korea-chosen-japan-demo-afp

Mencoba keluar dari dogma sejarah yang ditanamkan di sekolah-sekolah, generasi muda Korea Selatan kini mulai menyukai Jepang.

“Saya suka Jepang!” Kalimat ini perlahan-lahan mulai muncul dalam keseharian pengguna internet di Korea Selatan.

Advertisement Inline

Korea Selatan, negeri dengan sejarah kelam pendudukan Jepang pada awal abad ke-20, sangat keras menolak pengaruh Jepang sampai hari ini.

Sejak penjajahan Jepang di Korea berakhir pada 1945, pemerintah Korea Selatan mengesahkan undang-undang larangan impor penyiaran asing. Meski undang-undang ini tidak mengatur asal negara secara spesifik, undang-undang ini dipergunakan untuk melarang konten hiburan dari Jepang.

Baru pada awal 1999-lah masyarakat Korea Selatan bisa menikmati akses terhadap manga, komik buatan Jepang, dan film-film Jepang tertentu yang telah memenangkan satu dari empat penghargaan film berskala internasional.

Sampai hari ini, penyiaran konten Jepang di televisi nasional masih dilarang oleh pemerintah, meski ada rencana untuk menghapuskan larangan ini ke depan.

Dengan masuknya pengaruh budaya pop Jepang ke kehidupan remaja Korea Selatan, stereotip anti-Jepang yang ada di masyarakat pun mulai ditantang.

Pertanyaan Kritis dan Saling Ledek

Pernyataan yang dikemukakan oleh kelompok pro-Jepang seperti ini sebenarnya bukan fenomena baru. Kelompok seperti ini dicap sebagai “pengkhianat negara” dan lumrah disaksikan.

Yang menarik, di luar dari konteks formal, pernyataan-pernyataan pro-Jepang ini mulai merasuki forum internet.

“Aku suka Jepang. Kalau memang bagus, ya sudah bagus, memangnya salah ya?”

“Suatu hari aku mau pergi ke Jepang. Pergi ke Akihabara, lalu menikah dengan gadis Jepang.”

“Korea tidak mungkin menyusul Jepang. Hal seperti itu tidak mungkin.”

Posting-posting seperti ini semakin marak dipos oleh pengguna – yang kebanyakan adalah kaum muda -.

Ada anekot yang berkembang mengenai kelompok pendukung dan pembenci Jepang ini.

Mereka yang mendukung Jepang disindir menggunakan istilah irupon, yang merupakan campuran dari irubon, nama Jepang dalam bahasa Korea, dan hiropon, sebutan untuk narkoba jenis stimulan di Jepang.

Sindiran irupon ini dibalas dengan istilah lain, keppon, yang merupakan gabungan dari ketsu (negara) dan hiropon. Secara harafiah, kecanduan akan negeri sendiri, atau diartikan sebagai partiotisme berlebihan.

Pengguna lain membalas dengan menyebut masyarakat Jepang yang didamba-dambakan itu sebagai “masyarakat palsu”, sekadar ilusi belaka.

Kemudian postingan lain, seolah tidak mau kalah troll, membalas, “Apa salahnya menyukai negara tetangga?”

Isu Sensitif

Hubungan Jepang dan Korea menjadi masalah sensitif di dalam kedua negara tersebut.

Saat Kaze Tachinu, film terakhir Ghibli garapan Hayao Miyazaki diluncurkan, pernyataan Miyazaki mengenai dosa Jepang pada Perang Dunia II memicu kontroversi.

2chan, forum internet besar di Jepang dipenuhi pernyataan yang menuding Miyazaki “tidak nasionalis” dan “seharusnya membayar uang kompensasi para jugun ianfu (wanita penghibur tentara Jepang) dengan keuntungan perusahaannya.”

Komik Manga Kenkanryu yang menyindir Korean Wave, sebutan untuk budaya populer Korea yang merambah ke seluruh dunia, menjadi bahan kontroversi dan dibicarakan oleh masyarakat saat diluncurkan tahun 2005.

Di Korea sendiri, foto seorang anak 13 tahun yang mengklaim dirinya “warga negara Kekaisaran Jepang” membakar bendera kebangsaan Korea, beredar luas di internet.

Betapapun hangatnya isu kedua negara ini, ada yang menyatakan bahwa kecintaan generasi muda Korea terhadap Jepang hanya sekadar efek masa muda belaka.

“Sedari kecil mereka diajari mengenai nasionalisme. Masalahnya adalah, mereka menonton anime, membaca buku-buku Jepang, menimbulkan kecintaan yang agak berlebih kepada Jepang. Ini hal yang wajar dan saya kira, bisa diperbaiki seiring waktu.”

KAORI Newsline | Sumber | diolah oleh Litbang KAORI

3 KOMENTAR

  1. kenyataannya Jepang memang melakukan penjajahan ideologi dengan mengekspor kulturnya kemana mana :v fakta lho :v

    buktinya? Outbreak Company :v

  2. ^Indonesia juga bisa melakukan Penjajahan Ideologi jika ada keinginan, tapi nyatanya, walaupun tidak melakukan penjajahan secara terbuka seperti Jepang, Indonesia bisa dibilang telah melakukan Penjajahan secara tidak langsung.
    Misalkan batik, walaupun tidak melakukan event/acara melalui batik ternyata Batik di terima di kalangan Negara Lain.dan Sifat Negara Indonesia yng begitu Ramah dan Fair dalam Agama/Ras/Etnis ( Bhineka Tunggal Ika ) pun juga di Tiru oleh negara2 lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.