BAGIKAN
Di tengah gelapnya malam, pemuda ini menyisihkan waktunya demi transportasi ibukota yang lebih baik. (KAORI Nusantara / Kevin W)

reon

Koridor 13 Transjakarta menjadi harapan baru masyarakat Jakarta. Tetapi pengoperasiannya yang kejar tayang menyebabkan harapan baru ini tercoreng. Celakanya, Koridor 13 beroperasi tanpa petunjuk dan rambu apapun dan rawan membuat penggunanya tersesat.

Di tengah kegelapan informasi koridor 13, sekelompok anak muda pemberani datang dan melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun di Jakarta. Mereka adalah Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ). Di media sosial, FDTJ telah menjadi salah satu grup media sosial yang ramai untuk mendiskusikan perkembangan transportasi di Jakarta, dan telah banyak mendapatkan apresiasi dari sejumlah instansi berwenang.

Adriansyah Yasin (kiri) dan Fagra Hanif (kanan) terlihat asyik mempersiapkan alat tempur. (KAORI Nusantara / Kevin W)

Adriansyah Yasin, mahasiswa NHTV Breda, Belanda, ini bukanlah riajuu (remaja gaul) ibukota biasa. Bersama kekasih tercinta dan sahabat seperjuangannya Fagra Hanif, tim KAORI Nusantara mengikuti perjalanan mereka mengelilingi halte-halte Transjakarta koridor 13 yang nyaris tidak tersentuh peradaban.

Bagian belakang signage. (KAORI Nusantara / Kevin W)

Saat kami menemui Yasin, tampak sejumlah sumpit baru berderet-deret di atas meja. Rupanya, sumpit ini akan direkatkan dengan lakban hitam di bagian belakang peta yang telah dilaminasi. Tujuannya, supaya peta tidak ngewer-ewer, melengkung tertiup kencangnya angin malam.

Aksi dimulai pada pukul 10 malam. Setelah melewati rutinitas siang hari sebagai seorang weaboo yang panjang dan melelahkan, kami bersama Yasin dan Fagra bergerak dari kawasan Blok M. Setelah beberapa hari sebelumnya mereka memasang signage petunjuk halte dan peta rute di halte Blok M, Mayestik, dan Tirtayasa, sasaran mereka kali ini adalah halte Adam Malik, Puri Beta, dan Tendean.

Merekatkan signage di halte Mayestik. (KAORI Nusantara / Kevin W)

Tim kami memulai aksi pertamanya di halte Mayestik. Halte ini telah dipasangi signage oleh FDTJ, namun belum terpasang seutuhnya. Segera setelah turun dari mobil, mereka mengeluarkan sejumput tali plastik, melekatkannya ke tiang terdekat, dan memasang signage yang telah disiapkan sebelumnya. Senyum pun mengembang dari wajah Yasin.

Aksi berlanjut di halte Adam Malik. Di luar dugaan, masih ada sejumlah petugas yang berjaga di halte, membuat wajah Yasin sedikit tegang. Setelah sedikit bernegosiasi, Yasin dan Fagra kembali bergerak memasang signage. Kini penumpang yang turun dan hendak naik dari halte Adam Malik tidak lagi keluar dalam ketersesatan.

Memasang petunjuk di halte Adam Malik. (KAORI Nusantara / Kevin W)

Kami pun bergerak ke halte Puri Beta 2. Halte yang luasnya lebih kecil dari halte Trans Jogja ini pun masih bersih dari petunjuk dan informasi. Sedikit diskusi kecil terjadi antara Yasin dan Fagra, menentukan di titik mana sebaiknya informasi rute dipasang dan bisa dibaca oleh pengguna. Tak lama, lakban pun beraksi, peta rute kini telah terpasang di Puri Beta 2. Tidak jauh dari sana, mereka kembali melakukan aksi serupa di halte Puri Beta 1.

Memasang petunjuk di halte Puri Beta 2. (KAORI Nusantara / Kevin W)

Bagai Teikoku Kagekidan yang berjuang demi mempertahankan keadilan, kami melanjutkan perjalanan terakhir menuju halte pertama koridor 13, halte Tendean. Kali ini, tidak ada siapapun di depan halte. Yasin bergumam sejenak di area kosong yang seharusnya tertempel peta halte. Tanpa banyak berbicara, Fagra seolah mengerti apa yang hendak dimaksud Yasin. Lem kembali dikeluarkan dan dengan sedikit dorongan batin, halte Tendean kini telah lengkap terpasang petunjuk rute.

Menentukan momen yang pas. (KAORI Nusantara / Kevin W)
Bahu membahu menyiapkan alat tempel. (KAORI Nusantara / Kevin W)

Tentu memprihatinkan mengapa peta-peta seperti ini tidak disediakan oleh pihak yang berwenang dan justru harus disediakan secara swadaya oleh masyarakat. Setelah selesai memasang, Yasin memendam rasa senang sekaligus sedih di dalam hatinya.

“Senang sih bisa pasang ini di halte, tapi sampai kita yang harus masang sendiri itu, rasanya gimana ya.”

Baca Juga: Opini: Transjakarta Butuh Perbaikan Nyata, Bukan Pencitraan Nyata

KAORI Nusantara | oleh Kevin W