BAGIKAN
Apapun yang dibaca, tidak masalah selama literasi informasinya memadai. (Arsip KAORI)

Membaca adalah bagian dari mengontrol fanatisme pop culture Jepang.

“Beda dengan rokok, malam mingguan, dan khilaf, membaca TIDAK memiskinkan apalagi bikin susah dapat rejeki dan pacar. Jadi yuk dibaca dulu sebelum berkomentar, kak!”

Penulis sangat mengagumi dengan petikan yang dibuat oleh KAORI Nusantara tersebut dan juga tertarik untuk mengembangkannya menjadi sebuah artikel opini. Kelihatannya petikan tersebut sederhana lantaran gaya penulisannya yang santai dengan memasukkan elemen komparatif, namun percaya atau tidak, kata “membaca” atau “dibaca” itu sendiri memiliki makna yang sangat mendalam yang berawal dari kata dasarnya yaitu “baca”.

Advertisement Inline

Pada dasarnya, kata yang berhubungan dengan “baca” adalah sebuah kata yang sederhana namun memiliki makna dan peranan yang sangat luas. Dengan “baca” kita bisa berbuat karena adanya pemahaman dari apa yang kita baca. Bahkan tidak hanya kita sebagai manusia, sebuah benda-pun juga bisa  berbuat karena benda tersebut bisa “baca”, seperti kita bermain arcade game, apa yang membuat kita bisa melanjutkan progress dari arcade game yang kita mainkan sebelumnya, karena ada device dari mesinnya yang “baca” data yang telah disimpan sebelumnya secara otomatis melalui kartu sebagai perangkat eksternal.  Setlah device tersebut “baca”, kemudian device tersebut berbuat ke mesinnya  dan kemudian akan bekerja dengan data berdasarkan dari apa yang device “baca” di kartu yang telah di-tap atau dimasukkan ke device-nya.

Begitu banyak peranan yang kita bisa perbuat berkat adanya kemampuan dan kemauan membaca, termasuk mengontrol fanatisme pop culture Jepang meskipun hanya sebagai bagian. Penulis sengaja hanya memasukkan kata “membaca” saja dalam penulisan judul artikel opini, karena banyak sekali peranan kontrol fanatisme yang berawal dari membaca diantara bagian lain dari kontrol,  meskipun penulis akui bahwa kemauan untuk berubah adalah ujungnya yang notabene berasal dari hati masing-masing. Orang bisa saja sudah membaca namun tidak berubah yang disebabkan oleh banyak faktor.

Apa yang membuat membaca memiliki peranan yang besar dalam kontrol fanatisme pop culture Jepang? Agar lebih mudah dipahami, penulis menguraikan membaca apa saja yang menjadi bagian dari kontrol fanatisme pop culture Jepang dan tentunya harus melibatkan elemen dasarnya terlebih dahulu untuk pemahaman dasar sebelum masuk ke elemen spesifiknya.

ELEMEN DASAR

Membaca materi agama, kepercayaan, dan budaya sendiri

Biar bagaimanapun juga, hal-hal tersebut adalah pilar utama dari kontrol fanatisme, karena menjadi penentu mengenai wajib, boleh, atau tidaknya kita berbuat.  Membaca adalah hal yang sangat awal sebelum memahami kemudian melakukan tindakan nyata bahkan bisa jadi media pengingat agar kita tidak lupa diri. Apabila memilih membaca melalui artikel, sebaiknya jangan dicerna begitu saja, pertimbangkan baik-baik sebelum memahaminya dengan cara buka artikel dari website lain. Itulah sebabnya masih lebih baik dari baca di kitab suci atau literatur langsung lalu ditandai bagian-bagiannya karena sumbernya langsung dan itu relatif mencakup berbagai saja ini tidak bisa dijelaskan secara detail lantaran setiap orang memiliki kepercayaannya masing- sisi. Tentu masing, namun pada umumnya isi dari kitab suci atau literatur mengenai hal tersebut mengajarkan yang baik dalam aspek hidup manusia.

Membaca literatur mengenai etika dasar

Pada umumnya, etika tersebut dibuat berdasarkan substansi dari isi kitab suci, beberapa literatur mengenai nilai, norma, kebudayaan, dan kearifan lokal, bahkan sebuah pengalaman dari kejadian atau kasus. Hanya saja, etika ditujukan untuk sesuatu yang lebih spesifik, seperti etika berinternet, etika berpakaian, dan sebagainya.

Membaca literatur mengenai ilmu pengetahuan yang lebih umum dari berbagai sisi

Selain karena perlu untuk kehidupan, juga mampu membuka pikiran bahwa di dunia ini masih banyak hal lain yang tak kalah menarik dari apa yang difanatikkan, bahkan bisa diolah dengan aplikasi ilmu lain. Semakin luas wawasan, semakin luas relasi bahkan lapangan kerja, itu semua salah satunya berawal dari membaca.

Bersambung ke halaman berikutnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.