraman Max di Indosiar.

Menariknya, ketika ditanyakan ke komunitas lain, bahkan ke komunitas Ultraman, Kobayashi mendapatkan jawaban tidak tahu dari mereka. Jadi KAORI adalah komunitas pertama yang tahu soal Ultraman dari sekian banyak komunitas yang ditanyai oleh Kobayashi.

Kembali ke topik, masalah kerelaan membuka stand-lah yang menjadi pertanyaan paling berat di sini. Secara tidak langsung, saya menolak. Anggaran operasional KAORI per tahun paling-paling hanya 5-10 juta rupiah. Memang KAORI tidak bisa memberikan keuntungan komersial, namun ada titik kunci yang tidak dimiliki oleh komunitas anime lain di Indonesia: akses ke pasar.

Hal ini diakui sendiri oleh Kobayashi. Memang betul acara jejepangan yang akan mereka buat adalah untuk “geek”, “otaku”. Namun itu tidak mendatangkan uang dalam jumlah banyak di Indonesia. Lebih mudah mendatangkan uang dengan menjual Doraemon, Ultraman, dan Conan ke masyarakat daripada jualan Kirito-Asuna ke otaku di Indonesia.

Jejaring sosial dan pasar eksternal KAORI berusaha menjangkau masyarakat yang selama ini tidak tercakup oleh media-media lain, troll fanpage lain, dan kepada mereka yang selama ini mengakses anime dan pernik jejepangan secara casual.

Menutup sesi minum kopi gratis di Setarbak, tim diplomasi KAORI (saya, Cermin, dan Dody) setidaknya berhasil meyakinkan suatu hal yang membuat KAORI berbeda dari komunitas anime sejenis di Indonesia.

Selanjutnya ketika saya main ke tempat di mana Silver Crow berdiri dengan manis di meja kantor bang Yos di Serpong, ada kolaborasi ide yang didapatkan saat memakan buah persik yang mahal itu.

Bagaimana kalau KAORI mungkin di Yogyakarta, membuka warung burjo? Namun alih-alih bola yang diputarkan, warung burjo ini memutarkan film-film anime. Diharapkan ya bisa membentuk komunitas yang lebih solid, selain menghasilkan profit dari segelas Milo yang dijual seharga Rp2.300/gelasnya itu.

Dalam rangka bergerak menuju menyaingi Detik.com dan Kompas, ide warung burjo, bank data, dan ceruk yang digarap KAORI ini berpotensi untuk membuat KAORI tumbuh jauh, jauh lebih cepat, dan menguntungkan, sembari tetap mempertahankan eksistensi KAORI sebagai entitas nonprofit.

Sasaran KAORI ke depan tentu tetap harus merakyat, sembari menjembatani rentang pengguna yang begitu panjang, dari Kirito-fag, otaku yang pencitraan bukan otaku, penghuni /a/ dan /b/, penggemar plush Doraemon, penonton Naruto, sampai penggemar Suju, Shoujo Jidai, Scandal, dan kelab malam di Jayakarta.

Tentunya tetap sambil membangun kesadaran berpikir sehingga penggemar anime di Indonesia bisa lebih cerdas dan jernih berpikir. Sehingga tidak perlu lagi timbul kebencian tidak jelas akan anime yang merupakan sinetron, karena secara definisi toh anime ini salah satu bentuk sinetron kok!

Dari penjelasan (sambil curhat) yang panjang ini, ada dua pesan terakhir dari saya.

Mari berhenti tsundere pada diri sendiri dan mulai fokus mewujudkan visi dan misi KAORI untuk memajukan anime di Indonesia (konflik forum cuma secuil dari KAORI, jadi sempit rasanya menilai KAORI dari sisi ini saja).

Lalu, lakukanlah bekerja, bekerja, dan bekerja itu dengan sungguh-sungguh, karena tentu saja lebih enak makan udon, minum di Setarbak, dan makan buah persik yang dibayari orang, daripada keluar uang dari kantong sendiri. Enak yang gratisan, ya?!

Shin Muhammad
Administrator KAORI

1 KOMENTAR

  1. Chiahayafuru season 2 emank di delay ya gan?

    sayank sekali, padahal anime yang bagus tpi jarang di lirik orang…..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.