henry1
Henry Ismono dan koleksi komiknya. Untuk mengoleksi komik-komik ini, modalnya mulai dari keberuntungan, ketekunan mencari, dan kadang dana berjuta-juta rupiah demi menebus barang idaman.

Melawan lupa, agar generasi berikut – yang kini membuat komik dengan gaya manga – tidak melupakan akar dan jati dirinya.

Henry Ismono, sosok yang namanya masih asing di kalangan penggemar anime ini diam-diam memiliki sumbangsih besar bagi kemajuan perkembangan komik Indonesia. Beliaulah orang yang sejak kecil membaca banyak komik buatan para komikus lokal, merasakan berbagai zaman, dan menariknya terus memutakhirkan diri dengan komik Indonesia kini.

Hal terakhir menarik dan tentunya unik mengingat selama ini senior penggemar komik Indonesia agak setengah hati saat memandang komik bergaya manga.

Advertisement Inline

“Saya harus memaksakan diri, dari yang tadinya terbiasa dengan gambar realis, kini menghadapi gambar imajinasi ala manga,” saat beliau mulai mengoleksi komik-komik Indonesia dekade 2000-an. Hal yang menurutnya harus dan mau tidak mau dilakukan oleh generasi saat ini untuk bisa berkenalan dengan akar komik Indonesia.

Sebagai seorang kolektor sekaligus pengamat komik, kecintaannya akan komik telah dimulai sejak ia kecil. Ia jatuh hati dengan komik-komik wayang yang dipelopori oleh RA Kosasih.

“RA Kosasih mungkin bukan yang pertama, namun beliau-lah yang berjasa besar membangkitkan komik Indonesia pada saat itu. Pergerakan komik Indonesia era 1950-an sangat dinamis, tidak hanya di Bandung tempatnya memulai karya, namun menyebar ke Jakarta, Tasikmalaya, Surabaya, bahkan sampai Medan.”

manikkankeran
Ada yang lebih tua: kalau benar, inilah komik tertua di Indonesia yang masih bisa diselamatkan arsipnya.

Sejarah komik Indonesia sendiri berawal dari komik strip Put On yang diterbitkan di harian Tiongkok Sin Po pada tahun 1931. Menurut Boneff, komik pertama yang dibukukan adalah komik Sri Asih karangan RA Kosasih (1954), meski Henry memiliki bukti lain.

Komik Manik Kangkeran yang ia dapatkan, memiliki kata pengantar yang diklaim ditulis pada April 1953.

“Bisa jadi ada lagi komik-komik lain yang terbit pada masa itu, namun belum terangkat atau hilang.”

Euforia komik Indonesia berlanjut hingga tahun 1960-an dengan banyaknya komik-komik yang terbit di berbagai kota. Keragaman budaya lokal baik hikayat, legenda, diangkat menjadi komik meski komik-komik metropolis pun mulai muncul pula pada saat itu.

Gerakan pemerintah dan hebatnya kekuatan komunis saat itu menjadikan komik ikut masuk dalam pusaran politik. RA Kosasih membuat komik Empat Sekawan dan Lahirnya Pancasila, salah satu contoh “lisensi” karakter untuk mendukung propaganda (baca: promosi) pemerintah saat itu.

Komik impor bertema sosialis pun masuk dari RRT. Komik yang kebanyakan hilang atau dimusnahkan oleh pemerintah Orde Baru pada awal kekuasaannya ini nyaris luput dari ingatan orang.

komikvietnam
Komik Desa Strategis yang selamat dari pemusnahan Orde Baru.

Simak salah satu komik koleksi Henry berjudul Desa Strategis. Komik yang mengisahkan perang di Vietnam ini ditemukannya dalam kondisi sangat lapuk. Di sepanjang pinggirannya terdapat bekas api yang membakar. Saat disentuh, remah-remah dan debu langsung berbekas di tangan. Kemungkinan pemiliknya menarik komik ini saat api mulai membakar, entah karena alasan apa.

Selain relik-relik sejarah yang menarik (dan mungkin lebih baik diulas KAORI secara mendalam pada kesempatan lain), diskusi mengenai “mati suri komik Indonesia” dekade 1990-an lah yang menarik.

“Mati suri”nya komik Indonesia, menurut Henry, memiliki berbagai penyebab. Salah satunya, banyaknya alternatif hiburan yang masuk dan memang kebetulan banyak sekali konten Jepang yang masuk pada saat itu.

“Tidak mengherankan, orang waktu itu tahunya Candy Candy, ya pas komiknya masuk, komik itulah yang dibeli,” tuturnya.

