BAGIKAN

BEKRAF Game Prime Jakarta/Game Prime Asia diselenggarakan 29-30 November 2016 di Balai Kartini, Kuningan. Acara ini diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif bersama puluhan pengembang game atau Game Developer, Publisher, Unity, Microsoft, dan lain-lain. Bekraf Game Prime Jakarta merupakan inisiasi setelah acara yang sama diselenggarakan di PENS Surabaya Oktober lalu yang cukup sukses.

Tentu di acara ini peminat cukup banyak. Dari kalangan anak sekolah yang rela bolos seperti yang penulis temukan dengan anak SMK 2 Jakarta sampai orang asing dan investor berdatangan ke Balai Kartini untuk melihat acara ini yang sebenarnya sudah ada 8 tahun lalu dengan nama berbeda, Game Dev Gathering. Acara ini sangat ramai dengan dihadiri pembicara dari Bekraf, tokoh pengembang game, penerbit game atau publisher, sampai Youtuber untuk mengedukasi banyak orang. Di lantai dasar, di area Expo, banyak sekali pengembang game dari tingkat universitas seperti Fasilkom UI, Paramadina, Trisakti, ITB, dan PENS, pengembang skala kecil sampai kelas berat seperti Agate. Selain pengembang game, ada juga publisher seperti Megaxus yang memamerkan game-game terbitan mereka termasuk membagikan poster The Closer secara gratis.

© GameChanger Studio

Tidak hanya game saja yang ada di sana, tapi juga komik-komik juga dijajakan seperti Juki, Only Human oleh komikusnya sendiri, Mukhlis Nur yang merupakan bagian dari Tinker Games, sampai komik Gak Jelas dan komik-komik era lama macam Gundala Putra Petir sehingga menunjukan bahwa komik pun boleh meramaikan acara ini. Selain itu, ada juga pihak kementerian yang memberikan penyuluhan mengenai IGRS atau Indonesia Games Rating System, Asosiasi Game Indonesia membuka pendaftaran kepada pengembang-pengembang lainnya bahkan skala terkecil pun untuk bergabung dengan mereka, visual reality 360 yang dibolehkan dicoba oleh semua orang, konsultasi pengembang game gratis oleh master-masternya yang menjadi tempat curhat para pengembang dan pengunjung biasa, dan Prime Connect, di mana pengembang dan investor berbicara empat mata. Dalam Prime Connect, tak hanya investor saja yang ada, pengembang game, publisher, dan semacamnya ada di sana dengan pergantian tiap jamnya. Dengan adanya Prime Connect, diharapkan pengembang bisa mendapat keuntungan entah didanai atau kolaborasi. Penulis sempat berada di sana dan mengobrol dengan pihak Touchten di mana tempat mereka kosong dari pengembang. Sangat disayangkan penulis tak membawa laptop untuk memamerkan game kepada mereka sehingga penulis ngobrol-ngobrol ringan bersama mereka yang membawa penulis ke booth mereka.

Advertisement Inline

Pengembang game yang ada di Expo area ini cukup beranekaragam dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Kalimantan, sampai Bali sehingga membuat mereka saling bersilahturami satu sama lain, antara pengembang indie dengan pengembang besar. Tipe pengembang juga beranekaragam mulai dari Islami sampai game sedikit mesum macam N.S.F.W. Game-game mereka cukup menarik konsepnya seperti pemakai kartu fisik dengan bantuan aplikasi ponsel seperti yang dilakukan Jamrana dengan konsep pramuka SD.  Selain itu, beberapa pengembang besar membuka rekrutmen untuk menjaring potensi-potensi baru. Di hari pertama setelah seluruh acara selesai, dilangsungkan musyawarah nasional AGI dengan mengundang seluruh anggotanya, termasuk penulis yang baru bergabung beberapa jam.

