BAGIKAN
Mitsuko Minakawa bersama foto suaminya di apartemennya di Wonsan, in August 2016. Photo courtesy of Noriko Hayashi

Noriko Hayashi, seorang jurnalis foto kenamaan asal Jepang telah mengungkapkan nasib dari sejumlah kaum wanita Jepang yang sempat terlupakan. Mereka adalah para wanita-wanita yang mengikuti suaminya yang berkebangsaan Korea dalam program repatriasi ke Republik Rakyat Demokratik Korea, atau Korea Utara di tahun 1959 – 1984 lalu.

“Mereka telah menjalani hidup yang berbeda sejak datang ke Korea. Banyak dari mereka yang kehilangan kontak dengan keluarganya di Jepang, sementara beberapa masih bergulat dengan hati nurani mereka ketika mereka meninggalkan keluarga mereka di Jepang,” kata Noriko Hayashi.

“Kedua versi yang berbeda dalam hidup mereka sama-sama tak tergantikan, dan banyak dari mereka yang sudah tua. Kita tidak punya banyak waktu yang tersisa untuk mendengar apa yang mereka ingin katakan,” tambahnya.

Advertisement Inline

Hayashi berusaha untuk merekam kisah mereka dan memotret kehidupan mereka kini, yang nantiknya akan didokumentasikan dalam buku “Istri Jepang yang pindah ke Korea,” yang akan dirilis dalam rangka memperingati 60 tahun program repatriasi ke Korea.

Dalam program repatriasi tersebut, setidaknya 93000 orang Korea dan keluarganya, termasuk 1830 wanita Jepang yang menikah dengan mereka pindah ke Republik Rakyat Demokratik Korea. Hayashi, 35 tahun telah mengunjungi Republik Rakyat Demokratik Korea 11 kali selama tahun 2013 hingga 2018, dan telah bertemu dengan para istri Jepang ini.

Di antaranya adalah Mitsuko Minakawa, yang tinggal di kota Wonsan. Lahir di Tokyo pada tahun 1939, Minakawa tumbuh besar di Sapporo, dan bertemu dengan suaminya, Choe Hwa Jae pada tahun 1958, saat keduanya menuntut ilmu perikanan di Universitas Hokkaido. Choe dan Minakawa yang tengah mengandung meninggalkan Jepang melalui kota pelabuhan Niigata dan pindah Ke Republik Rakyat Demokratik Korea pada tahun 1960, meski hal itu ditentang oleh orang tua Minakawa. Mempelajari bahasa Korea dan membesarkan 4 anak, Minakawa yang juga berpendidikan di bidang perikanan turut membantu suaminya, seorang peneliti di institut penelitian perikanan. Awalnya Ia sempat mengira bisa pulang ke Jepang sekitar 3 tahun, dan bisa berpindah-pindah Korea-Jepang dengan bebas.

Kaum istri Jepang lainnya adalah Takiko Ide, lahir tahun 1927 di prefektur Miyazaki, dan saat berusia 15 atau 16 tahun mulai berhubungan dengan seorang pria Korea rekan kerjanya di kantor operator bus. Ia mengaku tidak tahu bahwa kekasihnya adalah seorang Korea sampai akhirnya mereka mulai hidup bersama. Ibu Ide tidak mengizinkan anaknya menikahi orang Korea, namun Ide sudah kadung cinta dengan sang kekasih. Di tahun 1961, tanpa sepengetahuan keluarganya Ide dan suami beserta anak mereka pindah ke Republik Rakyat Demokratik Korea. Hal ini sempat membuat ibu Ide shock hingga pingsan. Ide sendiri membesarkan keempat anaknya di Republik Rakyat Demokratik Korea. Sementara itu suaminya telah meninggal di tahun 1996.

Takiko Ide di apartemennya di Wonsan, pada tahun 2016. Photo courtesy of Noriko Hayashi

Setelah mempelajari pengalaman Minakawa dan Ide, Hayashi menyebutkan bahwa keduanya mencintai pria Korea di masa ketika orang Korea didiskriminasi di Jepang. Namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk mencintai kekasih masing-masing yang berkebangsaan Korea. Hayashi cukup bersimpati dan menaruh hormat kepada mereka.

