BAGIKAN
©2013 Chiyomaru Shikura/pako ©2016 J-Novel Club LLC

reon

Saya amat membenci cerita horor dalam bentuk apapun. Selain karena memang saya penakut, cerita-cerita seperti itu pikir saya merupakan hal yang tidak mendidik: mengajarkan orang untuk menjadi penakut. Namun, memang sebuah fakta bahwa penggemar genre ini amat banyak, hingga banyak cerita horor sudah tertuliskan hingga saat ini. Keinginan akan rasa takut inilah yang mungkin mendorong masyarakat dunia untuk tetap menciptakan dan menikmati kisah horor.

Meskipun demikian, kesempatan untuk membaca cerita yang bergenre horor itu rupanya datang juga. Salah seorang rekan di KAORI dengan baik hati meminjamkan sebuah novel ringan dalam bentuk e-book berjudul Occultic;Nine, karya pertama dari Chiyomaru Shikura dengan ilustrasi oleh pako. Novel ini diterbitkan di Jepang oleh Overlap Bunko, sementara terjemahan Bahasa Inggrisnya diterbitkan oleh J-Novel Club.

©2013 Chiyomaru Shikura/pako ©2016 J-Novel Club LLC

Mungkin sebagian dari Anda juga sudah mafhum dengan nama tersebut, sebab beliau memang lebih dikenal dengan karya-karyanya yang lain (yang juga menggunakan tanda petik koma): Steins; Gate, Chaos; Child dan Robotics; Notes. Posisi sebagai executive director di perusahaan pembuat game 5pb membuatnya menjadi amat dikenal oleh penggemar game-game sejenis. Namun perlu diingat, bahwa Occultic;Nine merupakan debutnya dalam menulis novel.

Yuta Gamon adalah seorang NEET (pengangguran) yang merangkap sebagai admin dari sebuah situs klenik Kirikiri Basara, di mana situs tersebut menyampaikan berita kejadian-kejadian paranormal di sekitarnya dengan tujuan agar dibantah habis-habisan oleh para pembacanya. Ia bekerja dengan Ryoka Narusawa, seorang gadis cantik namun kepribadiannya sedikit aneh, yang secara tidak langsung Gamon tunjuk menjadi koresponden dari situs yang ia jalankan.

Tokoh utamanya memang dapat dikatakan dua orang tadi. Namun, di novel ini setiap babnya menggunakan sudut pandang orang pertama dengan tokoh-tokoh yang berbeda, yang mereka semuanya pada awalnya tidak saling mengenal. Ada Aria Kurenaino dengan jasa mengutuk orang miliknya, ada Miyuu Aikawa si peramal-idol yang membuka jasa live streaming lewat situs Niconico, ada Toko Sumikaze yang merupakan penulis di sebuah majalah klenik, dan beberapa tokoh lainnya.

Di sinilah yang membuat novel ini menarik. Anda akan diajak untuk membaca berbagai macam cerita, dan secara tidak langsung Chiyomaru Sakura menyuruh Anda untuk menyusun sendiri seperti apa cerita yang sebenarnya ada di novel ini. Hasilnya, alih-alih saya ketakutan dengan berbagai macam cerita supranatural yang ada, malah saya menjadi semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di novel ini.

©2013 Chiyomaru Shikura/pako ©2016 J-Novel Club LLC

Awalnya masing-masing tokoh berjalan sendiri-sendiri. Namun seiring berjalannya cerita, tokoh-tokoh tersebut mulai membentuk koneksi satu sama lain, terhubung dengan cara yang tidak disangka-sangka. Kenikmatan membaca novel ini adalah, ketika Anda sebagai pembaca berhasil menyadari berbagai macam referensi yang tersebar di bab-bab novel ini, yang rupanya memiliki peran penting dalam membangun cerita.