Tetapi tidak lantas komik Indonesia berhenti bergerak sama sekali. Komunitas lokal bergerak di bawah tanah, menyambung nafasnya. Ada yang tetap memelihara gaya gambarnya sendiri seperti seorang Beng Rahardian dan Benny & Mice. Atau yang memilih menyamar, menyembunyikan diri sementara menunggu situasi kondusif seperti Tatsu Maki atau Shinju Arisa.

“Tetapi kini sudah banyak yang memakai gaya manga, lalu dikembangkan dengan latar yang Indonesia.” Misalnya seperti Is Yuniarto.

shinjuarisa
Salah satu komik karya Shinju Arisa. Mencoba menembus pasar di tengah gempuran dan selera pasar yang mengkehendaki gaya manga.

Banyaknya komik bergaya manga kini bukan menjadi masalah, sebab perdebatan apa itu komik Indonesia, menurut Henry, sudah setua komik Indonesia itu sendiri.

“Ada yang tidak setuju RA Kosasih dijadikan Bapak Komik Indonesia, karena ia meniru Wonder Woman.”

Namun diskusi klasik ini baginya bukan masalah, dan tidak apa-apa terus didiskusikan. Yang penting, “harus lebih banyak aksi daripada diskusi.”

Kehadiran majalah komik di Indonesia belakangan ini juga salah satu perkembangan yang menarik. Ia menyoroti keberanian re:ON yang bernyali menerbitkan majalah komik meski banyak majalah lain sebelumnya yang berusaha, lalu akhirnya tumbang.

Wook Wook baru sampai volume 4. Comical Magz tumbang setelah 18 edisi. Nampaknya ada perhitungan serta investor bisnis yang baik di balik re:ON.”

Kasus re:ON pun menarik karena pada volume awal isinya cenderung populis, namun pada volume-volume terbaru sudah ada cerita dengan tema yang agak “berat”.

Dan yang paling menarik, adalah penerimaan generasi muda khusunya pecinta jejepangan terhadap komik Indonesia. Bagaimana apresiasi mereka terhadap komik Indonesia? Akankah komik Indonesia mati dengan gempuran soft power yang begitu kuat saat ini?

Ia agak skeptis. “Nyatanya saat terbit komik Indonesia yang gambar dan ceritanya Jepang banget, sambutan mereka biasa-biasa saja bahkan cenderung kurang apresiatif.”

Pernyataan yang mungkin senada dengan realita saat ini, misalnya terhadap konser “artis” Jepang yang akan dihela di Indonesia dalam waktu dekat.

haceandersen
Ini bukan serial cantik. Dibuat tahun 1970-an, jangankan komik Jepang, komik asing saja sangat sulit didapatkan saat itu. Contoh dari mana, ya?

Di sisi lain, ada jawaban yang membahagiakan, “soal komik Indonesia, tidak perlu khawatir akan mati. Mau digempur unsur kapitalis seperti apapun, komik Indonesia akan tetap eksis dan survive dengan caranya sendiri.”

Minat generasi muda, di luar segelintir orang yang disebutkan sebelumnya, juga sangat besar. Saat tim KAORI datang ke rumah beliau, ada dua orang mahasiswa yang sedang asyik membolak-balik komik-komik lawas, sedang menyusun skripsi mengenai perkembangan gaya gambar komik Indonesia.

Apalagi, genre komik Indonesia saat ini sangat beragam, tidak seperti dahulu yang hanya mengeksploitasi satu tema saja pada satu masa. Saat ini mulai komik wayang, komik fantasi, komik kehidupan, semuanya ada. Tinggal ditingkatkan saja mutunya.

Ia pun berencana menerbitkan buku khusus mengenai sejarah perkomikan Indonesia, yang diharapkan bisa membuat generasi muda juga tahu siapa Hasmi dan Gundala, selain tahu Osamu Tezuka dan Astro Boy. Buku yang ditolak beberapa penerbit dengan alasan kurangnya peminat, namun bila benar-benar terbit, bisa membuka jalan akan literatur komik Indonesia, yang saat ini sangat minim jumlahnya.

Sungguh jawaban yang melegakan hati!

KAORI Newsline | oleh Rafly, Kevin, dan Dody | Anda bisa membaca lebih dalam sejarah dan perkembangan komik Indonesia dalam blog beliau, di http://henrykomik.com

1 KOMENTAR

  1. menurut pribadi saya. komik pertama bukan pada sebuah kertas tapi pada sebuah batu yang terterah pada candi borobudur yang mengisahkan lakon ramayana dan sesudah itu dilanjutkan dengan wayang beber. meskipun pada saat itu tidak terdapat kata-kata dialog maupun efek 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.