Minakawa dan Ide butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya bisa mengunjungi kampung halamannya di Jepang, dalam “program kepulangan” untuk para istri Jepang, di mana setidaknya 43 orang kaum istri Jepang diizinkan untuk berkunjung ke Jepang selama tahun 1997, 1998, dan 2000.

Saat pulang kembali ke Jepang, Minakawa sempat mengunjungi makam ibunya, dan meminta maaf karena tak bisa bersama sang ibu di hari terakhirnya. Ayahnya sendiri sudah meninggal sebelum ia meninggalkan Sapporo dan pindah ke Republik Rakyat Demokratik Korea.

Sementara itu ibu Ide telah meninggal di usia 99 pada tahun 1998, 2 tahun sebelum kepulangan Ide ke Jepang. Ide yang tinggal di Wonsan sendiri juga telah meninggal pada tahun 2016, dalam usia 89 tahun, kurang dari sebulan setelah wawancara terakhirnya dengan Hayashi. Saat wawancara itu, Ide cukup membanggakan ketampanan suaminya.

Akan tetapi, Minakawa dan Ide cukup beruntung bisa berkunjung ke Jepang untuk sementara waktu. Akiko Ota yang tinggal di Hamhung telah lama melupakan keinginannya untuk berkunjung ke tanah kelahirannya.

Ota bertemu dengan pria Korea yang menjadi suaminya di tahun 1963, saat ia masih berumur 20 tahun, dan bekerja sebagai perawat. Ota yang berasal dari prefektur Ishikawa bergabung dengan suaminya dalam program repatriasi di tahun 1967, demi memberikan pendidikan yang lebih baik bagi anak mereka.

Ota, ibu dari 4 orang anak ini mengaku bahwa dirinya saat itu tidak tahu menahu mengenai Republik Raykat Demokratik Korea, termasuk bahasanya, dan ia juga tak punya uang. Ia hanya mengikuti suaminya. Ia sendiri sempat mendaftarkan diri dalam program kepulangan. Namun hubungan Jepang dan Republik Rakyat Demokratik Korea yang seringali simpang siur telah membuat program kepulangan ini belum pernah diselenggarakan kembali sejak tahun 2000. Ota sendiri juga sudah tidak lagi berpikir untuk kembali ke Jepang selama setengah abad terakhir, walau terkadang dirinya masih memikirkan Jepang.

Akiko Ota yang tengah melongok keluar dari mobil di bilangan Hamhung pada November 2018. Photo courtesy of Noriko Hayashi

Hayashi berharap baik pemerintah Jepang maupun Republik Rakyat Demokratik Korea bisa memenuhi aspirasi para istri Jepang ini, sekalipun kedua negara kerapkali terlibat perselisihan, terutama berkaitan dengan kasus penculikan warga Jepang oleh Republik Rakyat Demokratik Korea di era tahun 1970an. Di antara 9 istri Jepang yang telah diwawancarai oleh Hayashi, 3 di antaranya telah meninggal, dan entah berapa banyak kaum istri Jepang yang masih hidup. Hayashi bertekad untuk terus menemui para istri Jepang ini, dan menceritakan kisah mereka. Karena jika tak ada yang merekam kisah mereka, maka mereka akan terlupakan selama-lamanya.

Hayashi juga memotret kampung halaman para istri Jepang ini, baik itu kuil, taman, sungai, dan pohon sakura, untuk kemudian dipublikasi tahun depan, demi menceritakan, baik masa muda maupun hari tua para istri Jepang tersebut.

Hayashi sendiri sudah kerapkali memotret kehidupan para kaum-kaum marginal yang terlupakan dan bahkan tertindas seperti wanita Pakistan yang disiram air keras, hingga kaum Yazidi di Irak yang sempat dianiaya oleh komplotan teroris ISIS. Hayashi pernah memenangkan penghargaan Visa d’or Feature Award di Prancis pada tahun 2013, setelah dirinya mendokumentasikan kisah “kawin culik” di Kyrgystan, di mana pria setempat menyulik gadis muda untuk dipaksa menikah.

Buku laporan Hayashi akan para istri Jepang ini akan dipublikasikan oleh Iwanami Shoten pada 20 Juni 2019. Setidaknya 32 buah foto akan ditampilkan dalam buku tersebut.

KAORI Newsline | Diterjemahkan dari tulisan Keiji Hirano dalam KYODO NEWS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.