Semakin jauh saya membaca, semakin saya sadar bahwa Occultic;Nine bukanlah tipikal novel horor yang membuat Anda ketakutan dengan berbagai macam adegan mengejutkan. Anda justru akan dibuat berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya, di bagian awal novel ini dipaparkan adegan di mana puluhan orang mati tenggelam dalam sebuah danau. Gambaran mengenai adegan tersebut secara samar disisipkan di bab-bab berikutnya yang ada di novel ini. Lalu kemudian mulai muncul indikasi adanya hubungan antara adegan di awal novel tersebut dengan tokoh-tokoh di novel ini. Ketika Anda mulai mengerti hubungan antar satu tokoh dengan tokoh lainnya, atau hubungan antar tokoh dengan suatu kejadian supranatural, maka di situlah anda akan merasakan efek terkejut yang mungkin bisa membuat anda tersenyum-senyum atau bahkan merinding.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana unsur supranatural ditampilkan di sini. Di satu sisi Yuta Gamon adalah seorang pemilik situs yang mencela keberadaan hal-hal klenik. Namun di sisi lain, beberapa tokoh menunjukkan bahwa mereka sendiri memiliki kemampuan supranatural di luar nalar manusia. Pertentangan ini seolah-olah membuat keberadaan klenik di dunia Occultic;Nine terkesan abu-abu: antara benar-benar ada atau hanyalah mitos belaka. Hal ini juga memunculkan rasa penasaran bagi pembaca untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana masalah di novel ini selesai, apakah secara sains atau secara klenik.

Terlepas dari itu, keberadaan unsur klenik di genre misteri itu sendiri bisa dianggap sedikit tabu. Ronald Knox, seorang penulis dari era Golden Age of Detective Fiction, pernah mengkodifikasikan aturan menulis cerita misteri yang salah satunya adalah “semua jenis hal supranatural harus dihilangkan”. Ini menarik mengingat intisari dari Occultic;Nine adalah unsur klenik itu sendiri. Yang saya tangkap dari perkataan Knox adalah penghilangan unsur-unsur supranatural itu disebabkan karena hal tersebut dapat menyebabkan hal yang tidak logis menjadi mungkin dalam suatu cerita, sehingga pembaca akan kehilangan kenikmatan untuk berpikir dalam membaca cerita tersebut.

©2013 Chiyomaru Shikura/pako ©2016 J-Novel Club LLC

Pertanyaannya, apakah hal tersebut terjadi di Occultic;Nine? Tentunya hal tersebut akan terjawab lebih jelas jika saya bisa tahu di mana sebenarnya posisi unsur klenik di novel ini, yang tentunya hanya bisa dilakukan dengan membaca volume selanjutnya. Tapi, saya berpikir bahwa apa yang dikhawatirkan Mbah Knox tidak akan terjadi di sini. Meskipun kemudian hal-hal klenik merupakan sesuatu yang benar-benar ada di cerita, hal itu tidak mengubah fakta bahwa novel ini dapat membangkitkan rasa penasaran pembaca. Permasalahan sudah dipaparkan di bagian awal novel, lengkap dengan data-data yang dibutuhkan untuk membangun cerita yang ada. Yang tersisa adalah bagaimana kemudian pembaca dapat merangkai data-data tersebut menjadi suatu cerita yang utuh. Terdengar sulit? Jika Anda suka genre misteri, justru ini hal yang menarik.

Saya sendiri, sebelum membaca Occultic;Nine hanya pernah menikmati satu karya dari penulis: anime Robotics;Note. Memang saya menikmati bagaimana bangunan misteri yang ditawarkan dengan latar Pulau Tanegashima -dan adanya robot Gunvarrel- itu, namun saya tidak menyangka bahwa sang penulis juga sukses membuat saya penasaran meskipun yang sedang saya baca adalah cerita horor. Saya bisa menikmati membaca novel ini meskipun hanya sempat menonton versi anime-nya sebanyak satu episode. Sebagian dari Anda mungkin tahu betapa cepatnya percakapan yang dilakukan tokoh-tokoh di anime itu. Itulah sebabnya saya hanya kuat menonton satu episode saja.

Intinya, meskipun Anda tidak suka dengan genre horor, Anda yang memiliki kesukaan dengan genre misteri murni juga bisa menikmati membaca novel ini. Karena membaca Occultic;Nine bukan hanya melihat kisah hidup seorang manusia, namun juga memikirkan bagaimana nasib tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Anda akan diajak untuk membaca sebuah puzzle, kepingan-kepingan  berserakan yang menuntut untuk disusun kembali seperti semula.

KAORI Newsline | Oleh M Razif Dwi Kurniawan