BAGIKAN
Salah satu dukungan Bekraf untuk industri game Indonesia. (KAORI / Kevin W)

Tak banyak yang tahu kalau pada tanggal 8 Agustus lalu ada yang namanya Hari Game Indonesia. Wajar saat kalau kurang terkenal karena baru tahun ini pihak-pihak terkait seperti Asosiasi Game Indonesia dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) baru menetapkan hari tersebut sebagai Hari Game Indonesia atau disingkat “HARGAI”. Tentu para pengembang (Developer) dan penerbit(Publisher) mengharapkan masyarakat Indonesia mau menghargai karya game-game anak bangsa dengan membeli game asli. Agar membuat Hari Game Indonesia tak sekedar hari peringatan saja, para pengembang dan penerbit setiap tahunnya akan memamerkan hasil karya mereka dengan dukungan kuat Bekraf, yang mana hal ini telah mulai terlaksana dengan program Indische Partij.

Industri Game Indonesia sedang berkembang pesat-pesatnya terlebih pengembang game Indonesia yang beberapa tahun terakhir berhasil menembus pasar internasional seperti Dreadout, game horor karya Digital Happiness dari Badung yang berhasil menembus Steam, salah satu situs penjualan game ternama dunia. Selain itu, kita dapat melihat juga di platform mobile (Android dan iOS) bahwa banyak game Indonesia beredar luas bukan hanya di Indonesia saja, tapi Asia seperti Inheritage karya Tinker Games. Tentu kita harus mengapresiasi bahwa industri game Indonesia mampu berkembang di tengah gencarnya pembajakan game di Indonesia, terlebih game Playstastion dan PC.

Negeri Pembajak

Selain media musik dan software yang sering dibajak, media game merupakan media yang sering dibajak dengan mengkopi file installer dan memasukannya ke dalam CD untuk dijual lagi atau disebarluaskan di Internet agar yang lain bisa main secara cuma-cuma. Penyebab banyaknya pembajakan di Indonesia terjadi dikarenakan harga game original sangat mahal sehingga banyak orang memilih game bajakan yang lebih murah bahkan gratis setelah internet berkembang luas di Indonesia.

Beruntung saat ini untuk membeli game original lebih mudah seperti Steam Wallet yang pengisiannya bisa di supermarket terdekat sehingga alasan membeli game itu merepotkan tak relevan lagi. Namun sangat disayangkan kalau game bajakan masih menjadi primadona orang-orang termasuk penulis. Kita tak boleh naif kalau kita sering mencari game-game dengan harga murah bahkan kalau bisa gratis dengan alasan game itu hiburan belaka. Kita harus ingat dengan para pengembang game yang bersusah payah membuat game demi mengais rezeki. Sudah banyak kasus pengembang game di negara-negara maju bangkrut karena pembajakan game.

Diharapkan dengan perkembangan pesat industri game Indonesia, gamers Indonesia tanggap dengan menghargai karya-karya mereka agar mereka bisa terus bangkit dan mampu menandingi game-game luar negerti asal Amerika ataupun Jepang, dua kekuatan besar industri game di dunia.

Industri yang (Segera) Menjanjikan

Menjadi pengembang game cukup mudah kelihatnya asal punya basis programming sederhana dan bisa menggambar. Seperti halnya industri komik ataupun musik, di dunia game ada dua jenis pengembang game yaitu indie dan pengembang kantoran. Pengembang game indie adalah pengembang game kecil yang biasanya terdiri dari beberapa orang dalam jumlah tak terlalu banyak, tapi ada juga kasus game indie yang dibuat satu orang. Sementara itu pengembang kantoran adalah pengembang game yang sudah membentuk perusahaan sendiri dan memiliki popularitas di dunia game internasional seperti Digital Happiness.

Biasanya para pengembang game mendistribusikan gamenya bisa dengan cara sendiri ataupun lewat penerbit game. Karena media distribusi game sangat luas tak terikat batas negara jadinya bahasa Inggris adalah prioritas nomer satu para pengembang kalau ingin game-nya dimainkan banyak orang dan juga media pendistribusiannya. Steam adalah media yang bagus bagi pendistribusian game PC, Mac, ataupun Linux dan juga pihak Valve, pemiliki Steam membuka seluas-luasnya pintu distribusi game indie dengan Steam Greenlight.

Namun tak semua game bisa diterima di Steam Greenlight, hanya game yang betul-betul menjanjikan dan didukung banyak gamers yang bisa diterima Steam seperti kasus Dreadout di 2013 dan yang baru-baru ini tembus juga di Steam, Just Desert, game Sim Date gaya Jepang. Kalau lewat penerbit game, pengembang game menawarkan game-nya ke mereka dan kalau menjanjikan mereka akan bersedia mendistribusikan game tak hanya di Steam saja, tapi juga website-website lain.

Selain Steam, untuk media game android ada Googe Playstore dan Iphone dengan App Store milik Apple. Mungkin media game android merupakan media primadona gamers Indonesia karena lebih mudah dibawa ke mana saja dan juga pengembang game lokal. Ada beberapa game lokal di Playstore yang sudah go internasional.

Pendapatan pengembang game Indonesia yang sudah mendunia cukup besar dengan pemasangan iklan ataupun pembelian game yang mata uangnya beraneka ragam sehingga industri game merupakan sangat menjanjikan asal game yang dibuat memang menjanjikan secara gameplay-nya!

Antusiasme kaum muda dalam mengembangkan game cukup tinggi dan memunculkan lomba-lomba game seperti Gemastik, lomba teknologi untuk mahasiswa tingkat nasional, ataupun lomba kerukunan agama oleh PKUB Kementerian Agama yang mendorong industri game lokal terus maju.

Tentu saja tidak cukup hanya mengandalkan satu momen seperti Hari Game Indonesia yang sekaligus menjadi momen buzz untuk mendongkrak penjualan game dan konsolnya. Kehadiran prakarsa seperti booth Indische Partij dalam Popcon Asia 2016 juga tidak dapat hanya berhenti menjadi satu momen belaka dan hendaknya dilaksanakan secara berkelanjutan. Pertanyaan besarnya, bagaimana pemerintah hendak memberi perhatian serius bagi industri game Indonesia ,entah dengan regulasi ataupun inkubasi agar game Indonesia mendunia. Semua tentu berharap agar kelak industri game dapat memberikan pendapatan besar seperti halnya industri game Jepang ataupun Amerika.

Ditulis oleh M Abdul Karim | Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tahun 2014.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.