BAGIKAN
Judul peta yang di rilis oleh FDTJ | Foto: Maulana Ichsan

reon

Pada Selasa (17/10), Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ) kembali merilis peta jaringan transportasi umum massal Jabodetabek. Peta ini tampil beda dari versi yang pernah FDTJ rilis sebelumnya. Jika sebelumnya hanya menampilkan rute bus Transjakarta dan Trans Kota Tangerang, peta yang dirilis oleh FDTJ kali ini menampilkan rute berbagai variasi transportasi umum massal yang ada di Jabodetabek. Rute transportasi umum massal yang dapat dilihat di peta tersebut yaitu Transjakarta, Bus Tingkat Wisata Jakarta, Trans Kota Tangerang, Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, KRL Bandara hingga layanan kereta pengumpan antar terminal (Skytrain) di Bandara Soekarno-Hatta (BSH).

Selain menambah variasi jenis transportasi umum massal,  FDTJ menambahkan beberapa visualisasi dan legenda peta yang memudahkan pembaca untuk membaca peta. Pada rute Transjakarta, untuk rute yang berada dalam koridor utama Bus Rapid Transit (BRT) memiliki garis rute yang lebih tebal daripada rute Transjakarta non-BRT. Informasi terkait rute bus Transjakarta yang beroperasi hanya di waktu tertentu juga tak luput dimasukkan ke dalam peta ini.

Tampilan peta terbaru yang dirilis FDTJ (klik untuk mengunduh dalam resolusi tinggi) | Sumber: Forum Diskusi Transportasi Jakarta

Baca Juga: Di Tengah Gelapnya Malam, Kami Mengikuti Relawan FDTJ Menyelamatkan Jakarta

Untuk rute transportasi massal berbasis rel, FDTJ menambahkan informasi rute KRL Commuter Line, KRL Bandara dan Skytrain di BSH. Rute KRL Commuter Line yang dicantumkan merupakan rute terkini, yaitu sebanyak 6 rute dengan penambahan Stasiun Bekasi Timur, Tambun, Cibitung hingga Cikarang. Untuk informasi kereta api (KA) jarak jauh, FDTJ hanya menampilkan arah tujuan KA sesuai dengan jalur yang dilalui dengan visualisasi hingga area terluar jaringan KRL Commuter Line. Selain itu, rute KRL Bandara yang menghubungkan Manggarai – BSH juga telah ditampilkan bersama dengan stasiun pemberhentiannya meskipun saat ini belum beroperasi. Layanan Skytrain di BSH yang menghubungkan antar terminal BSH juga ikut ditampilkan. Untuk rute Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT) belum dicantumkan pada peta ini.

Transportasi umum juga berkorelasi dengan integrasi antarmoda maupun berjalan kaki. Demi mendukung integrasi antarmoda serta mengajak masyarakat untuk berjalanan kaki, FDTJ juga tak lupa untuk menampilkan informasi tersebut. Pada peta terbaru ini, FDTJ menampilkan visualisasi titik integrasi antarmoda hingga informasi waktu tempuh berjalan kaki dari satu titik menuju titik yang lain. Contohnya, jika ingin ingin menuju Stasiun Sudirman dari Halte Dukuh Atas 2, pembaca akan diberikan informasi perkiraan waktu tempuh berjalan kaki sekitar 3 menit. Perhitungan ini dibuat berdasarkan kecepatan rata-rata manusia berjalan kaki.

Peta ini dibuat sesuai dengan visualisasi peta geografis Jabodetabek. Lokasi halte, stasiun maupun titik-titik lainnya berada di tempat yang tepat sesuai dengan kenyataannya. Misalnya, halte Tanjung Priok pada peta ini ditandai di tempat yang sesuai dengan keadaan geografisnya yaitu berada di Tanjung Priok.

Visualisasi peta yang menarik dan memudahkan pembaca untuk membaca peta | Foto: Maulana Ichsan

Penambahan beberapa titik area destinasi maupun tempat yang cukup dikenal masyarakat juga dilakukan. Beberapa contohnya yaitu Monumen Nasional, Kebun Binatang Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah bahkan pulau buatan di Teluk Jakarta juga tak luput ditampilkan. Area destinasi wisata tersebut diletakkan sesuai dengan posisi geografis kenyataannya. Selain itu juga menampilkan 2 bandara, yaitu BSH dan Bandara Halim Perdanakusuma.

Demi memudahkan pembaca mencari titik tujuannya, pada peta ini FDTJ membuat metode grid yang cara membacanya mirip seperti membaca titik astronomis pada peta dengan sumbu X-nya berupa angka dan sumbu Y-nya berupa huruf. Misalnya, jika ingin mencari halte Blok M yang berada di grid nomor D4, pembaca cukup mencari huruf D pada sumbu Y dan mempertemukannya dengan angka 4 pada sumbu X.

Angkutan pengumpan non-Transjakarta seperti KWK juga ditampilkan di peta ini. Lengkap dengan halte yang menjual tiket, nomor rute KWK hingga titik pertemuan rute KWK dengan halte Transjakarta.

Jika dihitung secara keseluruhan, terdapat 105 warna garis berbeda untuk rute bus, 8 warna garis berbeda untuk transportasi berbasis rel serta terdapat lebih dari 1000 pemberhentian yang ada di peta tersebut. Hal ini menunjukkan transportasi yang ada di Jabodetabek, khususnya di Jakarta sudah semakin besar dan kompleks. Dengan semakin kompleksnya rute transportasi umum Jabodetabek, tidak menutup kemungkinan terjadi kekeliruan informasi di peta tersebut. FDTJ sangat terbuka atas saran dan kritik pembaca atas peta yang mereka buat.

Rekan-rekan FDTJ dan KAORI bersama-sama menyambut peta rute terbaru dari FDTJ | Foto: Maulana Ichsan

FDTJ merupakan salah satu wadah diskusi sekaligus komunitas yang fokus dalam bidang transportasi. Selain menjadi sebuah perkumpulan masyarakat yang peduli akan transportasi, beberapa relawan FDTJ juga aktif dalam membuat informasi tentang rute perjalanan transportasi publik untuk masyarakat umum, khususnya di Jakarta.

Kegiatan yang dilakukan FDTJ sudah cukup masif. Mulai dari pemasangan informasi rute bus Transjakarta, signage informasi area tujuan di halte Transjakarta hingga pemasangan peta seluruh rute bus Transjakarta di halte. Signage dan peta seluruh rute Transjakarta tersebut dibuat oleh Tim Kartografi FDTJ. Tim Kartografi FDTJ sendiri terdiri dari 7 orang pemuda, yaitu Andriansyah Yasin, Fagra Hanif, Maulana Ichsan, M. Bagas R.W., Rheza Rivana, Muhammad Hafizh dan Fathiafif Mahasin.

Cemplus Newsline by KAORI