BAGIKAN
Sumber: supergt.net

Ajang balap Super GT mungkin termasuk yang jarang terdengar pada umumnya, tidak seperti ajang balap lain yang di bawah pengawasan federasi otomotif internasional (FIA), seperti F1, FIA GT3, Le Mans 24 Jam, World Rally Championship (WRC), World Touring Car Championship (WTCC) dan sebagainya atau paling tidak seperti Deutsche Tourenwagen Masters (DTM) yang notabene joint-venture dengan Super GT dan sama-sama kejuaraan balap lokal bertaraf internasional. Meski demikan, namun setidaknya ada 5 alasan mengapa ajang balap Super GT terasa lebih spektakuler untuk ukuran ajang balap lokal dibanding ajang balap lain kalau kita pernah nonton, melihat partisipannya, dan juga melihat sejarah singkatnya.

  1. Pembalap Lokal VS Pembalap Asing

16sgt-rd2-099

Entrant Super GT tidak hanya pembalap lokal Jepang tetapi juga terdapat beberapa pembalap asing. Untuk kelas GT500 ada Heikki Kovalainen eks-pembalap F1 asal Finlandia, James Rossiter dan Oliver Turvey yang keduanya eks-test driver F1 asal Inggris, Ronnie Quintarelli eks-test driver F1 asal Italia, Andrea Caldarelli eks-pembalap GP2 asal Italia, João Paulo de Oliveira eks-pembalap FIA-F3 asal Brazil, Nick Cassidy eks-pembalap F3 asal Selandia Baru, dan Bertrand Baguette eks-test driver F1 asal Belgia. Sedangkan untuk kelas GT300 ada André Couto eks-pembalap WTCC asal Macau, Jann Mardenborough eks-pembalap Le Mans 24 jam asal Inggris, Jörg Müller eks-pembalap WTCC asal Jerman, Björn Wirdheim eks-test driver F1 asal Swedia, Richard Lyons eks-pembalap A1 asal Inggris, Jörg Bergmeister eks-pembalap Rolex 24 asal Jerman, Adrian Zaugg eks-pembalap GP2 asal Afrika Selatan, Pierre Kaffer eks-pembalap Le Mans 24 Jam asal Jerman, dan Kei Cozzolino eks-pembalap WTCC asal Italia. Lebih spektakuler, entrant lokal Thailand, Nattavude Charoensukhawatana dan Piti Bhirombhakdi, dan Chonsawat Asavahame yang mendampingi eks-pembalap Australian GT Championship asal Australia, Morgan Haber, berpartisipasi di ronde Super GT berikutnya di Sirkuit Chang, Thailand, 8-9 Oktober silam, di kelas GT300. Pembalap asing dengan berbagai pengalaman balap tersebut beradu dengan pembalap lokal dengan berbagai pengalaman karir balap kelas lokal ataupun internasional, baik salah satu maupun semuanya dalam satu mobil entrant yang mengemudi secara bergantian.

Advertisement Inline

Sudah dari zaman All-Japan Grand Touring Car Championship (JGTC) pembalap lokal Jepang melawan pembalap asing, termasuk pembalap lokal non-Jepang untuk event diluar Jepang, bahkan sempat menjadi pertarungan sengit, seperti pertarungan sesama eks-pembalap F1, Kazuyoshi Hoshino vs Érik Comas.

  1. Spek JAF-GT vs Spek FIA-GT3

16sgt-rd6-111

Untuk kelas GT500 semuanya berspek JAF-GT atau spek federasi otomotif Jepang untuk GT, mobilnya dibuat khusus dengan 3 pilihan pabrikan, sehingga persaingannya benar-benar lebih ke entrant. Namun untuk kelas GT300, persaingannya terasa lebih spektakuler dengan persaingan antara mobil berspek FIA-GT3 atau federasi otomotif internasional grup GT3 beradu dengan mobil berspek JAF-GT, baik merk lokal maupun merk asing. Untuk entrant yang memilih spek JAF-GT, pihaknya harus lebih bekerja keras karena pembuatan dan pengembangan mobil balapnya harus dari mobil produksi yang dimodifikasi berdasarkan regulasi JAF-GT. Tenaganya lebih rendah dari mobil berspek FIA-GT3 namun memiliki grip yang lebih tinggi berkat spesifikasinya yang lebih adaptif. Sedangkan untuk entrant yang memilih mobil spek FIA-GT3, tentunya pilihan yang lebih realistis karena dibuat dan dikembangkan oleh pabrikannya langsung atau tuner rujukan pabrikan yang diproduksi khusus sehingga entrant hanya perlu memesan unitnya. Tenaganya lebih besar, namun karena spesifikasinya lebih umum, grip-nya kalah dengan mobil JAF-GT.

