Meraih Peluang dengan Berbisnis Karakter Kreatif

1
Kohey Hara dari Tokyo Gets memberikan pemaparan tentang bisnis IP (Kevin W)

Pada 16 Maret 2014, Japan Foundation Jakarta menyelenggarakan diskusi bertajuk “Character Business in Indonesia”, yang dibawakan langsung oleh Kohei Hara, pendiri Tokyo Gets, perusahaan yang bergerak dalam bidang lisensi karakter.

Dalam diskusi yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta ini, dipaparkan sejumlah hal mengenai bisnis karakter baik di Jepang maupun di luar negeri.

Pertama, saat membicarakan “bisnis karakter” yang notabene berinteraksi dengan ranah HAKI (Hak Kekayaan Intelektual), ada berbagai macam variasi di dalamnya. Misalkan saja, perusahaan yang menggunakan karakter untuk membangun branding, memakai karakter untuk promo produk, atau menjual produk dengan kemasan atau bungkus bertemakan karakter tersebut.

Bisnis karakter menjadi hal penting dalam industri kreatif karena seringkali film maupun karya asal lain (komik, majalah, software) tidak cukup mampu untuk menghidupi sang kreatornya. Dengan melisensikan karakter yang sudah terkenal, sang kreator berkesempatan mendapatkan penghasilan dan popularitas tambahan yang dibentuk dan dibangun oleh para penggemar loyalnya.

Advertisement Inline

Menariknya, karakter bisa menjadi pendongkrak harga sebuah produk. Di Jepang, umumnya ada disparitas harga di mana harga produk dengan karakter tertentu bisa 1,5 kali lipat dari harga produk yang sama, tanpa tambahan karakter.

Keuntungan yang didapat pun cukup menggiurkan. Pada model kontrak kerjasama yang paling umum, kreator bisa mendapatkan 5-10 persen dari harga produk asal yang dijual, meskipun jumlah ini bisa sangat bervariasi.

Dengan pasar Jepang yang sedang stagnan, Tokyo Gets berusaha meraih peluang baru melalui bisnis karakter di negara-negara seperti Taiwan dan Indonesia.

Perusahaan pelisensi karakter ini sangat membantu baik bagi sang kreator yang memegang hak cipta sebuah karakter maupun bagi perusahaan manufaktor produk. Perusahaan ini membantu sang kreator dalam menyusun strategi karakter maupun membantu perusahaan pemilik produk dalam menyusun strategi pemasaran.

Indonesia memiliki potensi yang besar baik sebagai pasar maupun sebagai sumber karakter. Bila dikelola dengan tepat, karakter asli Indonesia bisa saja mendunia maupun tenar di negeri sendiri. Prediksi kasar memperkirakan angka sekitar 20 juta dolar AS, hanya untuk pasar Indonesia.

Setelah sesi presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan-pertanyaan menarik yang dilontarkan dalam sesi ini.

Seperti salah satu peserta yang menanyakan prospek masuknya seri seperti Pretty Cure maupun Aikatsu ke Indonesia. Atau bagaimana pemilik karakter memandang masalah cosplay dan pembajakan atau aksesoris “KW” yang sebenarnya tidak terlalu disukai oleh industri di Jepang.

Mengenai masalah karakter seperti Aikatsu, Kohei sendiri tertarik sebab seri semacam ini cukup populer di Taiwan dan Cina, namun entah mengapa di Indonesia tidak populer. Mungkin saja bila ada versi lokalisasi dari seri-seri tersebut, pasar Indonesia akan menyambut antusias.

Sedangkan mengenai masalah pembajakan, saat ini perusahaan memandang hal tersebut sebagai tantangan. Menurut Kohei, bisnis sebuah perusahaan tidak akan berkembang bila mereka terlalu paranoid mengenai masalah pembajakan. Ia menceritakan, Jepang 50 tahun yang lalu pun dikenal sebagai pembajak barang-barang Amerika, namun seiring perbaikan ekonomi, kini pembajakan menghilang meski tidak 100%. Ia pun yakin Indonesia akan seperti itu. Lalu untuk masalah cosplay, sikap perusahaan Jepang kini sepertinya mulai mendukung, meskipun tidak terlalu “nyaman” dari segi bisnis, selama itu dianggap sebagai hobi, tidak masalah.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.