Membangkitkan Harapan 39: Birunya Langit, Birunya Laut

0

nishizono-mio

Panas terik menusuk ubun-ubun saya siang itu. Tapi tidak menghalangi saya berlari di pedestrian stasiun Bogor, mengejar kereta yang berangkat dalam dua menit, meskipun agak kecewa karena kurang beruntung mendapatkan kereta yang suhunya lumayan panas.

Pertemuan sudah molor sekitar dua jam dari janji awal. Saya pun sebenarnya molor karena (merasa) ini hari Minggu, padahal nyatanya saya punya janji hari Sabtu siang. Janjinya, mengajak orang-orang yang mau mendiskusikan rencana “Forbis” yang tertunda setelah hampir lima bulan.

Memasuki kampus UI yang begitu terik panasnya, sayup-sayup suara mahasiswa baru terdengar sepanjang jalan. Oh, rupanya sedang ada ospek saat itu. Saya pun melihat seseorang yang salah saya kira sebagai mahasiswa baru karena pakaian putih-hitamnya.

Si Clow, yang berhenti dari kakidols karena salah satu anggota kesayangannya “lulus”, sudah menunggu sejak jam 10 pagi. Dalam keadaan puasa pula, membuat saya agak bersalah karena malah ngaret tidak karuan di rumah.

Tanpa berlama-lama, saya langsung membuka laptop dan mulai mendiskusikan pra-proposal bersamanya. Memang agak sulit karena saya lupa membawa tetikus, tetapi setelah referensi proposal dibuka, saya langsung mendiskusikan format awal acara ini.

Format acara yang ditawarkan adalah diskusi interaktif, jadi bukan seminar yang diisi oleh orang-orang tertentu tetapi seluruh peserta berdiskusi secara aktif untuk mencari solusi dalam satu tema: seputar kebudayaan anime di Indonesia.

R10 yang juga datang telat pun mulai membantu menghitung skema biaya awal, pembicara, dan rundown acara. Ide-ide gila pun betebaran seperti menyelenggarakan diskusi di tempat Forbis aslinya (di Grand Sahid) sampai mengundang anggota DPR untuk ikut berbicara.

Lalu datanglah saddam yang baru selesai syuting acara terbarunya. Beberapa perbaikan pun dilakukan agar draf pra-proposal bisa lebih fokus. Sempat ada perdebatan namun bisa diselesaikan dengan baik.

Dalam suasana diskusi, saya masih berpikir apakah benar acara ini bisa dilaksanakan. Apakah benar acara seprestisius ini bisa diwujudkan. Mendengar biaya sewa ballroom sebesar 10 juta rupiah saja saya sudah merinding!

Tetapi setelah kembali ke rumah dan membaca kembali draf pra-proposal yang sudah dibuat, saya merasa tidak ada alasan untuk mundur. Lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba mewujudkannya. Bahkan saat dahulu awal KAORI ini didirikan dan sempat hampir hancur, entah mengapa saya tidak terlalu risau akan kehancurannya.

Barangkali, andai seluruh isi draf pra-proposal itu gagal atau tidak berjalan sesuai dengan harapan, setidaknya saya pernah mencoba mewujudkannya. Setidaknya, jatah gagal saya di KAORI harus habis selagi saya masih bisa memanfaatkannya.

Jumat esok, pertemuan kedua akan kembali diselenggarakan. Harapan saya,  teman-teman KAORI mau membantu penyusunan proposal sehingga acara ini bisa dieksekusi. Bahkan yang tidak di Jakarta sekalipun, mari membantu dengan mengkritik secara habis-habisan namun tetap memberikan solusi secara habis-habisan pula.

Sembari mengawali semester baru dalam perjalanan pendidikan saya, saya teringat episode Little Busters! yang saya tonton hampir setahun lalu: Birunya langit, birunya laut.

Shin Muhammad
Administrator KAORI

Ilustrasi: Mio Nishizono (Little Busters!)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.