Tentunya masing-masing spek mobil punya kelebihan dan kekurangan ketika beraksi di trek terutama soal performa secara keseluruhan selama balapan berlangsung dan sudah terbukti kompetitif lantaran tahun kemarin mobil FIA-GT3 juara umum dan untuk tahun ini dari ronde 1-7, masing-masing spek bisa bergiliran juara ronde dan mobil JAF-GT memimpin klasemen.

Pertarungan spek antara JAF-GT dengan FIA-GT sebetulnya sudah dari zaman JGTC. Namun di zaman JGTC persaingan entrant dengan spek yang berbeda merangkap kelas GT500, ketika mobil domestik berspek JAF-GT beradu dengan mobil impor berspek FIA-GT2.

  1. Mobil Domestik VS Mobil Impor

16sgt-rd5-099

Ini juga yang menjadi poin spektakuler dan hanya ada di Super GT ketika mobil domestik beradu dengan mobil impor dalam kejuaraan balap lokal Jepang, khususnya kelas GT300. Pertarungan seperti ini mampu mengurangi kebosanan ketika menonton ajang balap Super GT, karena mobil entrant yang berbeda-beda dan juga menjadi ajang pembuktian kesiapan mobil domestik bersaing dengan mobil impor di ajang balap lokal Jepang. Meski kebanyakan mobil domestik Jepang berspek JAF-GT, ada juga yang impor seperti Lotus Evora, begitu juga spek FIA-GT3, meski kebanyakan mobil impor, ada juga mobil domestik Jepang seperti Nissan GT-R GT3 dan Lexus RCF. Lebih spektakulernya, supercar impor berspek FIA-GT3 seperti Lamborghini Huracan, Ferrari 488, Mercedes-Benz SLS AMG dan AMG GT, Audi R8, Porsche 911, dan BMW M6, turut bersaing dengan mobil domestik, baik spek FIA-GT3 maupun JAF-GT seperti Toyota 86 bermesin GTA V8, Subaru BRZ bermesin EJ20 4 silinder turbo, bahkan Toyota Prius bermesin 3400cc V8 RV8K hybrid.

Pertarungan mobil domestik vs mobil impor juga sudah dari zaman JGTC, namun di zaman itu merangkap kelas tertinggi JGTC yang menjadi poin spektakulernya, seperti pertarungan antar spek mobil.

  1. Privatir VS Bekingan Pabrikan
16d_003b
Jann Mardenborough (Juara 1 Gran Turismo Academy 2011 region Eropa, Pembalap Bekingan Nissan)

Baik kelas GT500 maupun GT300, entrant-nya terdiri dari entrant yang dibekingi pabrikan dan entrant privatir dalam artian pihak pabrikan hanya berperan sebagai mensponsori atau mensuplai komponen balap. Entrant yang dibekingi pabrikan, selain aktif mensponsori dan mensuplai, juga aktif dalam manajemen kru balap seperti engineering management, race director, bahkan mobilnya pun dipilih atas rujukan pabrikan untuk berkompetisi. Selain entrant, pembalapnya-pun di antaranya ada yang bekingan, seperti Jann Mardenborough bekingan Nissan dan Jörg Müller bekingan BMW di kelas GT300. Yang menjadi poin spektakuler adalah ketika entrant privatir beradu dengan entrant bekingan pabrik, sehingga manajemen entrant benar-benar menjadi penentu siapa yang akan menjadi juaranya, selain keterampilan mengemudi masing-masing pembalap di lintasan.

  1. Lalu-Lalang antar Kelas di Lintasan Trek

16sgt-rd2-073

Meskipun startnya-pun tidak bersamaan, para pembalap Super GT akan berlalu-lalang dengan kelas yang berbeda karena performa mobil yang berbeda, terutama setelah beberapa putaran dilalui atau sebelumnya ada insiden seperti melintir atau bentrok dengan pembalap sekelas. Salah satu yang menarik ketika pembalap sesama kelas saling mendahului dan mereka melalui mobil GT300 yang berlalu lalang, atau akan dilalui mobil GT500 yang memiliki performa lebih baik dari GT300, sebab selain harus fokus menghadapi rival sekelasnya, juga berupaya bagaimana supaya tidak terjadi tabrakan satu sama lain.

Tertarik untuk nonton mumpung masih 2 ronde lagi?

Oleh Julfikri Ahmad | Penulis adalah peminat budaya populer yang tertarik untuk memadukan inspirasi dari budaya populer dengan desain industri.

Artikel ini ditulis dari opini pribadi penulis dan tidak mewakili opini KAORI Nusantara secara keseluruhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.