© GameChanger Studio

Dari acara besar ini yang seperti diterangkan oleh pihak pengadanya, Bekraf dan AGI, peminat acara seperti ini selalui banyak bahkan selalu dobel peminatnya. Hal ini menunjukan bahwa minat game di Indonesia sangat tinggi. Dunia industri game di Indonesia sudah di mulai semenjak awal tahun 2000-an di mana saat itu Industri Game masih bertindak sebagai pembantu studio lain dan juga lokalisasi game online macam Ragnarok Online oleh Lyto. Seperti yang disebutkan oleh Arief Widhiyasa, CEO dari Agate Studio bahwa pasar game Indonesia sangatlah besar berkat kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari negara-negara tetangganya di Asia Tenggara dengan prospek ratusan juta dolar dan  2016 sepertinya akan menjadi tahun penting dalam dunia industri game Indonesia yang berumur macam anak SMA.

Diharapkan dari acara seperti ini memunculkan banyak pengembang baru dan memajukan industri game Indonesia yang sudah menunjukan tren positif mulai dari beberapa game Indonesia di Steam, Google Playstore, dan lain-lainnya yang memacu Bekraf dan Kementerian Komunikasi dan Informatika mendukung industri ini yang akan memberikan kontribusi besar pada negara seperti yang terjadi di Korea Selatan, Jepang, dan Kanada.

© Prospera E Studio

Yang mungkin disayangkan adalah beberapa booth masih kosong dan masih ada beberapa pengembang yang ingin mengisinya seperti Vifthfloor yang membuat Simdate Just Deserts karena telat seperti yang terjadi pada penulis. Mungkin bisa saja mengisi booth-booth tersebut dengan menaruh meja dan memasang laptop, tapi seperti yang ditekankan panitia, pendaftaran sudah ditutup. Selain itu, penulis merasa pemilihan hari kerja sebagai hari Game Prime sangat tidak pas karena memaksa penulis bolos kuliah dan membuat banyak orang tak bisa mendatangi acara keren seperti ini.

Prospek ke Depan Industri Game.

Seperti yang disebutkan Triawan Munaf selaku ketua Bekraf, acara Game Prime yang gratis ini akan diselenggarakan tiap tahunnya dan bisa dijamin tahun depan booth-booth akan lebih banyak dari yang sekarang. Penghargaan Game Prime tahunan, pengumuman terbitnya game baru seperti yang dilakukan Tinker Games, dan Game Jam (acara membuat game serentak) akan menjadi acara tahunan yang mungkin diselanggarakan berbarengan dengan Hari Game Nasional. Mungkin ini adalah angin segar bagi pelaku industri game, baik indie ataupun besar.

Industri game Indonesia bakal terus tumbuh menjadi kekuatan baru di Asia bahkan dunia beberapa tahun lagi. Perkembangan teknologi sangat cepat dan membuat banyak orang bisa mengembangkan game dengan sendirinya bahkan tanpa memahami bahasa program seperti Gamemaker yang lebih ke dua dimensi walaupun Unity adalah primadona pengembang baik Indie ataupun perusahaan. Pengembang Indonesia juga berhasil membuat alat pembuat game sendiri dan ditunjukan di acara Game Prime 2016.

© Agate Studio

Pelaku industri game mungkin bisa saja tak hanya diisi orang-orang IT dan orang manejemen saja, tapi juga orang luar karena memahami dunia game sekarang lebih mudah ketimbang abad ke-20 berkat Internet. Mungkin inilah yang membuat pihak Bekraf mengatakan “Kita generasi tua hanya bisa bantu generasi muda dengan mengadakan acara-acara seperti ini” dan para pengembang mesti menelaah omongan Ilham.A.Habibie selaku pencetus Berkarya!Indonesia dalam pembukaan acara ini “game Indonesia mesti mengikuti game-game Jepang, Korea Selatan, dan Amerika yang kuat penceritaannya.”

Ditulis oleh: Muhammad Abdul Karim | Ketua Sengkala Dev, pengembang Game Pedalahusa Fall of Bali yang juga mahasiswa sejarah FIB UI 2015. Panelis “Akulturasi Komik Jepang dengan Komik Indonesia”.

Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca utk menulis opini tentang dunia anime & industri kreatif Indonesia. Opini ditulis 500-1000 kata dlm bhs Indonesia/Inggris & kirim ke opini@kaorinusantara.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.